Love My Teacher

Love My Teacher
29


__ADS_3

"Bang! Udah kelar nih!" teriak Bani memecahkan suasana menegangkan ini.


Fathan tak membuang kesempatan, ia segera berdiri karena bingung harus menjelaskan apa pada Ziara. "Saya harus pergi."


Ziara berdiri lalu mengangguk paham. "Iya, Pak. Hati-hati di jalan," balasnya sambil tersenyum tipis.


Fathan membalas senyuman. "Ya sudah, saya pergi dulu." Ia segera berjalan ke arah bengkel dengan ekspresi kesal karena memang ia begitu ceroboh, seharusnya ia tidak langsung menjawab pertanyaan Ziara sebelum tau arti yang Ziara tanyakan.


"Berapa semuanya, Bang?" tanya Fathan pada Bani yang sedang membereskan alat-alat mekaniknya.


"Gratis," jawab Bani santai.


"Ha? Kok gratis, Bang. Jangan lah, gak enak saya."


"Gak papa saya ikhlas."


"Enggak-enggak." Fathan segera mengeluarkan dompetnya lalu memberikan uang lembar berwarna biru pada Bani. "Ini, Bang."


"Gak usah, Bang. Santai aja kalau sama saya, temen-temen saya aja kalau benerin mobil gak pernah bayar."


Fathan menyatukan alisnya. "Masa gak bayar, nanti Abang rugi," balasnya masih berusaha memberikan uang tersebut.


"Santai aja, rezeki di depan masih banyak. Udah gak usah bayar, saya cuma ambil bayaran dari orang yang enggak saya kenal. Kan Abang wali kelas ade saya, jadi gratis."


"Saya gak enak, Bang jadinya. Udah ambil aja gak papa."


"Enggak-enggak."


Bani terus menolak membuat Fathan berfikir sejenak mencari cara untuk membalas kebaikan Bani selain memberikan uang.


"Gini aja, Abang tau gak Resto Ataric yang ada di dekat sini?" tanya Fathan.


"Tau, kenapa?"


"Nah, itu kebetulan resto milik keluarga saya. Nanti kalau ada waktu Abang boleh mampir ke resto saya, bisa pesen sepuasnya gratis khusus untuk Abang."


Bani terkejut. "Wih beneran nih?"

__ADS_1


Fathan mengangguk sembari memasukkan kembali dompetnya ke dalam saku celana belakang. "Bener."


"Abang beneran owner Resto Ataric?" Bani tak menyangka bisa bertemu pemilik restoran yang tengah naik daun.


"Lebih tepatnya milik keluarga."


"Sama aja, Abang kaya dong," canda Bani membuat Fathan tertawa kecil.


"Biasa aja, Bang."


"Malem ini boleh gak, Bang. Saya mampir ke sana?"


"Boleh, boleh banget."


"Woi, Bani! Kita ikut ya!" teriak salah satu teman Bani yang mendengar percakapan mereka berdua.


Fathan dan Bani menoleh ke mereka semua. "Kalian boleh semuanya ikut jika berkenan," balas Fathan sama sekali tak masalah jika semua teman Bani ikut mampir ke restonya.


"YEY!"


Mereka bersorak girang.


"Tapi Abang ada disana kan?" tanya Bani khawatir mereka datang kesana Fathan tidak ada.


"Hari ini saya ada jadwal kuliah jam tujuh malam sampai pukul setengah sepuluh, jadi kayanya saya datang sekitar jam sepuluhan. Gak papa?" jelas Fathan.


"Gak papa, kita biasa bergadang kok. Nanti abis tutup bengkel kita semua auto ke sana," jawab Bani tak masalah.


"Baik, kalau begitu saya harus pergi dulu."


"Iya, Bang. Hati-hati."


Fathan tersenyum lalu segera masuk ke dalam mobilnya, kemudian ia menyalakan mesin mobilnya. Terlebih dahulu ia memundurkan mobil untuk keluar dari halaman bengkel, sekilas ia melirik ke arah warung dan ternyata Ziara sudah tidak ada disana.


Ia membuka kaca mobilnya untuk kembali pamitan pada mereka semua. "Duluan, Bang." Ia melambaikan tangan kanannya sambil melajukan mobilnya pelan.


"Yok! Hati-hati." Bani dan kawannya membalas lambaian tangan Fathan.

__ADS_1


Melihat Fathan sudah pergi, Ziara keluar dari dalam warung. Ia menghampiri Bani karena penasaran apa yang sudah kakaknya bicarakan pada Fathan sampai membuat Bani dan temannya kegirangan.


"Abang, ngomongin apa aja sama pak Fathan?" tanya Ziara sambil terus melihat ke arah jalan memastikan bahwa Fathan telah pergi.


"Kepo," jawab Bani yang sedang menyapu teras bengkelnya.


"Ck. Abang!" rengek Ziara meminta Bani memberitahunya.


"Apa sih, cuma ngajak nongkrong nanti malem."


"Dimana?"


"Kepo banget sih, emang kenapa sih? Mau ikut?"


"Enggak lah! Abang jangan ngomong macem-macem tentang Ziara ya, awas aja."


"Geer, ngapain juga gua bahas tentang lu sama pak Fathan?"


"Zi, Zi. Brayden yang kemarin kesini minta kontak lu, gua kasih ya," celetuk teman Bani bernama Fiki.


"Dih! Kagak-kagak! Gua hajar lu sampe ngasih kontak ade gua ke si Brayden!" marah Bani melarang Fiki memberikan kontak adiknya.


"Emang kenapa sih? Biarin aja kali, orang cuma minta wa nya."


"Lu pikir gua kagak tau, gimana si Brayden? Ngapain juga dia minta kontak adik gue, tipe cewek dia kan cewek bar-bar."


"Mana ketehe. Eh, tapi ya, Zi. Kalau lu sampe pacaran sama Brayden, dia bisa biayain lu kuliah," ujar Fiki pada Ziara.


"Ade gue lebih pilih gak kuliah dari pada harus di biayain sama cowok," sembur Bani kesal. Fiki pikir adiknya akan rela pacaran dengan lelaki hanya demi bisa mendapatkan biaya kuliah.


"Yaudah, Zia ama gua aja ya."


"Amit-amit! Gak rela gua kalau sampe adik-adik gue pacaran sama lu pada," tolak Bani sengit.


"Gitu banget ke temen sendiri, emang kita-kita kenapa sih? Kita ganteng, baik, kaya lagi," protes temannya bernama Jagu.


Next ๐Ÿ’“๐Ÿ’“๐Ÿ’“๐Ÿ’“ or stop ๐Ÿคจ๐Ÿคจ๐Ÿคจ๐Ÿคจ

__ADS_1


__ADS_2