
"Kue itu kan." Ia berhenti sejenak. "Kue potongan pertama? Pak Fathan ngasih itu ke kamu?" tebaknya sangat terkejut seakan tak percaya.
What! Bagaimana bisa kue tersebut di berikan oleh Fathan! Shasa tak percaya. Omg!!!!
Ziara tercekat mendengarnya. Bagaimana bisa Shasa mengetahui itu? Jeli sekali mata Shasa. "Bukan," jawabnya tidak ingin jujur karena takut Shasa berfikir macam-macam.
"Aku inget banget, Zi. Soalnya aku inget piring yang di gunakan pak Fathan untuk taro kue potongan pertama itu warna pink, kan piring warna pink itu cuma ada satu. Lagi pula kue itu gak pak Fathan kasih ke siapapun. Terus, kamu juga abis ke ruangan pak Fathan kan?" jelas Shasa sangat yakin.
"Iya-iya, kamu betul. Sebenarnya ini dapat ngasih pak Fathan, dia bilang karena bingung mau ngasih siapa."
"OMG! PAK FATHAN NGASIH KUE POTONGAN PERTAMANYA UNTUK KAMU!" teriak Shasa kembali heboh. Ia sangat iri pada Ziara.
"Shasa, jangan pakai teriak-teriak takut ada yang denger," tegur Ziara sembari melirik ke sekelilingnya dengan wajah panik. "Untung sepi." Ia merasa lega setelan tau bahwa disekitarnya sepi.
Shasa berdiri dengan ekspresi masih sama yaitu orang yang terkejut. "Ra, fiks pak Fathan suka sama kamu. Omg, kamu di sukai sama pak Fathan." Ia jadi panik sendiri sehingga membuatnya sampai mundar-mandir tak jelas.
"Sha, gak mungkin. Kamu jangan ngarang," balas Ziara heran mengapa Shasa bisa langsung berkata seperti itu.
"Ziara Jema Laksana. Peka dikit dong, kamu tuh gimana sih. Masa gak sadar, coba kamu lihat ngapain pak Fathan mau cape-cape ngasih kue itu ke kamu? Kan bisa aja dia taro di atas meja supaya di ambil siswi lain. Ayo lah peka dikit," tutur Shasa agar Ziara segera membuka pikirannya.
Mendengar perkataan Shasa membuat Ziara berfikir. Apa mungkin Fathan menyukainya? Namun, jika di pikir-pikir memang benar untuk apa Fathan mau repot-repot membawa kue tersebut lalu memberikannya pada Ziara atau tidak mengapa tidak Fathan makan saja sendiri.
Shasa duduk kembali menghadap pada Ziara. Ia menatap Ziara dalam-dalam. "Ra, coba kamu ingat-ingat pak Fathan pernah bilang sesuatu gak sama kamu? Kaya kata-kata menyentuh yang bikin hati kamu jedag jedug," tanyanya serius.
Ziara yang mendapat pertanyaan serius seperti itu menjadi gugup. Pikirannya tiba-tiba menjadi kosong dan tak dapat mengingat apa-apa.
"Ada gak, Zia?" tanya Shasa mendesak.
Ziara sedikit memundurkan tubuhnya. "Jangan deket-deket banget, Sha. Aku jadi gak bisa mikir," balasnya lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Shasa berdecak. "Iya maaf, terus gimana sekarang? Ada gak?"
"Sabar lah, Sha. Aku masih coba inget-inget."
"Ah iya! Kamu pernah di chat pak Fathan gak?" tanya Shasa yang sudah tak sabar dan penasaran.
"Pernah sih tapi cuma sekali, itu pun enggak aku bales." Ziara teringat Fathan mengirimkan pesan semangat untuknya saat ia di antara ke sekolah oleh Fathan.
"Emang isi chatnya apa, kok gak kamu bales?"
"Cuma ngasih semangat belajar aja sih."
"Hah? Ngasih semangat?" ulang Shasa melongo. "Mana ada guru mau ngasih semangat ke anak muridnya kalau gak ada rasa, Zia. Coba sini liat chatnya," tambahnya semakin yakin bahwa Fathan menyukai sahabatnya.
"Buat apa? Cuma itu aja kok, Sha."
"Iya udah liat coba tulisannya gimana? Ada emotnya gak?"
"Ada sih, tapi emot manual gitu."
"Yang gimana?"
"Titik dua, terus bintang."
"HAH!" bentak Shasa shock. "Mana coba keluarin ponsel kamu," pintanya memaksa.
Karena di desak oleh Shasa, Ziara pun segera mengeluarkan ponselnya dari tas kemudian memberikan pada Shasa.
Buru-buru Shasa membuka aplikasi chat Ziara lalu mencari riwayat pesan dari Fathan beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
Semangat belajarnya, Ziara:*
"Kyaa!" teriak Shasa setelah membaca isi pesan Fathan. Ziara ternyata sangat tak peka, padahal diliat dari pesan ini saja sudah sangat jelas bahwa Fathan menyukai Ziara.
Ziara terkejut. "Kenapa, Sha?" tanyanya kebingungan.
"Ra, kamu polos banget sih. Kamu tau emoticon dua titik bintang ini artinya apa?" tanya Shasa sambil menggelengkan kepalanya heran. Jika ia menjadi Ziara mungkin akan langsung membalas pesan ini.
"Emang apa?" tanya Ziara penasaran.
"Coba kamu perhatikan baik-baik, ini kalau di miringkan jadinya ekpresi wajah." Shasa memiringkan ponsel, lalu menyuruh Ziara memperhatikannya dengan baik-baik.
Ziara melotot ketika baru tersadar. Jadi itu sebuah emoji cinta?
Ia melirik pada Shasa, dan kini mereka berdua saling bertatapan dengan pikiran yang sehati. Yeah, mereka sehati karena sekarang sudah mengerti maksud emoji tersebut.
"Itu emoji cinta, Ra!" teriak Shasa gemas sendiri. Ah! Ziara benar-benar membuatnya gregetan karena mengapa baru peka sekarang. "Ra, pak Fathan suka sama kamu!" tegasnya membuat Ziara tercekat.
Benarkah Fathan menyukainya?
"Omg! Aku beneran iri deh sama kamu," seru Shasa namun ikut merasa senang.
Ziara masih terdiam tak percaya. "Tapi mungkin aja itu cuma iseng, Sha. Gak mungkin dong, masa gara-gara emoji gitu aja kamu menyimpulkan kalau pak Fathan suka sama aku."
"Bukan cuma itu aja, Zia. Coba kamu liat, dari dulu pak Fathan sering galakin kamu kan? Nah, cuma kamu aja lagi yang di galakin. Terus, sekarang dia juga baik banget sama kamu kan?" urai Shasa satu-satu. Ia 100% yakin bahwa Fathan memang menyukai Ziara.
Ziara mencoba mencerna ucapan Shasa barusan. Ada benarnya juga, tetapi ia tidak mau terlalu memikirkan itu semua karena takut ia hanya terlalu percaya diri.
"Eh itu pak Fathan." Shasa dan Ziara berdiri saat melihat Fathan yang sedang berjalan bersama 5 siswi.
Fathan sekilas melirik ke arah Ziara dan Shasa. Namun, itu tak bertahan lama karena ia di ajak berbicara oleh para siswi yang ia temui di koridor. Ia terpaksa mengingkari janjinya untuk pergi bersama dengan Ziara karena tiba-tiba ke 5 siswi ini ingin ikut bersamanya, karena ia tak enak untuk menolaknya. Akhirnya mau tak mau, ia harus mengizinkan mereka untuk ikut bersamanya.
Ziara sedikit merasa kecewa saat melihat para siswi tersebut masuk ke dalam mobil milik Fathan. Sebab, jelas-jelas Fathan telah mengajaknya duluan. Namun, sekarang Fathan malah mengingkari janjinya begitu saja.
"Iya, Pak!"
Fathan kembali masuk ke dalam gedung sekolah, ia berusaha mencari cara agar tetap pergi bersama Ziara. Ia akan merasa berhutang janji pada Ziara jika pergi bersama ke 5 siswi tersebut.
Di tengah-tengah perjalanan ia melihat Ezran yang berarah lawanan dengannya. Dengan cepat ia berjalan mendekati Ezran yang berjalan santai sambil mendengarkan musik dari handsetnya.
"Ezran, kamu gak ikut pergi sama yang lain?" tanya Fathan tanpa basa-basi.
Ezran melepaskan satu handsetnya. "Ini mau, kenapa?" balasnya penasaran karena seharusnya Fathan sudah bersama yang lain bukan malah masih berada di sekolahan.
"Pas banget, ini." Fathan memberikan kunci mobilnya pada Ezran. "Kamu bawa mobil saya, terus nanti bilang sama mereka nanti saya nyusul," pesannya sebelum pergi.
"Mereka siapa?" tanya Ezran bingung siapa yang Fathan maksud.
"Nanti juga tau, jangan lupa juga ajak Shasa. Tapi Ziara jangan."
"Dih! Bapak mau modus ya sama Ziara?" tuduh Ezran langsung emosi.
"Sembarang kamu, udah sana." Fathan buru-buru pergi.
____
Ke 5 siswi yang di dalam mobil kebingungan saat melihat Ezran duduk di kursi setir karena seharusnya Fathan yang datang.
"Lo mau ngapain disini?"
__ADS_1
"Tau, mana pak Fathannya?"
"Ezran, turun lo."
Ezran berdecak kesal. "Berisik lu pada, diem bisa? Nebeng aja ribut mulu," balasnya kembali memasang handsetnya.
"Dih apa sih lo, Ezran! Males banget kita kalau harus lo yang supirin."
"Pak Fathan mana?"
"Mending turun aja deh."
"Mobil gue udah di bawa Linda, terus mau naik apa?"
"Ah terpaksa deh."
"Lo semua diem, kalau enggak turun aja sana. Gue berhak bawa mobil ini, karena pak Fathan yang suruh oke?" seru Ezran percaya diri dan merasa berkuasa di dalam mobil.
Ia menoleh ke samping kanannya, kebetulan melihat Shasa dan Ziara yang sedang berjalan. Segera ia menurunkan kaca mobil. "Ziara!" teriak Ezran membuat Ziara dan Shasa bersamaan menoleh.
Mereka mengerenyitkan dahinya bingung kemudian mendekatinya.
"Kenapa?" tanya Ziara bingung.
"Di panggil pak Fathan tuh."
"Hah? Ngapain?" Bukan Ziara yang menjawab melainkan Shasa.
"Gak tau, samperin aja dulu. Dari pada marah tuh guru."
"Iya, cepet kamu samperin, Ra. Sana," suruh Shasa sangat antusias.
"Ta-"
"Udah cepet." Shasa mendorong pelan Ziara agar segera pergi menemui Fathan. Ia senang karena ini bisa menjadi kesempatan untuk Ziara agar lebih dekat lagi dengan Fathan.
Mau tak mau Ziara pun menurut, ia melangkah perlahan kembali masuk ke dalam gedung sekolah.
Shasa tersenyum senang melihatnya.
"Naik, Sha," perintah Erzan pada Shasa.
Shasa menolehkan kepalanya ke arah Erzan. "Naik kemana?" tanyanya bingung.
"Naik kelas. Ya naik mobil lah, ayo cepetan."
"Terus Ziara gimana?"
"Udah, gampang. Nanti gue jemput lagi kesini."
"Beneran?"
"Beneran."
"Yaudah." Shasa akhirnya ikut masuk ke dalam mobil, lalu duduk di samping siswi kelas lain yang ia kenali.
"Pak Fathan ngapain manggil Ziara?" tanya salah satu siswi yang duduk di samping Erzan.
"Dibilangin gak tau." Erzan memilih untuk segera melajukan mobilnya. Sebenarnya ia sangat malas harus satu mobil dengan cewek-cewek sebanyak ini, belum lagi mereka semua sangat cerewet.
__ADS_1
Next ๐
stop ๐คจ๐