Love My Teacher

Love My Teacher
38


__ADS_3

"Apa alasannya?" tanya Ziara dengan tatapan serius. Mengapa Fathan memilih untuk memberikan kue potongan pertamanya untuknya, padahal ia bukan orang yang spesial bagi Fathan. Selain itu, semakin kesini Ziara lebih memperhatikan perilaku Fathan terhadapnya. Untuk memastikan apakah benar Fathan menyukainya atau hanya ia yang terlalu percaya diri.


Fathan menjadi grogi mendapat tatapan seperti itu dari Ziara, ia pun memalingkan wajahnya ke samping. "Tidak ada alasan, sudah kamu makan saja. Bisa kan?" balasnya dengan nada sedikit ketus, tak ada jawaban yang tepat menjawab pertanyaan Ziara selain ja harus berbohong. Mencari jalan aman itulah yang dapat Fathan lakukan.


"Oke." Ziara mengangguk paham, ia tak mau terlalu membahasnya lebih dalam. Mungkin memang benar, ini hanyalah suatu kebetulan tak ada maksud khusus Fathan memberikan padanya.


"Kamu mau naik apa pergi ke restorannya?" tanya Fathan jika Ziara tidak membawa kendaraan, ia akan menawarkannya untuk pergi bersama. Namun, setaunya Ziara tidak pernah membawa kendaraan ke sekolah.


"Paling naik kendaraan umum, Pak. Bareng Shasa, hari ini Shasa gak bawa motor."


"Yaudah, kalian ikut sama saya. Kebetulan saya sendirian."


"Emang gak papa, Pak?" tanya Ziara khawatir akan membuat kerusuhan jika ia harus ikut nebeng di mobil Fathan.


"Gak papa, emang ada yang salah?" Fathan balik bertanya karena tidak tau apa yang sedang di pikirkan Ziara.


"Takut digosipin siswi, Pak."


"Kamu takut?" Tentu Fathan tidak takut jika tiba-tiba ia menjadi bahan perbincangan murid karena ia sudah mempunyai jawabannya tepat untuk mengklarifikasi kesalahpahaman.


"Yah saya takut, karena pasti yang kena hujatan ya saya gak mungkin Bapak."


"Kenapa kamu bisa bicara seperti itu?"

__ADS_1


Ziara menghela nafas. "Nama Bapak akan tetap indah bagi para siswi," jawabnya dengan nada dingin.


"Saya akan bela kamu kalau begitu."


Deep!


Sangat menyentuh ke dalam hati Ziara ucapan Fathan barusan. Ziara tak kuasa menahan senyuman, ia pun menundukkan kepalanya lalu mengangkat sudut bibirnya membuat lengkungan senyuman tipis.


Fathan ikut tersenyum melihat Ziara yang tersipu malu. "Kamu tunggu saya di parkiran," ujarnya setelah senyumannya memudar.


Ziara mengangguk paham. "Iya, Pak. Makasih juga kuenya," balasnya sembari mengambil kue tersebut dari atas meja.


Fathan mengangguk kepalanya, kemudian Ziara segera berdiri lalu keluar ruangannya.


Bibirnya masih tersenyum tipis karena tak menyangka bisa mendapatkan kue potongan pertama Fathan. Entah mengapa hatinya sangat senang, padahal ia pun tau Fathan memberikannya tidak ada maksud khusus tertentu. Tetapi, tetap saja! Bisa di katakan Ziara sangat beruntung. Dimana saat para siswi menginginkan kue ini sampai rebutan, sedangkan ia di berikan langsung oleh Fathan tanpa meminta.


"Ziara?" panggil Shasa yang tengah duduk di kursi dekat parkiran saat melihat Ziara keluar gedung sekolah dengan wajah riang gembira.


Ziara tersenyum lebar, lalu menghampiri Shasa. Kemudian, ikut duduk di samping Shasa. "Maaf, nunggu lama ya, Sha," ujarnya sembari terus melihat ke arah kue.


"Enggak kok." Pandangan Shasa langsung terfokus pada sepotong kue yang di bawa, sebab dari tadi ia perhatikan Ziara begitu senang sampai tak melepaskan pandangannya dari kue tersebut. "Katanya gak suka kue bolu," tambahnya karena Ziara bilang tidak berniat untuk mengambil kue ulang tahun. Namun, mengapa sekarang Ziara malah mengambilnya.


Ziara mengalihkan pandangannya pada Shasa, lalu mengembangkan senyuman. "Itu tadi, sekarang jadi suka," jawabnya tersipu malu. Kemudian, ia membelah kecil bagian kue tersebut menggunakan garpu kecil bolu. "Bismillahirrahmanirrahim."

__ADS_1


Hap.


Ziara memakan kue cokelat tersebut. Jujur, sebenarnya rasa kue ini biasa saja. Enak, namun biasa saja tidak spesial baginya. Namun, yang membuatnya spesial karena kue tersebut ia dapatkan dari Fathan plus kue potongan pertama. "Emm, enak banget kuenya," ungkapnya sambil mengunyahnya dengan penuh perasaan.


Shasa mengangkat sudut bibir atasnya sambil menatap Ziara dengan heran. "Aneh kamu, Zi." Menurutnya, Ziara terlalu berlebihan padahal rasa kue tersebut tidak sampai membuatnya sealay itu.


"Kamu mau?" tawar Ziara sambil menyodorkan kehadapan Shasa.


"Enggak ah, males. Udah nyobain juga, rasanya biasa aja."


"Tapi ini beda, Sha," seru Ziara kembali mengulum senyuman.


Shasa yang sempat mengalihkan pandangannya, kini kembali memperhatikan kue tersebut. Karena ia sangat penasaran, mengapa Ziara sampai selebay ini. Jarang sekali Ziara makan dengan ekspresi yang begitu, sebab ia tau betul bagaimana Ziara.


Ziara orang yang sederhana tak pernah berlebihan.


Shasa memperhatikan baik-baik dari mulai kue, piring, garpu. Tidak ada yang aneh, namun mengapa bisa membuat Ziara seperti ini? Namun, kedua pupil matanya membesar saat sadar pada sesuatu. "Kue itu kan." Ia berhenti sejenak. "Kue potongan pertama? Pak Fathan ngasih itu ke kamu?" tebaknya sangat terkejut seakan tak percaya.


What! Bagaimana bisa kue tersebut di berikan oleh Fathan! Shasa tak percaya. Omg!!!!


Next ๐Ÿ’๐Ÿ’—๐Ÿ’–


stop ๐Ÿคจ๐Ÿ˜œ

__ADS_1


__ADS_2