Love My Teacher

Love My Teacher
41


__ADS_3

"Ziara saya bisa jelasin-" Fathan mengehentikan ucapannya karena Ziara langsung mengangguk kepalanya. Ia bingung harus apa sekarang. "Kita ikut gabung sama mereka ya." Akhirnya ia memilih untuk mengajak Ziara masuk ke dalam Restoran.


Ziara kembali mengangguk kecil dengan senyuman tipis.


"Kamu jalan duluan," pinta Fathan ragu-ragu.


Ziara menggelengkan kepalanya kecil sebagai jawaban.


Fathan paham, lalu mengangkat tangannya untuk menyebrangi jalan. "Ayo," ajaknya kemudian Ziara segera mengikutinya dari belakang.


Saat di halaman restoran Fathan mengehentikan langkahnya, kemudian membalikkan badannya kehadapan Ziara. "Kamu masuk duluan, nanti takutnya kalau kita barengan masuk ke dalam yang lain mikir macam-macam," tuturnya yang lagi dan lagi hanya di angguki oleh Ziara. Hatinya bertanya-tanya mengapa Ziara tidak menjawabnya dengan suatu perkataan?


"Yaudah." Ia prustasi dan membiarkan Ziara bersikap seperti itu.


Ziara mengangguk lagi lalu tersenyum memamerkan gigi rapihnya sehingga membuat matanya menjadi sipit dan lesung pipit di sudut bibirnya nampak terlihat.


Fathan sampai tak berkedip melihatnya, terpesona akan senyuman manis Ziara. Kini ia memegang dadanya yang berdebar hebat.


'Akhirnya saya dapat melihat senyuman manis itu lagi.' Batinnya. Sebab, sudah lama Ziara tidak pernah senyuman selepas itu biasanya hanya senyum tanpa memamerkan giginya.


"Yaudah, sana," suruh Fathan dengan nada lembut. Sebenarnya ia bingung mengapa Ziara bersikap seperti ini setelah ia mengungkapkan perasaannya. Apa ini artinya Ziara tak mempersalahkan jika ia menyukainya? Ziara tidak takut padanya?


Lagi, Ziara hanya membalas dengan anggukan kecil.


Akhirnya Fathan ikut merespon anggukan saja dengan ibu jari tangannya dan jari telunjuknya membentuk huruf o. "Oke."


Ziara mengembangkan senyumannya. Kemudian, melambaikan tangannya pelan.


Fathan sedikit membuka matanya dengan sempurna. Hatinya terasa sangat senang mendapat senyuman dan lambaian tangan Ziara. Dengan cepat, ia pun segera membalasnya.

__ADS_1


Ziara masuk ke dalam meninggalkan Fathan yang tengah kegirangan.


Setelah memastikan Ziara masuk ke dalam, Fathan berjalan ke samping restoran dengan sedikit berlari kecil. Ia menghentikan langkahnya saat di tempat sepi, lalu menyenderkan punggungnya di tembok dengan posisi berdiri.


Ia mengusap wajahnya yang sudah memerah karena tersipu malu. "Argh gemesin banget."


Ia memejamkan matanya dengan posisi, sekuat tenaga ia menahan senyuman yang sedari tadi tak bisa berhenti. Tiba-tiba juga suasana terasa panas karena ia salah tingkah. Jangan di tanyakan lagi bagaimana perasaannya sekarang, tentu jawabannya ia sangat bahagia.


Fathan memukul tembok pelan saat ia tak berhasil menahan senyumnya. Argh! Di benaknya sekarang terus terbayang-bayang saat melihat Ziara yang tersenyum dan bersikap manis seperti itu.


Ia menggepal tangan kirinya kemudian menciumnya sembari menahan senyum. Ia mengetuk kepalanya karena dirinya tak bisa berhenti mengembangkan senyuman sedari tadi. Ziara terlalu menggemaskan baginya, ia di buat meleleh seperti ini.


"Ziara kenapa kamu bisa seimut itu." Ia menyembunyikan wajahnya yang tersipu malu dengan kedua telapak tangannya.


"Bos lagi apa?"


Deg!


Ia berdecak kesal saat melihat salah satu karyawannya dari jendela atas. "Buka pintu belakang," suruhnya lalu berjalan ke arah pintu belakang yang tak jauh dari posisinya sekarang.


"Baik."


Fathan langsung masuk saat pintu terbuka. "Gimana keadaan di dalam?" tanyanya sembari membuka kulkas untuk mengambil air minum. Kebetulan, posisinya sekarang berada di ruang bebas rokok jadi menyediakan kulkas dan sofa khusus untuk pengunjung laki-laki yang ingin merokok disini.


"Aman, Pak. Mereka antri dengan tenang, cuma yang masak agak keteteran."


Fathan duduk lalu memutar tutup botol air mineral dingin. "Saya sudah bilang ke kalian, hari ini saya akan ajak murid didik saya kesini," jawabnya sebelum meneguk airnya.


"Tapi kita gak nyangka sebanyak ini yang datang, Pak. Ini yakin gak akan rugi? Kalau semuanya makan dengan gratis, Bapak pasti rugi puluhan juta. Bahan makanan yang di sediakan di restoran ini kan terbaik, dan harganya bisa dikatakan cukup mahal."

__ADS_1


"Tidak masalah." Fathan meletakan botol yang tersisa setengah ke atas meja kemudian ia berdiri untuk melihat keadaan di dalam seperti apa. "Saya ke depan dulu, kamu atur semuanya," tambahnya langsung di angguki oleh karyawannya.


_____


"ZIA!" teriak Shasa heboh saat melihat Ziara baru saja datang. "Cepet ikut aku." Ia menarik Ziara untuk mengambil piring.


"Ambil." Shasa menyuruh Ziara memegang piring yang ia berikan.


Ziara menerimanya. "Aku gak laper, Sha."


"Makanan disini enak-enak banget, kamu wajib cicipin semuanya," tutur Shasa serakah sambil mengambil satu-satu kue yang sudah tertata rapih di meja hidangan. "Nih coba." Ia menyuapi kue agar Ziara mencobanya.


Ziara membuka mulutnya. "Bismillah." Kemudian, menerima suapan Ziara.


"Enak kan?"


Ziara mengangguk setuju.


"Udah, kamu ambil aja makanan yang kamu mau. Tuh kalau kamu mau makan nasi, antri di sana. Beuh lauk-pauknya mewah-mewah, enak-enak banget lagi." Shasa menunjukkan ke arah siswi yang tengah mengantri seperti orang yang sedang antri prasmanan.


"Aku udah sarapan, mau ambil kue ini aja udah. Kita duduk yuk, kaki aku pegel banget," jawab Ziara setelah mengambil beberapa kue lalu di taruh di piring yang ia pegang.


"Yaudah ayo."


Mereka berdua mencari tempat duduk yang kosong. "Itu di depan ada meja kosong duduk disitu aja," tunjuk Shasa pada meja kosong tepat berhadapan dengan panggung kecil band di dalam restoran tersebut.


"Jangan, Sha. Malu tau." Ziara tak berani jika duduk disana karena terlalu dekat dengan para anggota band yang sedang bernyanyi.


"Gak papa kali, itu lebih seru bisa sambil dengerin musik."

__ADS_1


"Yaudah." Akhirnya Ziara memutuskan untuk menyetujui usulan Shasa.


Next 💓 or stop 😜


__ADS_2