
Fathan terdiam mencerna ucapan abinya barusan.
"Kamu masih ingat dengan ucapan kamu setelah lulus Sma?" tanya uminya yaitu bernama Zulfa.
Fathan mengalihkan pandangannya dari Kurniawan pada Zulfa. "Ucapan? Ucapan apa?" tanyanya bingung sembari mencoba mengingat-ingat.
"Setelah lulus S1, kamu akan kembali ke pesantren."
Fathan langsung teringat kalimat yang pernah ia ucapkan dulu. "Iyah, Fathan ingat."
"Lalu apa rencana mu sekarang?"
Fathan kebingungan saat di tanya oleh Zulfa. Ia pun belum memikirkan soal itu lagi karena sibuk kuliah dan mengajar.
"Abi juga sudah mengatur semuanya, kamu akan Abi masukan pesantren sambil melanjutkan S2 kamu di pesantren mahasiswa di Malang."
Deg!
Fathan terlonjak kaget. Hah! Tidak mungkin ia harus pergi. "Enggak, Bi. Kalau Fathan kuliah disana, gak ada jaminan, gimana kalau Ziara nikah sama cowok lain."
"Abi dan Umi pastikan Ziara tidak akan menikah dengan laki-laki selain kamu, kecuali Ziara memang sudah mencintai lelaki lain."
"Sayang." Zulfa menyentuh bahu Fathan dengan lembut. "Jangan takut, jika kamu dan Ziara berjodoh. Insyaallah, berapa lama dan berapa jauh kalian berpisah. Jika di takdirkan untuk bersama, yakin. Kalian akan bersama," pesannya dengan lembut.
Zulfa memiliki sifat yang lemah lembut, maka tak heran jika Fathan menjadi anak yang penyayang, baik dan ramah. Zulfa selalu mengajarkan Fathan agar selalu menghargai semua orang, jangan pernah merasa tinggi dan memandang orang rendah. Karena, harta yang mereka miliki hanyalah titipan.
Fathan luluh mendengar nasihat ibunya barusan. Hatinya tersentuh, dan tak mungkin mampu untuk menolak permintaan kedua orang tuanya. Ia bukan tipe anak yang pembangkang, dari kecil sampai sekarang ia selalu menjadi anak penurut dan baik.
__ADS_1
Walaupun berat, namun ini jalan yang terbaik untuknya. "Lalu bagaimana dengan perkerjaan Fathan, Bi?" tanyanya karena jika ia pergi bagaimana dengan profesinya yang menjadi guru dan siapa yang mengurus bisnis kulinernya.
"Soal itu kamu jangan khawatir, Abi akan mengatur semuanya. Intinya, kamu belajar disana dengan bersungguh-sungguh."
"Sebenarnya ini sulit untuk Fathan, Bi."
"Abi paham, namun Abi tidak ingin kamu menikahi gadis yang usianya masih sangat muda."
"Banyak gadis yang lebih muda dari Ziara yang menikah, Bi."
Kurniawan mengangguk paham. "Menikahlah dengan Ziara setelah kamu lulus S2."
"Benar, kamu harus belajar dengan giat. Agar kamu lulus dengan waktu dua tahun," seru Zulfa setuju dengan suaminya.
Fathan menunduk, hatinya sangat merasa sedih. Apa ia akan sanggup tidak bertemu dengan Ziara selama itu? Entah, padahal ia sudah memiliki rencana saat Ziara lulus sekolah. Ia akan segera melamarnya, tetapi ia tak bisa menentang kedua orang tuanya.
"Alhamdulillah, Abi senang mendengarnya."
"Umi sangat bangga memiliki putra seperti kamu."
Fathan tersenyum. "Fathan juga bersyukur memiliki kedua orang tua seperti Abi dan Umi."
Zulfa memeluk tubuh Fathan dengan lembut. Ia mengusap kepala putranya dengan penuh kasih sayang.
Beberapa menit kemudian, mereka melepaskan pelukannya.
"Sudah malam, ayo kita tidur," ajak Zulfa.
__ADS_1
"Iya, Mi."
"Ya sudah, Umi sama Abi duluan."
"Iya, selamat malam Abi, Umi."
"Selamat malam," jawab Zulfa dan Kurniawan bersamaan lalu mereka segera berlari kemudian berjalan menuju kamar.
Fathan tak ikut beranjak ke kamar, ia memilih untuk menyenderkan punggungnya ke Sofa. Ia menatap lurus dengan tatapan kosong, entah apa yang harus ia lakukan sekarang.
"Audrey." Ia baru teringat jika Audrey berada di rumahnya. Dengan cepat, Fathan segera menegakkan badannya kemudian berdiri untuk menemui Audrey yang berada di kamar tamu.
Fathan menuruni anak tangga. Kemudian, mengetuk pintu berwarna cokelat.
Tok tok!
"Iya bentar!"
Terdengar teriakan Audrey terdengar dari dalam kamar.
Cklek.
"Astagfirullah." Fathan langsung beristighfar saat melihat Audrey yang tengah memakai masker wajah berwarna hitam dengan rambut yang tergelung berantakan.
"KYAAA! FATHAN!" teriak Audrey histeris. Ia sangat merindukan sepupu tampannya ini
Bersambung
__ADS_1