
"Sudah, Pak," jawab Ziara tanpa menoleh.
"Ziara, jika perlakuan saya di depan orang yang lain kurang baik. Saya mohon ke kamu, jangan masuk kan ke hati. Saya begitu bukan karena saya gak suka sama kamu, tapi gimana ya bilangnya."
"Gimana apa maksudnya?"
"Udah, pokoknya kamu jangan masukan ke hati ya. Kalau ada kata-kata saya yang bikin kamu sakit hati, kamu harus bilang ke saya."
Ziara mendongak menatap Fathan. "Emang Bapak peduli saya sakit hati atau enggak?"
"Saya peduli, kamu murid saya. Pasti saya peduli, saya sayang sama kalian semua. Saya sudah menganggap kalian seperti adik kandung sendiri."
"Lalu kenapa hanya saya yang di perilaku kan berbeda dari yang lain?"
"Itu mungkin perasaan kamu saja."
"Kalau hanya perasaan saya saja, gak mungkin murid lain sampe ngatain saya babu bapak."
"Astaga, siapa yang bilang seperti itu? Kasar sekali perkataannya."
Ziara tak membalas karena tidak mau memperpanjang masalah ini.
Bersamaan Ziara dan Fathan menoleh ke kolong meja saat ballpoint yang di gunakan Ziara tak sengaja terjatuh.
__ADS_1
"Biar saya yang ambil," ucap Fathan sambil mengulurkan tangannya ke bawah meja tanpa menunduk karena kursinya sudah mentok ke dinding akan sangat sulit jika ia harus masuk ke dalam kolong meja.
"Gak usah, Pak," tolak Ziara ikut mengulurkan tangannya ke bawah meja tanpa menunduk.
"Gak biar saya aja yang ambil." Fathan terus meraba-raba lantai untuk mencari ballpoint tersebut yang terjatuh.
"Gak usah, Pak."
Deg!
Serempak kedua pupil mata Ziara dan Fathan membesar ketika merasakan tangan mereka berdua tak sengaja bersentuhan di bawah meja.
Jantung mereka berdua langsung berdetak tak beraturan karena ini pertama kalinya mereka bersentuhan kontak fisik. Di sekolah Sma Lamiar memang di larang seorang guru laki-laki bersalaman sampai bersentuhan dengan siswi dan itu sebaliknya guru wanita tidak boleh bersentuhan dengan siswa.
Mereka membiarkan kedua tangan mereka bersentuhan beberapa detik. Tetapi, saat tersadar mereka langsung menjauhkan tangannya.
Kini mereka berdua sama-sama grogi dan salah tingkah.
Ziara duduk dan kembali mencoba mencari ballpointnya sambil menahan gugup.
Fathan segera berdiri lalu melangkah ke arah lemari. "Kamu cepat selesai tugasnya, bentar lagi bell pergantian pelajaran berbunyi," pesannya dengan gaya seolah-olah tidak merasa gugup sedikit pun.
"Baik, Pak," jawab Ziara setelah berhasil menemukan ballpointnya.
__ADS_1
Fathan memegang lemari sambil menyentuh dadanya yang masih berdebar-debar. Ia masih tak percaya barusan tangan mereka saling bersentuhan.
Tiba-tiba suasana terasa panas baginya. Ia beberapa kali menarik nafas dalam untuk mengontrol dirinya.
Ziara yang sedang menulis sedikit melirik ke arah Fathan yang tengah membelakanginya.
'Aduh, deg-degan banget.' Batinnya sambil memegang dadanya.
Bohong jika Ziara tidak merasakan suatu getaran yang aneh di hatinya saat bersentuhan dengan Fathan. Apa ini semua? Ziara tak mengerti apa yang sebenarnya ia rasakan.
Cinta?
Apa itu cinta? Apa itu mungkin?
Ziara mencintai Fathan?
Tidak! Ziara segera menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tidak mungkin ia menyukai gurunya sendiri, apa lagi menyukai seorang guru yang sangat menyebalkan.
Apa mungkin hanya sedikit sentuhan yang di sengaja bisa membuatnya jatuh cinta?
'Gak, Ziara. Gak mungkin kamu suka sama pak Fathan.'Batinnya.
besok kan puasa terakhir mungkin author gak update , kemungkinan update tgl 28
__ADS_1
jangan bosen nunggunya
next ๐๐๐ or stop ๐คจ๐คจ๐คจ