
"Yaudah." Akhirnya Ziara memutuskan untuk menyetujui usulan Shasa.
Mereka duduk di meja bundar yang memiliki 4 kursi.
Fathan sedari tadi berkeliling untuk memastikan bahwa semua siswi kebagian makanan. Perasaan sangat senang melihat murid-muridnya makan dengan lahap dan gembira.
"Makan yang banyak, Ja," suruh Fathan saat melewati meja yang di duduki oleh Faja siswa kelas 11 bersama ketiga temannya.
"Siap! Thank you traktirnya, Pak."
"Sama-sama, kalian juga makan yang banyak yah," seru Fathan kepada siswa yang lain.
"Iya, Pak."
"Saya kesana dulu," pamit Fathan lalu di angguki oleh mereka semua.
Fathan berhenti melangkah saat tak sengaja melihat Ziara yang duduk di meja depan. Ia tersenyum senang, kemudian berjalan mendekati panggung.
Ia naik ke atas panggung kebetulan saat ini anggota band sedang beristirahat.
"Hai, Bro?" sapa drummer yaitu Choki sangat antusias menyapa Fathan yang datang.
"Hai, lama gak ketemu." Fathan berjabat tangan lalu berpelukan sekilas.
"Iya nih. Btw thank you ya, kita di panggil nyanyi disini lagi."
"Harus dong, gak ada alasan untuk saya gak pakai jasa band kalian," jawab Fathan sambil berjabat tangan dengan vocalis yang bernama Tara. "Sehat, Bro?"
"Alhamdulillah, sehat."
"Alhamdulillah." Kemudian, Fathan menyapa kedua gitaris yaitu Herdi dan Tutu. "Sehat-sehat, Bro?"
"Sehat-sehat, alhamdulilah Pak bos," balas Tutu dengan sedikit candaan.
Fathan tertawa kecil. "Waduh, main panggil bos aja."
"Hehe."
"Eh ayo nyanyi atuh," tawar Choki karena tau Fathan juga bisa bernyanyi.
"Kagak ah, malu. Soalnya yang ada disini anak murid saya semua," balas Fathan sambil duduk di samping Choki.
"Ngapain malu, suara lu bagus, Bro. Tunjukkan bakat terpendam lu ke semua murid-murid lo disini."
"Betul tuh," sahut Herdi setuju.
"Yaudah ayo-ayo." Akhirnya Fathan menerima tawaran mereka yang memintanya untuk bernyanyi.
"Lagu favorit lu masih sama kan, Bro?" tanya Herdi.
"Iya sama, Afgan garis keras, Bro."
Mereka tertawa mendengarnya. Kemudian, mereka berdiri untuk bersiap-siap mulai memainkan alat musiknya masing-masing kecuali Tara yang tetap duduk.
"KYAAAA!"
Sontak para siswi riuh ketika mendengar intro musik yang sedang di mainkan, namun lebih tepatnya yang membuat mereka heboh adalah karena lagu ini akan di bawakan oleh Fathan.
Fathan berdiri di paling depan di antara yang lain, ia mendengarkan baik-baik instrumen musik.
"Kali ini, kusadari."
"KYAAAAA!" Siswi kembali berteriak histeris padahal Fathan baru saja menyanyi satu bait saja. Argh! Mereka meleleh mendengar suara Fathan yang begitu lembut.
"Aku telah jatuh cinta."
"Dari hatiku terdalam." Fathan menatap kearah Ziara yang juga tengah memperhatikannya. "Sungguh aku cinta padamu." Ia menyanyikan lirik lagu ini seolah ini adalah ungkapan isi hatinya pada Ziara.
__ADS_1
"Cintaku bukanlah cinta biasa."
"Jika kamu yang memiliki."
"Dan kamu yang temaniku, seumur hidupku."
Ini bukanlah hanya sekedar lirik lagu bagi Fathan, namun juga lagu ini bisa menjadi perantara isi hatinya mengungkapkan rasa cintanya yang selama ini ia pendam dalam-dalam.
"Terimalah pengakuanku, percayalah kepadaku."
"Semua ini kulakukan, karena kamu memang untukku."
"Cintaku bukanlah cinta biasa, jika kamu yang memiliki."
"Dan kamu yang temaniku seumur hidupku, seumur hidupku."
Sambil menunggu reef, pandangan Fathan ia alihkan dari Ziara karena takut para siswi mencurigainya.
"Huu.."
"Cintaku bukanlah cinta biasa, jika kamu yang memiliki." Ia kembali menatap Ziara.
"Dan kamu yang temaniku seumur hidupku, cintaku bukan cinta biasa."
"Jika kamu yang menemani, dan kamu yang temaniku seumur hidupku.
Terimalah pengakuanku."
"YEYYY!" Semua bersorak dan bertepuk tangan untuk Fathan.
"HUH KEREN BANGET PAK!"
"SUARANYA BIKIN NGAJAK RUMAH TANGGA PAK!"
"MELELEH!"
"DUH JADI TAMBAH CINTA!"
"YEY!" Tentu mereka semua sangat senang. Sudah makan gratis sekolah libur pula.
"Pak jangan lupa unboxing kado-kado live streaming di Instagram ya!"
"Iya betul tuh Pak! Kita penasaran kado apa aja yang Bapak dapet!"
"Bener!"
"Setuju!"
Fathan tersenyum paham. "Baik, nanti saya kabarin yah," balasnya lembut.
"Yes!!"
_____
Setelah turun dari panggung Fathan menghampiri Erzan yang sedang duduk seorang diri di meja paling pojok. "Sendirian aja?" tanyanya sembari duduk di hadapan Erzan.
Erzan melirik sekilas, lalu kembali melanjutkan kegiatannya yang tengah bermain game. "Iyah," balasnya seadanya.
"Saya boleh minta tolong?"
"Minta tolong apa?" tanya Erzan tanpa menoleh.
"Nanti kamu ambil semua kado yang ada di sekolah, lalu bawa ke rumah saya."
"Pake mobil kan?"
"Iyah, nanti kamu bawa saja mobil saya. Nanti saya pulang minta anterin temen saya."
__ADS_1
"Berani bayar berapa?"
Fathan berdecak. Pertama kali baginya bertemu lelaki seperti Erzan yang begitu mata duitan. "Matre banget," cibirnya.
"Harus, Pak."
"Ya sudah kamu mau berapa?"
Erzan mengehentikan kegiatannya sejenak, bola matanya melirik ke langit-langit untuk memikirkan berapa banyak upah yang ia inginkan. "Hm, saya pengen pinjem mobil Bapak aja deh nanti malem," ungkapnya setelah di pikir-pikir ia lebih tertarik mendapatkan pinjaman mobil karena memiliki rencana nanti malam bersama temannya.
"Baik, tidak masalah." Fathan setuju, tak keberatan sama sekali.
Erzan sumringah lalu melanjutkan bermain gamenya. "Tapi Bapak jangan bohong yah, awas aja kalau sampe ingkar janji. Saya bongkar rahasia Bapak."
"Saya tidak takut."
"Ah gak seru!"
"Bukannya kamu punya mobil juga ya? Saya pernah liat kamu bawa mobil ke sekolah."
"Di jual, Pak."
"Loh kok di jual, kenapa?" tanya Fathan penasaran dan bingung, setaunya mobil Erzan masih baru.
"Depan mobilnya bonyok-bonyok, Pak. Jadi dijual bapak saya."
"Loh kok bisa bonyok, kenapa? Abis di gebukin?"
"Ciaaโฆ. Bisa becanda juga nih Pak guru." Erzan tertawa mendengar candaan Fathan. "Gimana gak bonyok-bonyok, Pak. Orang mobilnya gak sengaja nabrak tiang listrik," timpalnya teringat kembali saat mobilnya tak sengaja menabrak tiang listrik di komplek perumahannya.
"Hah?" Fathan tercekat. Bahaya, bisa-bisa mobilnya menjadi korban selanjutnya yang akan Erzan rusak. Ia tak bisa di biarkan ini semua. "Mana kunci mobil saya?" tanyanya sembari mengulurkan tangan kanannya.
"Ada." Erzan merogok kantong sekolahnya. "Nih." Ia pun segera memberikannya pada Fathan.
"Saya gak jadi pinjemin mobil saya ke kamu." Fathan berdiri lalu segera melangkahkan kakinya sebelum mendengar jawaban Erzan yang terlihat shock.
"PAK! SAYA JANJI GAK AKAN BIKIN MOBIL BAPAK BONYOK-BONYOK!" teriak Erzan namun tak di hiraukan oleh Fathan yang terus berjalan.
Ia pun menjadi pusat perhatian, namun tak bertahan lama mereka semua kembali melanjutkan kegiatannya masing-masing.
_______
Pukul 21:47 malam Fathan sedang asik membuka satu-satu kado dari siswi, ia baru sempat untuk membuka kado-kado ini karena baru saja pulang kuliah. Ia sepertinya tidak bisa menepati janjinya pada siswi-siswi yang ingin melihatnya saat membuka hadiah-hadiah ini.
Hampir 50% hadiah yang ia dapatkan adalah baju kemeja dan hoodie. Selain itu, banyak macam kado yang ia dapat seperti sepatu, parfum, dan masih banyak yang lain.
Tersisa 5 kado yang belum ia buka, termasuk kado Ziara yang belum ia temukan. Sebenarnya tujuan ia ingin langsung membuka kado-kado hari ini juga karena sudah sangat penasaran apa kado yang Ziara berikan padanya.
4 kado sudah ia buka. "Pasti ini kado dari Ziara," tebaknya lalu mengambil yang kado yang tinggal tersisa 1 lagi, kado berwarna biru. Ia membaca nama pemberi kado tersebut dan ternyata itu buka kado dari Ziara. "Lah, terus kado Ziara mana?" tanyanya pada diri sendiri sambil mengacak-acak kertas kado yang sudah ia robek-robek karena mungkin saja kado Ziara tersembunyi di tumpukan kertas-kertas tersebut.
Fathan berdiri sembari memegang belakang lehernya dengan kedua tangannya. Ia sangat berharap menemukan kado dari Ziara. Ah ia tak bisa membayangkan betapa kecewanya ia, jika sampai tak dapat menemukan kado Ziara, padahal kado dari Ziara lah yang sangat ia tunggu-tunggu.
Berulang kali Fathan mencari-cari, namun hasilnya nihil ia tak dapat menemukan kado yang belum terbuka, semua sudah ia buka.
Fathan membuang nafas kasar, kecewa dan kesal yang ia rasakan sekarang. Ia menyenderkan punggungnya ke lemari kebetulan memang posisinya duduk di lantai dekat kasur dan lemari. Pandangannya tak sengaja menoleh ke kolong ranjang miliknya, matanya membesar saat melihat satu kado berukuran sangat kecil berada di bawah sana.
Dengan cepat ia menegakkan tubuhnya, lalu masuk ke dalam kolong ranjang agar bisa menggapai kado tersebut.
Ia keluar dari kolong kasur, senyumannya terpancar saat membaca nama Ziara yang tertulis di luar kertas tersebut. Entah apa isi kado Ziara karena berukuran jempol jari tangannya saja.
Fathan menarik nafas cepat, kemudian segera membuka kado dari Ziara.
Ia mengerenyitkan dahinya ketika tau hanya selembar kertas didalam kado tersebut. "Kertas?" tanyanya sendiri. Kemudian, ia membuka lipatan kertas tersebut.
[2 permintaan.]
Itulah yang Fathan baca dari tulisan yang terdapat di kertas tersebut.
__ADS_1
"Hah? Dua permintaan?" ujarnya kaget. "Satu permintaan sudah cukup bagi saya Ziara, saya hanya ingin kamu." Fathan mengembangkan senyumannya, argh! Ia tak menyangka bisa mendapatkan kado seperti ini. Hatinya sangat senang dan tak sabar untuk bertemu Ziara.
Next ๐ or stop ๐