
Walaupun jauh dari kedua orang tua itu sangat sulit, namun dari situ kita bisa belajar arti tentang kehidupan yang mandiri.
"Enak yah jadinya, mau apa-apa gak di larang."
Fathan sedikit mengangkat sudut bibirnya. "Ya minusnya, sekarang kedua orang tua saya malah nyuruh saya nikah muda."
"Hah?" Ziara terkejut. "Nikah muda?"
"Iyah, mereka bilang supaya bisa punya banyak cucu jika saya nikah muda. Mungkin karena dulu umi dan abi saya nikah di usia cukup matang, jadi memilih hanya memiliki 1 anak."
Ziara menyimak dengan baik. "Emang Bapak niatannya punya berapa anak?" tanyanya penasaran, berapa banyak cucu yang ingin di miliki kedua orang tua Fathan. "Dua belaskah?" lanjutnya menebak.
Fathan tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Itu sangat lucu, bagaimana bisa Ziara sampai berfikiran ia ingin memiliki 12 anak. Sebenarnya tak masalah berapa pun anak yang ingin kita miliki, namun itu terlalu banyak menurutnya. "Ziara," balasnya masih menahan tawa. "Yah gak sebanyak itu juga, memang bagus banyak anak banyak rezeki. Tapi gak sebanyak itu, kasian nanti istri saya."
Ziara tersenyum malu. "Maaf, Pak. Kirain."
"Kamu lucu juga yah."
Ziara menunduk lalu bibirnya sedikit membentuk lengkungan senyuman. Kedua pipinya terasa hangat, terbawa perasaan.
__ADS_1
Hening beberapa menit membuat Fathan merasa canggung. Ia pun melihat ke arah Ziara yang tengah melamun.
Hati Ziara tiba-tiba kembali gelisah karena masih memikirkan apa arti dari ucapan Fathan saat menggunakan bahasa arab. Apa itu sebuah kalimat baik atau sebuah kalimat ejekan untuknya? Entah, tak mungkin juga ia bertanya kembali pada Fathan. Tetapi, ia sangat penasaran.
"Ziara?" panggil Fathan lembut.
Ziara langsung menoleh karena tak melamun begitu dalam. "Kenapa, Pak?"
"Kamu lagi mikirin apa?"
"Enggak ada," balas Ziara sambil tersenyum canggung. "Belajar bahasa Arab seru juga, Bapak boleh ajarin saya beberapa kata gak?"
Ziara menunduk mencoba mengingat beberapa kata yang Fathan ucapkan padanya. 'Aduh apa ya? Lupa.'Batinnya masih berusaha mengingat.
Ziara langsung membuka matanya setelah mengingat sesuatu. 'Uhibuk? Ah iya perasaan tadi pak Fathan ngucap kata uhibuk kan? Iya gak sih? Tapi tanya aja dulu deh." Batinnya.
"Kalau artinya uhibuk apa?" tanya Ziara mengucapkannya dengan pelan-pelan karena takut yang ia ucapkan salah dan tak di mengerti oleh Fathan.
"Oh uhibuk, bentar sama bales pesan dulu," balas Fathan yang sedang mengetik sesuatu di layar ponselnya. "Artinya aku mencintaimu," lanjutnya tanpa menoleh.
__ADS_1
Deg!
Ziara terlonjak kaget, ia pun sampai melebarkan kedua pupil matanya. Benarkah?
Fathan langsung menghentikan kegiatan saat tersadar dengan cepat menoleh ke arah Ziara. Ia panik ketika melihat ekspresi Ziara yang begitu terkejut.
Degup jantung mereka berdua sama-sama tak beraturan. Ziara yang masih di antara yakin dan tak yakin dengan yang ia dengar. Apakah mungkin Fathan mengatakan sebuah kalimat cinta padanya?
Sedangkan Fathan panik karena sadar bahwa Ziara menanyakan arti kata tersebut karena kata tersebut yang pernah ucapkan.
'Gak mungkin.' Batin Ziara tak percaya. Tidak mungkin Fathan menyukai gadis sepertinya.
'Saya harus jelaskan apa pada Ziara?' Batin Fathan. Posisinya sekarang sangat membingungkan hingga membuatnya sulit berfikir jernih.
'Argh! Fathan.' Ia sangat menyesali kecerobohannya, seharusnya ia mendengarkan baik-baik dulu sebelum menjawab. Jika sudah seperti ini, pasti Ziara memiliki kecurigaan bahwa ia menyukainya.
Lalu bagaimana jika Ziara takut bahkan sampai menghindarinya? Perasaan cinta yang selama ini telah ia pendam apakah akan hancur sia-sia sebelum ia mendapatnya? Argh! Fathan tak ingin itu terjadi.
"Bang! Udah kelar nih!" Teriakan Bani sontak membuyarkan suasana ketegangan ini.
__ADS_1
Next ๐๐๐๐ or stop ๐คจ๐คจ๐คจ๐คจ