
"Hah? Dua permintaan?" ujarnya kaget. "Satu permintaan sudah cukup bagi saya Ziara, saya hanya ingin kamu." Fathan mengembangkan senyumannya, argh! Ia tak menyangka bisa mendapatkan kado seperti ini. Hatinya sangat senang dan tak sabar untuk bertemu Ziara.
Ia naik ke atas kasur dengan perasaan berbunga-bunga. Kemudian, ia merebahkan tubuhnya dengan pandangan yang menatap ke langit-langit kamarnya. Ia mengulum senyuman sambil memikirkan apa yang akan ia minta dari Ziara. "Ini kesempatan bagus, nanti saya bilang aja kalau saya ingin Ziara menjadi istri saya." Fathan malu sendiri saat berkata seperti itu. Arghh! Ia benar-benar bahagia sekarang.
Tak kuasa menahan senyuman, Fathan pun membalikkan badannya menjadi tengkurap, menyenggelamkan wajahnya pada bantal karana wajahnya sudah memerah karena saking tak bisa menahan rasa bahagianya. Ia menjadi salah tingkah sendiri seperti orang yang pertama jatuh cinta.
"Arghh!" teriaknya sambil memukul-mukul kasur dengan hati yang sudah tak karuan. Perutnya terasa geli di gelitiki ribuan benih-benih bunga cinta yang
bermekaran disana.
Beberapa menit kemudian, setelah puas salah tingkah sendiri. Fathan merubah posisinya kembali menjadi terentang, dengan pandangan menatap ke langit-langit lagi. "Ehem! Apa besok saya ke rumah Ziara aja?" tanyanya pada diri sendiri karena sudah tak sabar untuk menagih permintaannya pada Ziara.
"Eh tapi jangan, tar Ziara tambah curiga lagi kalau saya suka sama dia. Apa saya chat dulu aja ya?" usulnya ragu-ragu.
"Tapi gak papa, biarkan saja Ziara tau perasaan saya yang sebenarnya. Lagi pula minggu depan saja Ziara sudah mulai ujian dan bentar lagi lulus kan?"
"Gimana ya perasaan Ziara saat tau kalau saya suka sama dia?"
"Apa Ziara akan senang atau sebaliknya?"
"Pokoknya saya harus buat Ziara jatuh cinta juga sama saya."
"Ziara, aku sangat mencintaimu."
Fathan kembali tersipu malu, rasanya ia ingin jingkrak-jingkrak sekarang juga. Namun, ia malu untuk melakukannya karena sudah dewasa. Ia memilih untuk memeluk bantal gulingnya, kemudian memejamkan matanya dengan senyuman yang masih terukir di bibir manisnya.
"Selamat malam, Ziara," ucapnya pelan tanpa membuka matanya.
******
Tring!
Pandangan Ziara langsung teralihkan dari buku tulisnya saat melihat layar ponselnya menyala karena pesan masuk dari Fathan. Ia yang sedang belajar segera mengambil ponselnya lalu membuka pesan masuk tersebut.
Pak Fathan mengirimkan sebuah foto.
Ziara menyerengitkan keningnya. "Pak Fathan kirim foto apa?" tanyanya bingung.
Tak berfikir panjang ia pun segera mengunduh foto tersebut.
Pak Fathan.
Permintaan pertama, temui saya di Resto Atharic.
__ADS_1
Belum juga unduhan selesai, Fathan kembali mengirimkan pesan teks padanya.
Akhirnya unduhan selesai, Ziara dapat melihat foto tersebut dengan jelas. Ternyata Fathan mengirimkan sebuah foto isi kertas tulisan 2 permintaan darinya.
"Duh, apa pak Fathan minta di traktir makan di restoran? Di sana kan makanannya mahal-mahal." Ziara resah jika benar Fathan meminta traktiran di restoran tersebut. Ia menyesal memberikan kado permintaan untuk Fathan jika tau akan seperti ini.
Jari jemari Ziara mulai mengetik di layar ponselnya untuk membalas pesan Fathan.
Ziara.
Boleh di ganti tempatnya gak, Pak?
Jangan di restoran, Pak. Saya takut gak bisa bayar.🙏
Pak Fathan.
Tidak mau, saya pengennya disana.
TITIK! GAK PAKAI KOMA!
Ziara berdesis kesal. Bagaimana sekarang? Terpaksa ia harus memecahkan celengan ayamnya yang sebenarnya ia kumpulkan untuk membayar uang perpisahan nanti.
Ziara.
Pak Fathan.
Abis isya.
Ziara.
Oke, Pak.
Pak Fathan.
Saya jemput kamu.
Ziara.
Tidak usah, Pak.
JANGAN!
Huh! Apa kata tetangganya jika sampai ketahuan di jemput oleh seorang lelaki membawa mobil. Pasti, berita tersebut akan menjadi bahan gibahan para tetangganya.
__ADS_1
Pak Fathan.
Saya maksa.
Ziara.
Kalau begitu, saya anggap permintaan kedua Bapak.
Benar bukan? Jadi Fathan memiliki dua permintaan, minta traktir makan dan minta untuk Ziara mau di jemput olehnya.
Pak Fathan.
Oke, saya gak akan jemput kamu.
Ziara.
👍
Ziara berdengus lalu melempar ponselnya ke tengah kasur karena takut tak fokus jika ponselnya ia taruh di atas meja belajarnya. Ia harus fokus belajar untuk mempersiapkan ujian.
______
Ziara memperhatikan wajahnya dari pantulan kaca di meja riasnya. Sudah 2 menit lamanya ia di posisi yang sama. Kini perasaannya tak karuan dan gugup karena akan bertemu dengan Fathan setelah beberapa hari tak bertemu, sebab sejak kejadian Fathan mengatakan cinta padanya. Ia tak pernah melihat Fathan di sekolah karena di sekolah bebas tidak ada kegiatan belajar mengajar, ini hal biasa jika akan menghadapi ujian di sekolahnya. Biasanya anak murid di suruh untuk fokus belajar di rumah.
Jujur Ziara belum mengerti perasaannya terhadap Fathan. Walaupun jika benar Fathan mencintainya, belum tentu juga Fathan serius dengannya. Lagi pula, Ziara tak ingin berpacaran dan akan lebih memilih untuk memendam perasaannya.
Ini belum saatnya ia memikirkan soal percintaan, ia harus lebih fokus terhadap ujian hari senin nanti. Semoga hasil ujiannya mendapat nilai bagus walaupun tidak mendapat nilai tertinggi di kelas.
"Kok deg-degan banget sih," ungkapnya lalu menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya dengan panjang. Kemudian, ia segera keluar kamar.
Di ruang tamu kedua adiknya dan ibunya tengah asik menonton Tv. Mereka terlihat biasa saja melihatnya sudah rapih seperti ini karena tadi siang memang ia telah meminta izin pada ibunya terlebih dahulu.
"Zia pergi dulu ya, Mah."
"Hati-hati yah, jangan malem-malem pulangnya." Zula khawatir karena Ziara belum pernah berpergian sendiri di malam hari.
"Iya, Mah," jawab Ziara sembari mengambil helm berwarna pinknya di dalam lemari kaca.
"Cie mau malem mingguan, ihiw!" goda Lulu kegirangan karena tau Ziara akan pergi bertemu Fathan. "Ikut dong," tambahnya terus menggoda kakaknya.
next or stop
cerita ini mau ku tamatin aja soalnya sepi
__ADS_1