Love My Teacher

Love My Teacher
36


__ADS_3

'Ziara, kamu tenang. Gak boleh gini.'


"Zia."


Deg!


Ziara terserentak kaget karena tiba-tiba Shasa menepuk pundak. Ia melirik ke sekelilingnya, ternyata kejadian barusan hanyalah hanyalannya saja. Semua berjalan dengan baik, tidak ada kejadian Beby menyatakan cinta pada Fathan.


Mereka semua nampak terlihat happy-happy saja disana yang sedang mempersiapkan beberapa kue ulang tahun yang di letakan sejajar di atas meja.


"Zia kamu ngelamun?" tanya Shasa karena memang sedari tadi Ziara saat di ajak bicara tidak menjawab.


"Ah! Enggak." Ziara menggelengkan kepalanya, tidak mau menceritakan hayalannya tadi. Namun, entah mengapa ia sangat sulit membedakan antara dunia nyata dan hayalannya barusan seakan terjadi nyata karena sekarang hatinya terasa sedikit sesak.


Saat ia menyentuh bagian kelopak matanya pun ternyata sedikit basah. Benar-benar terasa nyata, apa mungkin ini semua karena Ziara merasa sangat ketakutan jika Fathan sampai menerima cinta Beby?


"Hari ini kamu aneh tau, aku dari tadi ngomong panjang lebar sama kamu tapi kamu cuma diem aja." Shasa masih tak habis pikir, Ziara tidak seperti biasanya.


"Semalem aku kurang tidur, jadi kurang fokus." Yah benar, Ziara baru teringat semalam ia tidur terlalu malam karena tidak bisa tidur mungkin itu yang membuatnya menghayal sampai terasa nyata seperti itu.


"Pak! Katanya Beby mau nembak Bapak!"


"Huu!"


Fathan menoleh ke arah siswi yang berteriak. Kemudian, ia menatap ke arah Beby yang berdiri sambil memegang buket. Ia tersenyum tipis melihatnya. "Yakin kamu mau nembak saya?" candanya pada Beby.


Beby menjadi malu mendapat candaan dari Fathan. "Enggak, Pak. Boong, gak mungkin saya berani nembak Bapak," elaknya sangat malu. Teman-temannya begitu menyebalkan karena sengaja ingin mempermalukannya di hadapan Fathan.


Ia memang berniat untuk menyatakan perasaannya pada Fathan namun tidak di hadapan semua orang juga, lagi pula ia tak berharap bisa berpacaran dengan Fathan. Sebab, keluarganya sangat menentang keras jika sampai tau ia berpacaran.


Fathan tertawa kecil. "Siapa tadi yang bilang Beby mau nembak saya?" tanyanya mencari siswi yang berteriak tadi.


"Tuh Jeha Pak!"


"Mampus lu!"


"Huu!"


"Apa sih cuma becanda!"


"Jeha, kamu benar-benar yah. Jangan seperti itu, tidak boleh yah," peringat Fathan dengan nada becanda.


"Iya, Pak. Iya!"


Fathan dari dulu selalu menegaskan pada para siswi. Ia tidak suka jika sampai ada siswi yang berani menyatakan cinta kepadanya secara terang-terangan, jika sampai para siswi menentang ia akan sangat marah.


Karena percuma, Fathan tidak akan menerima cinta wanita mana pun. Walaupun gadis tersebut cantik dan terlihat sempurna. Intinya ia tidak akan menerimanya! Tidak akan!


Kecuali Ziara, ihiwww...


Tidak, Fathan adalah tipe lelaki yang lebih suka memperjuangkan wanita dari pada di perjuangan wanita.


"Saya kayanya harus mengatakan ini semua, agar kalian tidak berlebihan. Jujur banyak siswi yang menyatakan cinta pada saya lewat pesan, namun saya sangat menghargai perasaan kalian. Tetapi, besar harapan saya, mohon untuk kalian berhenti seperti itu."


"Memang tidak ada salahnya wanita mengatakan cinta terlebih dahulu, namun lebih baiknya kalian jangan melakukan itu. Biarkan saja lelaki yang duluan memperjuangkan kalian, kalian semua adalah wanita yang berhak di pejuangnya cintanya."


Fathan menarik nafas dalam bersiap untuk mengucapkan kalimat yang mungkin akan membuat banyak siswi patah hati dan salah paham. "Saya sudah mencintai seorang gadis."


Serempak mereka semua terkejut dan tercekat mendengarnya. Sakit sekali rasanya, menerima ini semua. Mereka tidak siap jika harus mendengar Fathan menikah dengan gadis lain, mereka masih sangat berharap Fathan belum mencintai gadis mana pun.

__ADS_1


Nyess...


Termasuk Ziara, hatinya terasa perih. Ia kecewa dan seakan tak terima. Dari awal seharusnya Ziara sudah siap mendengar ini semua, karena telah melihat pesan di ponsel Fathan bahwa Fathan telah menyukai salah satu siswi.


Namun sebenarnya siapa gadis yang Fathan sukai? Bolehkan Ziara berharap jika siswi tersebut adalah dirinya?


Ah! Hanyalannya seakan menjadi kenyataan namun tak sampai membuatnya ingin menangis.


"Hari patah hati."


"Kyaaa!"


"Hancur sudah harapan gue."


"Nyesek banget oy!"


"Berasa nyut-nyutan ey!"


"Whuaaa! Pengen nangis!"


"Siapa gadis tersebut, Pak!?"


Fathan sedikit mengangkat sudah bibirnya, lalu matanya berkeliling melihat semua siswi satu-satu. Ia dapat memaklumi ini semua, mereka terlihat begitu kecewa. Tetapi, ia tak adalah pilihan lain selain ini. Ini sudah waktunya untuk mengatakan pada mereka semua, agar berhenti berlebihan.


"Bapak bentar lagi nikah ya?"


"Hwaaa! Jangan nikah, Pak!"


"Bapak! Gak siap kalau harus kondangan ke pernikahan Bapak!"


"HWAAA!"


Beberapa siswi begitu lebay menanggapinya sampai ada yang berekspresi akan menangis.


"KYAAAA BAPAK!"


"YANG BENER AJA BAPAK MINTA DOA KE KITA!"


"Sakit hati banget saya, Pak."


"Pak, nikah sama saya aja bisa gak sih."


"Huu!"


"Diem-diem!"


Mereka sangat kesal, mengapa Fathan begitu jahat pada mereka semua. Mereka belum siap, jika harus melihat Fathan memiliki kekasih.


"Sudah-sudah, ini kan hari ulang tahun saya. Saya ingin kita happy bareng-bareng, jadi sebagai ucapan terima kasih saya. Saya akan traktir kalian makan sepuasnya di resto Atharic," lerai Fathan dengan gembira. Ia tak ingin melihat siswi terus bersedih seperti ini.


Siswi yang tadinya murung langsung sumringah.


"Beneran, Pak?" Mereka masih tak percaya jika Fathan akan mentraktir mereka semua di restoran yang mewah.


Fathan mengangguk mengiyakan. "Seriusan, dong. Masa saya bohong."


"Emang gak kemahalan, Pak?"


Fathan menggelengkan kepalanya. "Gak papa, kan gak tiap hari."

__ADS_1


"KYAAAA!"


Seketika dalam sekejap siswi langsung heboh dan bersorak-sorai.


"Pak, sebelum mulai traktirnya gimana kalau kita potong kue dulu?" usul Eren yang kebetulan berdiri di depan kue ulang tahun yang berada di atas meja.


"Ide bagus." Fathan setuju, ia segera mendekati meja tersebut.


"Sebelum potong kue, nyanyi dulu kali ya Pak."


"Iya bener tuh."


"Tapi jangan nyanyi selamat ulang tahun dong, kaya anak kecil."


Fathan terkekeh kecil. "Iya, ayo boleh."


Para siswi mulai berdesakan kembali mengerumuni Fathan, itu membuat Fathan sedikit kesulitan melihat keberadaan Ziara.


"Semuanya tenang dulu, jangan berdesakan. Berdiri yang rapih yah, kita buat lingkaran bulat besar saja, biar keliatan rapih," tutur Fathan yang langsung di mengerti oleh semua siswi.


Fathan senang ketika dapat melihat keberadaan Ziara lagi yang berdiri di hadapannya walaupun jaraknya lumayan jauh. Posisinya sekarang berada di ujung dan di kelilingi oleh siswi-siswi, jadi tidak ada siswi yang berdiri di belakangnya.


"Eh ayo puter lagunya!"


"Huu!"


Mulai terdengar intro musik yang mereka putar berjudul selamat ulang tahun - Jamrud.


"Kita nyanyi bareng-bareng ya," ujar Fathan sambil berdiri saat masih intro musik.


"Iya, Pak!" Siswi menjawabnya dengan serempak.


"Hari ini, hari yang kau tunggu." Semua bernyanyi dengan serempak, sontak membuat hati Fathan terharu. Bola matanya berkaca-kaca melihat mereka semua yang begitu kompak dan tulus menyanyikan lagu ulang tahun untuknya.


"Bertambah satu tahun, usiamu, bahagialah kamu."


"Yang kuberi, bukan jam dan cincin.


Bukan seikat bunga, atau puisi, juga kalung hati."


"Maaf, bukannya pelit. Atau nggak mau, ngemodal dikit."


"Yang ingin aku, beri padamu doa s'tulus hati." Saat menyanyikan lirik ini, Fathan menatap kearah Ziara yang ternyata tengah memandanginya dari jauh. Ziara tersenyum dari sana, dan ia segera membalas senyumannya.


"S'moga Tuhan melindungi kamu.


Serta tercapai semua angan dan cita-citamu."


"Mudah-mudahan dib'ri umur panjang.


Sehat selama-lamanya."


"S'moga Tuhan melindungi kamu.


Serta tercapai semua angan dan cita-citamu."


"Mudah-mudahan dib'ri umur panjang.


Sehat selama-lamanya."

__ADS_1


next ๐Ÿ’๐Ÿ’ž


stop ๐Ÿคจ


__ADS_2