Love My Teacher

Love My Teacher
47


__ADS_3

"Makasih ya, Pak," ujar Ziara saat mereka keluar dari dalam restoran dan sekarang mereka tengah berada di parkiran.


"Sama-sama. Pulangnya biar saya antar, sudah jam sepuluh malam sekarang," balas Fathan setelah melihat jam tangannya.


"Saya kan bawa motor, Pak."


"Nanti motor kamu di bawa sama temennya saya."


"Temen?" ulang Ziara lalu melirik ke sekelilingnya. "Temen Bapak dimana?" tanyanya bingung, dimana teman Fathan berada.


"Ada di dalem."


"Oh gitu? Tapi saya pulang sendirian aja. Lagi pula ini kan malam minggu jam segini masih rame banget di jalan." Ziara tidak merasa takut sedikitpun untuk pulang ke rumah karena ia rasa suasana malam ini cukup aman karena di jalanan kota sangat ramai.


"Saya gak bisa biarin kamu pergi sendiri. Yaudah, saya antarkan kamu pakai motor kamu," usul Fathan karena percuma ia memaksa mengantarkan Ziara dengan mobilnya, pasti Ziara kekeh akan menolaknya.


"Loh, terus Bapak balik naik apa? Terus mobil Bapak gimana?" tanya Ziara heran. Mengapa Fathan mempersulit dirinya sendiri hanya untuk mengantarkannya pulang.


"Itu soal gampang. Mana kunci motor kamu," balas Fathan sembari mengulurkan tangannya ke hadapan Ziara.


"Ini beneran gak papa?" Ziara ragu, sebab ini terlalu merepotkan Fathan.


"Iyah."


Ziara merogoh dalam tas miliknya, mengambil kunci motornya. Kemudian, memberikannya pada Fathan.


Fathan menerima kunci tersebut dengan senang hati. Kemudian, ia berjalan ke arah motor Ziara yang terparkir.


Ziara diam di tempat membiarkan Fathan naik ke motornya.


Fathan menstater motor, lalu melajukannya perlahan menghampiri Ziara. "Pakai helmnya," suruhnya saat berhenti di depan Ziara.


"Bapak aja yang pakai, kan Bapak yang nyetir."


Fathan hanya tersenyum tipis, lalu segera memakai helm tersebut pada Ziara.


Ziara langsung melototkan kedua matanya dengan sempurna.


Ia mengerjapkan matanya, seolah tak percaya dengan apa yang Fathan langsung barusan.


Fathan menutup kaca helm yang di gunakan Ziara. "Takut kelilipan," serunya lalu kembali menyalakan mesin motor.


"Naik," perintah Fathan yang sudah siap untuk segera melajukan motor.


"Iyah." Ziara segera duduk di jok belakang.


Fathan menoleh saat salah satu karyawannya datang dari belakang restoran dengan membawa helm.


"Ini helmnya, Pak." Karyawan itu memberikan helm tersebut pada Fathan.


Ziara menyerengitkan keningnya dari dalam helm, bingung mengapa orang tersebut memanggil Fathan dengan sebutan 'pak'. Sebab, jika di lihat dari wajahnya, orang tersebut lebih tua dari Fathan.


"Terima kasih," balas Fathan mengambilnya dan langsung memakainya.


"Sama-sama, Pak. Hati-hati di jalan."


Fathan mengangguk. "Saya pergi duluan." Kemudian segera mulai melaju. Kecepatan motor yang di gunakan Fathan sedang, tidak lambat dan tidak cepat. Sebisa mungkin ia harus hati-hati karena membawa Ziara. Ia takut akan terjadi sesuatu jika membawa motor dengan kecepatan tinggi.


Walaupun memakai helm, Ziara dapat mencium aroma wangi parfum tubuh Fathan yang memiliki ciri khas tubuhnya. Ziara belum pernah mencium aroma parfum ini di gunakan oleh orang lain. Sepertinya parfum yang di gunakan Fathan mahal, sehingga tahan lama.


Fathan memutar kaca spion kiri agar ia dapat melihat Ziara dari belakang. "Ziara?" panggilnya membuat Ziara menarik ke atas kaca helmnya.


"Kenapa, Pak?" tanya Ziara dengan pendengaran yang ia pasang baik-baik agar terdengar jelas suara Fathan.


"Saya sangat senang. Akhirnya setelah sekian lama saya bisa merasakan serunya sensasi naik motor di malam hari lagi," tutur Fathan rindu membawa motor di malam hari. Sebab, sudah sangat lama atau mungkin terakhir ia membawa motor saat Sma dulu.


"Bapak seneng?" tanya Ziara dengan nada sedikit keras.


"Iyah, sangat seneng. Tambah seneng lagi karena naik motor bareng kamu," seru Fathan dengan nada rendah. Sengaja, agar Ziara tidak dapat mendengarnya dengan jelas.


"Apah, Pak? Gak denger!" teriak Ziara karena tidak mendengar jelas ucapan Fathan barusan.


"Kamu cantik!" ungkap Fathan dengan nada keras.


Deg!


Ziara tercekat, lalu mengembangkan senyuman di belakang karena ia pikir Fathan tak mengetahuinya. Padahal, Fathan bisa melihat wajahnya dari kaca spion.


Fathan ikut tersenyum saat melihat Ziara tersipu malu. "Ziara, jaga hati kamu untuk saya yah," suruhnya berbicara sendiri karena tau pasti Ziara tidak mendengar jelas suaranya.


"Apah! Bapak ngomong apa!" tanya Ziara kebingungan dan penasaran.


"Enggak! Saya cuma bilang malam ini sangat indah!"


Ziara tersenyum mendengarnya.


Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka sampai. Fathan menghentikan motor di depan bengkel Bani yang masih buka dan ramai banyak temannya menongkrong.


Bani dan temannya yang tadi asik mabar game online langsung berhenti, lalu berdiri menghampiri Fathan dan Ziara yang sedang membuka helm.


"Udah pulang, De?" tanya Bani.


"Assalamualaikum, Bang," salam Fathan sambil berjabat tangan.

__ADS_1


"Waalaikumsalam. Kok ikut kesini, Bang?" Bani bingung karena mengapa Fathan ikut kemari.


"Iya, Bang. Soalnya gak mungkin saya biarin Ziara balik sendirian."


"Padahal mah gak papa balik sendiri juga, manja lu, De."


"Oh enggak kok, Bang. Saya yang maksa untuk mengantarkan Ziara."


"Oh gitu, yaudah makasih ya. Mau ngopi dulu gak, Bang?"


"Enggak, Bang. Lagi kali aja, sekarang saya harus buru-buru pulang sama ortu," tolak Fathan sopan.


"Oh yaudah, ayo saya anterin." Bani berniat mengantarkan Fathan agar Fathan tak usah repot-repot menunggu taxi atau kendaraan umum.


"Oh enggak, Bang. Itu temen saya udah jemput," balas Fathan sambil menunjuk ke arah mobil hitamnya yang terparkir di pinggir jalan. Sebelum keluar dari restoran Fathan memang sudah mengirimkan pesan pada salah satu karyawannya jika ia mengantar Ziara dengan motor, karyawannya harus mengikutinya dari belakang.


"Wih, gercep juga. Yaudah hati-hati di jalan."


Fathan mengangguk. "Iya, Bang. Saya balik dulu ya," pamitnya pada semua orang.


"Iya, Bro."


"Yo!"


"Kapan-kapan nongkrong lagi ya!"


Fathan kembali menganggukkan kepalanya. "Siap, nanti kabarin aja kalau mau nongkrong," balasnya lalu menoleh pada Ziara yang berada di sampingnya. "Saya balik dulu yah, kamu langsung masuk ke rumah udah malem gak enak di liat tetangga anak cewe masih di luar jam segini," pesannya dengan nada lembut pada Ziara.


"Iya, Pak. Sekali lagi makasih yah, itu helmnya gak di bawa?"


"Kamu simpan saja ya."


"Iya, Pak."


"Baik, assalamualaikum semuanya," salam Fathan sambil berjalan kecil.


"Waalaikumsalam."


Fathan berlari kecil saat menyeberangi jalan, ia langsung masuk ke dalam mobilnya. Kemudian, tak butuh waktu lama karyawannya segera melajukan mobilnya.


"Lu bawa apa?" tanya Bani saat melihat Ziara membawa paper bag makanan.


"Makanan," jawab Ziara seadanya.


"Yaudah buat gua sama temen-temen aja, kebetulan laper." Bani langsung merebut paper bag makanan tersebut dari tangan Ziara.


Ziara sedikit terkejut. "Bang!"


"Makan gays!" Bani memberikan paper tersebut pada Fiki.


Bani hendak ikut masuk ke bengkel namun langsung di tarik oleh Ziara. Ia di tarik ke belakang bengkel oleh Ziara.


"Gak punya hati lo, Bang!" lontar Ziara dengan mata yang memerah.


"Apan sih lu."


"Lo mikir gak sih! Gue bawa makanan juga buat Nari, Lulu sama mama. Kenapa lo kasih ke temen lo!" bentak Ziara sangat sakit hati.


Bani memutar bola matanya dengan malas. "Udah tidur mereka, udah ah. Apan sih udah malem pake ngeributin makanan."


Air mata Ziara menetes begitu saya. Kakaknya sama sekali tidak berubah, selalu mementingkan temannya dari pada keluarganya sendiri. Walaupun Nari dan Lulu sudah tidur, ia bisa membangunnya dan ikut merasakan makanan mahal yang belum pernah mereka coba. Sedangkan temannya Bani, ia yakin bahkan hampir satu minggu sekali pun mereka sering makan-makanan mahal.


"Gue benci banget sama lo, Bang. Benci!" bentak Ziara dengan tangisan yang mulai pecah.


Bani berdecak malas.. "Dih pake nangis segala, kalau di denger yang lain gimana? Malu gue."


Ziara menghapus air matanya dan mencoba untuk tenang. "Pergi lo dari sini," usirnya karena percuma sampai mulut ia berbusa pun Bani tidak akan mengerti dengan semua perkataannya.


Bani tak menjawab, dan memilih untuk segera pergi.


Ziara duduk di teras rumahnya sejenak sebelum mengetuk pintu. Ia takut ibunya malah khawatir melihatnya pulang-pulang menangis.


Setelah berhasil menenangkan dirinya, Ziara segera berdiri lalu mengetuk pintu rumahnya. Ia membiarkan motornya di depan bengkel karena memang biasa di yg di bengkel.


Tok tok.


"Assalamualaikum."


Pintu terbuka, terlihat ibunya yang membuka pintu untuknya. " Waalaikumsalam. Baru pulang?" tanya Zula.


"Iya, Mah."


"Yaudah masuk."


Ziara masuk lalu berhenti di balik pintu untuk melepas sepatunya. "Lulu sama Nari udah tidur?" tanyanya di sela-sela kegiatannya.


"Baru aja tidur," jawab Zula sambil duduk di sofa ruang tamu. "Kamu gimana tadi ketemu sama Fathan?" tanyanya karena penasaran.


Ziara berjalan ke sofa, lalu duduk. "Gak gimana-gimana, tadi di traktir makan."


"Terus kenapa mukanya kaya sedih gitu?" Zula dapat melihat mimik wajah Ziara seperti habis menangis karena pucuk hidung dan area kelompok matanya sedikit merah.


"Gara-gara bang Bani, dia ambil makanan yang di kasih pak Fathan untuk mama sama ade. Tapi malah sama bang Bani di kasih ke temennya."

__ADS_1


"Yaudah gak papa, Lulu sama Nari juga udah tidur. Maafin kakak kamu ya," urai Zula lembut agar Ziara berhenti bersedih.


Ziara mengangguk kecil. "Ziara cuma kecewa aja, padahal Zia udah seneng banget mau ngasih coba makanan itu ke Mama sama ade. Eh, malah di rebut gitu aja sama bang Bani."


Zula bangun dari duduknya lalu kembali duduk di samping Ziara. Ia mengusap lembut pucuk kepala putrinya yang terbalut jilbab. "Kak, maafin abang kamu ya. Kita doa kan semoga abang kamu bisa berubah menjadi orang lebih baik lagi," tuturnya lembut.


Ziara menoleh pada Zula. Ia menatap sendu, lalu memeluk ibunya lembut. "Ziara selalu berdoa untuk abang, Mah. Zia sayang sama abang tapi entah kapan abang bisa sayang juga sama kita," ungkapnya dalam pelukan Zula dengan air mata yang kembali mengalir.


Zula mengelus lembut punggung putrinya. Ia paham perasaan Ziara sekarang, ini memang sangat menyakiti hatinya. Namun, ia juga tak bisa melakukan apa pun selain bersabar dengan perilaku Bani.


"Sekarang kamu tidur yah, sudah malam."


Ziara melepaskan pelukannya lalu menghapus air matanya. "Iya, Mah. Zia ke kamar yah," jawabnya kemudian berdiri.


Zula mengangguk sebagai jawaban, kemudian Ziara segera berjalan masuk ke dalam kamar.


______


Cklek!


Pintu rumah berbunyi saat Fathan membukanya. Ia masuk, lalu kembali menutup pintu rumah miliknya. Ia berjalan mencari keberadaan kedua orang tuanya yang menyuruhnya untuk segera pulang ke rumah.


"Assalamualaikum," salamnya saat menemukan kedua orang tuanya tengah berada di ruang tamu lantai 2.


"Waalaikumsalam," jawab kedua orang tuanya bersamaan.


"Tumben belum pada tidur. Ini ada apa sebenarnya? Kok, Abi nyuruh Fathan cepet pulang ke rumah, padahal Fathan udah izin mau keluar," seru Fathan menghampiri kedua orang tuanya. Kemudian, ia duduk di sampingnya ibunya.


"Kamu habis dari mana?" tanya ayah Fathan yang bernama Kurniawan Atharic. Namun, Fathan biasanya memanggilnya abi.


"Dari resto, Bi," jawab Fathan sambil merangkul ibunya dengan lembut.


"Dengan siapa?"


Fathan melepaskan rangkulannya, ia menatap umi dan abi nya secara bergantian. Ia kebingungan karena tak biasanya kedua orang tuanya menanyakan dengan siapa ia pergi.


"Dengan Ziara, benar?"


Fathan tersentak kaget. Mendengar celetukan abinya barusan, ia bingung dari mana abinya tau nama Ziara? Padahal sejauh ini ia tak pernah menceritakan apa pun tentang Ziara pada siapapun termasuk kedua orang tuanya. "Abi tau dari mana tentang Ziara?" tanyanya sangat penasaran.


"Audrey sudah menceritakan semuanya pada Abi dan umi."


Deg!


Fathan kembali terlonjak kaget! Audrey? Ck! Ternyata sekarang Audrey sudah mengetahui siapa siswi yang ia cintai. Ia sangat marah karena Audrey sudah mencampuri urusannya sampai menceritakan soal ini pada kedua orang tuanya.


"Dimana Audrey sekarang?" tanya Fathan ingin bertemu langsung dengan Audrey.


"Dia di kamar," jawab Kurniawan dengan nada dingin. "Duduk!"


Fathan yang hendak berdiri langsung mengurangkan niatnya saat abinya menyuruhnya untuk tetap duduk.


"Ini udah gak bener, El. Kamu mendekati anak murid kamu sendiri secara terang-terangan, bagaimana jika ada orang yang mengetahui ini semua? Apa kamu tidak malu?" lontar Kurniawan kecewa terhadap Fathan. Padahal, ia sudah sangat percaya pada putra satu-satunya ini. Ia percaya Fathan tak mungkin sampai berani mengajak seorang gadis makan berdua di restoran miliknya bak orang berpacaran.


"Fathan hanya mengajaknya makan saja, Bi. Tidak lebih, lagi pula resto ramai. Kami tidak berduaan di sana," urai Fathan mencoba menjelaskan.


"Tidak berdua, tapi sampai naik motor berboncengan?"


Fathan sedikit melebarkan matanya. Ia benar-benar terkejut mendengarnya.


"Dan sampai naik angkot berduaan," lanjut Kurniawan semakin membuat Fathan terkaget-kaget.


Kurniawan tersenyum tipis, lalu menggeleng kecil. "Abi sangat kecewa sama kamu, El." Ia dan istrinya sudah terbiasa memanggil Fathan dengan sebutan El, karena kalian tau sendiri nama asli Fathan adalah Elfathan.


"Bi, Fathan cinta sama Ziara. Dari awal Fathan ngajar di Sma Lamiar, Fathan suka sama Ziara. Tapi selama itu, Fathan tidak berani mendekati Ziara. Sekarang, Fathan berani mendekati Ziara karena sebentar lagi Ziara lulus, Bi."


Kurniawan menghela nafas berat. "Jika Ziara akan segera lulus, apa artinya kamu boleh mendekatinya?" tanyanya datar. "Tidak, El. Kamu tidak boleh mendekatinya sampai berani pergi berduaan, kamu sudah dewasa dan Abi yakin kamu mengerti maksud Abi."


Fathan terdiam.


"Abi tidak melarang kamu jika gadis yang kamu dekati, gadis seusia kamu atau lebih tua dari kamu. Itu malah bagus, kamu bisa segera melamarnya. Tapi, lihat. Ziara masih sangat muda jika kamu langsung kamu lamar," tutur Kurniawan lagi. "Setelah lulus, biarkan Ziara merasakan dunia perkuliahan dulu, biarkan dia merasakan bagaimana kehidupan setelah lulus sekolah," tambahnya.


Fathan menggelengkan kepalanya. "Ziara tidak berniat kuliah, Bi."


"Dengan alasan?" tanya Kurniawan penasaran. Mengapa Ziara tidak mau melanjutkan sekolahnya, itu sangat di sayangkan.


"Karena ekonomi keluarganya."


"Jadi Ziara dari anak keluarga sederhana?"


Fathan mengangguk kecil. "Apa Abi tidak setuju, Fathan mencari calon istri dari keluarga sederhana?" tanyanya khawatir abinya tak memberikan restu untuknya.


"Abi dan umi tidak akan mempersalahkan soal itu. Tidak masalah bagi kami, jika kamu ingin menikah dengan gadis dari keluarga sederhana yang terpenting dia gadis yang baik," jelas Kurniawan karena dulu ia juga menikahi istrinya yang terlahir dari keluarga sederhana.


"Rezeki bisa di cari, mendapat istri baik tidak datang dua kali. Kamu harus menikah dengan gadis baik dan yang benar-benar mencintaimu," pesannya pada putranya agar tidak terlalu gegabah mencari calon istri.


"Fathan akan buat Ziara juga mencintai Fathan, Bi."


"Tapi tidak dengan cara mendekatinya."


"Maksud Abi?" tanya Fathan bingung. Bagaimana cara membuat orang jatuh cinta tanpa harus mendekatinya?


"Kejarlah cinta Allah, maka dunia akan mengejarmu."

__ADS_1


Bersambung


BAGAIMANA PART KALI INI?πŸ₯ΊπŸ’—


__ADS_2