Love My Teacher

Love My Teacher
46


__ADS_3

Ziara tersentak lalu menurunkan tangannya yang memegang ponselnya. "Kenapa, Pak?" tanyanya sembari menaruh ponselnya di atas meja.


"Saya ajak kamu kesini bukan untuk main hp."


"Oh iya maaf, Pak." Ziara merasa bersalah karena ia pikir Fathan tak mempersalahkan soal ini, sebab Fathan yang terlebih dahulu memainkan ponselnya.


2 pelayan datang sembari mendorong meja troli membawa pesanan mereka. "Permisi," ujarnya sambil mulai memindahkan piring-piring ke meja mereka berdua. "Silakan," serunya setelah selesai menata rapih pesanan.


"Terima kasih," ucap Fathan.


"Sama-sama." Kemudian kedua pelayan tersebut pergi meninggalkan mereka berdua agar segera menikmati makanan dan minuman yang di hidangkan.


Ziara melongo tak percaya karena makanan yang di bawakan oleh pelayan itu tak sedikit. Walaupun makanan tersebut terlihat sangat enak-enak. Namun tetap saja Ziara, pasti makan dengan hati gelisah saat membayangkan berapa harga makanan ini.


Menu yang datang yaitu sate ayam, sosis bakar, ayam bakar, ikan bakar, cumi bakar, lobster saus manis, kepiting saus tiram dan minumannya hanya air putih dan es teh manis.


"Kamu abisin semuanya," celetuk Fathan mengejutkan Ziara.


Ziara langsung menggeleng dengan cepat. "Enggak, Pak. Gak akan sanggup saya," jawabnya takut. Tidak mungkin ia mampu menghabiskan makanan sebanyak ini.


"Pasti sanggup, kan gak pakai nasi."


"Perut saya mules, Pak. Ngebayangin harganya."


Fathan terkekeh kecil. "Kamu lucu banget sih, sudah jangan di bayangin. Sekarang makan," serunya sembari memakai sarung tangan plastik yang sudah di sediakan.


"Di restoran ini gak ada makanan aneh-aneh ya, biasanya kalau restoran mewah gini pasti banyak makanan luar."


"Di restoran ini memang hanya menyediakan makanan khas Indonesia."


"Wih, keren ya yang punya resto ini. Kayanya cinta produk lokal banget."

__ADS_1


Hati Fathan senang mendengarnya, Ziara mungkin memang belum tau siapa pemilik restoran ini. "Kamu mau pakai nasi?" tawarnya karena khawatir Ziara tidak merasa kenyang.


"Enggak, Pak."


"Yaudah ayo di makan, kamu jangan malu-malu."


"Iya, Pak."


Ziara membalikkan piring. Kemudian, ia mengambil 2 tusuk sate. "Bismilah," ucapnya pelan lalu memakan sedikit-sedikit daging sate tersebut. Sambil mengunyah, Ziara memperhatikan Fathan yang sibuk memisahkan daging kepiting dari cangkangnya dan Fathan belum memakan apa-apa.


Fathan mengangkat piringnya setelah berhasil mengumpulkan semua daging kepiting di piring. Kemudian, ia menaruh piring tersebut ke hadapan Ziara. "Makan yang banyak," suruhnya sembari mengambil lobster yang berukuran besar untuk ia pisahkan lagi daging dan cangkangnya.


Ziara terpaku beberapa detik. Ia menatap piring yang di berikan Fathan dengan tatapan tak percaya, jadi Fathan rela mengumpulkan daging kepiting tersebut hanya agar memudahkan ia memakannya.


Ia mendongak, menatap Fathan yang fokus dengan kegiatannya. 'Kenapa Bapak baik banget." Batinnya karena hatinya sangat tersentuh dengan sikap Fathan yang begitu perhatian dan baik. "Makasih, Pak," ungkapnya sangat berterima kasih.


"Iyah, ayo abisin. Jangan sampe tersisa ya, nanti mubajir," jawab Fathan sambil tersenyum.


"Makan ini juga." Fathan meletakan piring daging lobster di samping piring daging kepiting. "Kamu mau makan apa lagi? Biar saya ambilkan," tanyanya karena tak mau Ziara harus repot-repot mengambilnya.


"Ini juga udah cukup, Pak. Makasih ya."


"Oke." Fathan mencicipi sate ayam. "Hmm, ini satenya enak banget." Jika di suruh untuk memberi nilai sate ayam ini, tak ada angka yang mampu memberi nilai ini karena rasa sate ini sangat enak.


"Iya, Pak. Semuanya juga enak."


Fathan mengangguk setuju. "Mau di bungkus bawa pulang gak buat keluarga kamu di rumah?" tawarnya pada Ziara. Ia ingin ibu dan adik-adik Ziara mencoba juga makanan di restoran miliknya.


"Enggak, gak usah, Pak," tolak Ziara cepat karena tak mau merepotkan Fathan. Sudah di traktir disini saja Ziara sudah sangat bersyukur.


"Gak papa. Nanti saya suruh mereka bungkuskan ya, jangan nolak."

__ADS_1


"Makasih ya, Pak." Tak ada pilihan lagi, Ziara harus menerima tawaran Fathan yang sebenarnya membuat perasaannya tak nyaman.


"Sama-sama," jawab Fathan sambil mengunyah. "Kamu cobain cumi bakar ini, enak banget," usulnya sembari memberikannya ke piring Ziara.


"Maaf, Pak. Aku gak suka cumi," tolak Ziara sopan.


"Oh gitu, terus kamu sukanya apa?" tanya Fathan menatap lekat pada Ziara.


"Ha?" Ziara gelagapan menjawabnya. Bukan, bukan ia tak mampu menjawabnya. Namun yang membuatnya grogi karena tatapan Fathan yang memberikan pertanyaan seolah bermaksud ke hal yang lain.


Ziara menunduk melanjutkan makannya untuk mengalihkan perhatiannya. "Saya suka ini, Pak," jawabnya yang salah tingkah sambil menunjukkan daging kepiting.


Fathan tersenyum tipis. "Bukan suka saya?"


Deg!


Dengan cepat Ziara mendongak sembari membelalakkan bola matanya. Ia menatap Fathan yang tengah mengulum senyuman. Detak jantungnya berdebar kencang, ia sangat shock dan tak menyangka Fathan akan mengatakan kalimat tersebut.


"Uhuk!" Ziara terbatuk sembari mengalihkan pandangannya.


Argh! Apan ini semua? Mengapa sekarang Fathan semakin menjadi-jadi, berani secara terang-terangan memberi kode agar Ziara lebih peka.


"Saya becanda," celetuk Fathan karena Ziara begitu terkejut mendengar pertanyaannya. Ziara kembali menatap kearahnya, lalu mengangguk kecil. "Ayo habiskan."


Ziara segera melanjutkan makannya dengan dada yang masih berdebar-debar.


'Astagfirullah, sadar Ziara. Fokus-fokus!'Batinnya.


Gimana part kali ini?🥰


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2