Love My Teacher

Love My Teacher
18


__ADS_3

"Apa sih! Gak usah nuduh-nuduh orang deh lo!" sengit Kirana.


"Dih! Minimal jadi orang tuh sadar diri, lupa sama kejadian barusan kalian juga nuduh Ziara bohong kan. Eh tau-taunya lo sendiri yang ambil, gak punya malu banget!" balas Shasa tak kalah tajam.


"Sudah-sudah!" lerai Fathan pusing mendengar mereka bertiga ribu.. "Kirana, Melani besok bawa orang tua kalian ke ruang bk. Jika tidak, saya dan guru bk yang ke rumah kalian."


"What! Please, jangan bawa-bawa ortu, Pak. Bisa-bisa saya di omelin abis-abisan, Pak," mohon Melani panik.


"Saya juga, Pak. Kami niatnya cuma becanda kok, Pak."


"Saya tidak peduli!" tegas Fathan tak akan merubah keputusannya. "Catat semua materi yang saya berikan!" lanjutnya kemudian keluar kelas.


"Ah! Lo sih!" jerit Melani kesal.


"Lo! Ngapain marah sama gue!"


"HUUU!"


Semua menyoraki Melani dan Kirana. Namun, tak lama mereka segera mengeluarkan buku tulis untuk siap-siap menulis materi yang Fathan berikan.


***


Ziara menoleh ke arah pintu ketika mendengar pintu terbuka. Terlihat Fathan yang masuk dengan wajah datarnya, dan tanpa berbicara apa pun padanya Fathan langsung duduk di kursinya. Tetapi, Ziara mencoba kembali fokus dengan kegiatannya.

__ADS_1


Pandangan Ziara langsung terfokus pada notifikasi WhatsApp yang muncul di layar atas, dan ia tak sengaja membaca isi pesan tersebut.


Audrey


[Aku gak habis pikir sama kamu, kenapa bisa suka sama murid didik kamu sendiri!😡]


Ziara mengerutkan keningnya. 'Menyukai murid didik? Jadi pak Fathan suka sama salah satu siswi di Sma ini?' Batinnya.


'Siapa siswi yang di sukai pak Fathan? Sulit nyari taunya, soalnya kan pak Fathan baik banget ke semua orang.'


"Tau, ah! Gak penting juga, kan yang pasti bukan saya orangnya.'


Tring!


Kontak bernama Audrey kembali mengirimkan pesan.


Audrey


[Kalau sampe tidak kamu balas! Aku datang ke sekolahan kamu sekarang!]


Pupil kedua bola mata Ziara sedikit melebar. Sekarang sepertinya ia harus segera memberitahu pada Fathan tentang pesan ini karena ini cukup penting. "Pak, ini ada pesan masuk," serunya ragu-ragu.


Fathan yang sedang sibuk dengan komputernya sedikit menoleh sekilas. "Abaikan saja," balasnya tak peduli dengan pesan masuk di ponselnya karena ia rasa tidak ada yang penting.

__ADS_1


"Tapi kayanya ini penting, Pak."


Fathan menghentikan kegiatannya, lalu menatap Ziara. "Kenapa kamu bisa bilang gitu? Apa kamu baca pesannya?"


Skakmat! Ziara menyesal memberitahu Fathan barusan. Diam memang lebih baik, lalu sekarang ia harus menjawab apa? Apa ia harus berkata jujur bahwa ia memang sudah membacanya, walaupun itu tak sengaja tapi tetap saja bukan itu tidak sopan? Ah! Rasanya ia ingin kabur dari sini sekarang.


"Jika ada pesan masuk kamu abaikan saja dan tidak perlu kamu baca, kamu fokus mengerjakan tugasmu saja. Paham?" perintah Fathan dengan nada datar namun menakutkan bagi Ziara.


Ziara mengangguk kecil. "Paham, Pak."


"Oke, coba ulangi apa yang saja katakan barusan?"


Deg!


Ziara langsung terlonjak kaget. Pertanyaan simple namun membuatnya sangat gugup. "Kalau ada pesan masuk, abaikan saja dan gak perlu saya baca tapi kalau gak sengaja gak apa-apa toh? Kan gak sengaja, Pak?" jawabnya polos.


Fathan tersenyum kecil, lalu mengangguk. "Iya gak papa kalau gak sengaja."


Ziara tercekat melihat senyuman Fathan. Walaupun hanya senyuman kecil namun tetap saja itu membuat Ziara senang karena ini pertama kalinya ia mendapatkan senyuman dari Fathan.


"Sudah jangan bengong, cepet kerjain," suruh Fathan membuyarkan lamunan Ziara.


"Oh iya, Pak." Reflek Ziara langsung mengambil pulpen lalu segera lanjut menulis jawaban soalnya.

__ADS_1


"Kamu sudah makan?" tanya Fathan basa-basi karena sebenarnya ia ingin mengobrol lebih banyak dengan Ziara.


next or stop


__ADS_2