Love My Teacher

Love My Teacher
49


__ADS_3

"KYAAA! FATHAN!" teriak Audrey histeris. Ia sangat merindukan sepupu tampannya ini.


Fathan langsung menghindar saat Audrey hendak memeluknya. "Jangan sentuh saya," tegasnya dengan nada dingin.


"Cih!" Audrey memutar bola matanya dengan malas.


"Sejak kapan kamu ada disini?" tanya Fathan penasaran, sebab Audrey mengetahui saat ia bersama Ziara pada hari ulang tahunnya.


"Dua minggu yang lalu, kenapa?" jawab Audrey jujur.


"Selama dua minggu kamu tinggal dimana?"


"Di rumah Mahya. Fathan kamu kenapa sih! Lebih milik murid kamu sendiri dari pada sahabat aku? Kurang apa coba Mahya, udah cantik, solehah, cocok sama kamu," cerocos Audrey marah karena Fathan dari dulu selalu menolak sahabatnya yang sengaja ia jodohkan dengan Fathan.


"Saya tau Mahya cantik, tapi saya tidak mencintainya."


Audrey tertawa heran. "Mahya kalau di bandingkan dengan murid didikan mu itu yang namanya Ziara, jauh beda. Cantik ya jelas lebih cantikan Mahya," tuturnya. Ia heran, apa yang Fathan sukai dari Ziara.


"Berhenti membandingkan Ziara dengan sahabatmu. Saya mencintai siapa pun, itu bukan urusanmu Audrey!" tegas Fathan menahan marah.


"Hello, Fathan. Aku begini karena peduli sama kamu, aku mau kamu punya istri yang baik."


"Jika peduli mu sampai kamu mencampuri urusan pribadi saya, lebih baik kamu berhenti peduli pada saya."

__ADS_1


"Fa-"


"Saya hanya mencintai Ziara! Saya tidak peduli, jika menurutmu Ziara tidak sempurna seperti sahabatmu. Bagi saya Ziara adalah gadis yang sempurna," potong Fathan dengan tatapan tajam. Sebenarnya ia sudah sangat marah, namun ia tipe orang yang marah selalu di pendam dan akan mengeluarkan amarahnya saat ia sendirian.


"Jika saya tau kamu mencoba menganggu Ziara, dan terus memaksa saya agar mencintai sahabatmu. Saya pastikan kamu tidak akan pernah bertemu dengan saya lagi," peringatnya lalu meninggalkan Audrey yang mematung karena kalah telak.


****


"Alhamdulillah akhirnya kita lulus juga," ungkap Ziara bersyukur sembari berjalan keluar dari gerbang sekolah bersama Shasa.


Acara perpisahan baru saja selesai, dan sekarang murid dan para anggota tamu undangan sudah mulai berhamburan untuk pulang termasuk Ziara dan Shasa.


Ibu Ziara dan adiknya tadi pagi sempat menghadiri acara ini, namun tidak lama dan sudah pulang ke rumah. Sedangkan Shasa memang keluarganya tak datang kemari karena tengah berada di kampung halaman rumah neneknya.


Ziara tersenyum hambar. "Aku doain, semoga kuliah kamu lancar ya, Sha." Walaupun ia tak seberuntung Shasa yang bisa berkuliah, namun Ziara ikut bersyukur dan akan selalu mendoakan Shasa berkuliah dengan lancar.


"Aamiin, makasih ya, Zia!" jawab Shasa terharu lalu memeluk Ziara dengan erat. "Ya Allah makasih telah memberikan sahabat sebaik, Ziara," lanjutnya belum melepaskan pelukannya.


Ziara tertawa kecil lalu membalas pelukan Shasa. "Aku juga bersyukur banget, punya sahabat tengil kaya Shasa," candanya membuat Shasa merajuk.


Shasa melepaskan pelukannya. "Ih! Tengil apaan, aku enggak tengil ya Zia!" tegasnya tak terima mendapat ejekan kata tengil.


Ziara tak bisa menghentikan tawanya saat melihat Shasa yang kesal padanya. "Iya-iya maaf ya Shasa cantik."

__ADS_1


"KYAA!" teriak Shasa salah tingkah sembari memukul bahu Ziara karena mendapat pujian cantik dari Ziara. "Bisa aja kamu, Zi." Wajahnya merah muda karena tersipu malu.


Ziara semakin tertawa kencang melihat Shasa salah tingkah sampai kegirangan seperti itu. "Sakit juga pukulan kamu, Sha," serunya sembari mengelus bekas pukulan Shasa.


"Ya maaf."


"Ini angkot mana ya kok gak dateng-dateng." Ziara baru tersadar bahwa mereka terlalu asik mengobrol sampai tak sadar mereka berdua tengah menunggu angkot.


"Iya nih, mana panas banget lagi."


"Yaudah duduk dulu." Ziara mengajak Shasa untuk duduk di kursi halte yang tak jauh dari gerbang sekolah.


Mereka duduk di kursi halte yang ramai oleh murid Sma 1 Lamiar yang tengah menunggu kendaraan umum juga. Walaupun ramai, mereka tidak duduk di kursi dan memilih untuk tetap berdiri.


"Kok pada berdiri sih?" tanya Shasa heran mengapa mereka tidak duduk saja selama menunggu kendaraan umum lewat.


"Karena gak mau duduk," balas Ziara.


"Yeee, kalau gitu mah aku juga tau Zi."


Ziara hanya tersenyum.


"Eh, kalian tau gak. Ternyata pak Fathan bukan cuti ngajar tau, tapi katanya ngelanjutin kuliahnya ke luar kota."

__ADS_1


BAGAIMANA PART KALI INI?💘


__ADS_2