
Fathan tertawa kecil. "Bisa gitu ya, Bu."
"Bisa atuh, Pak. Katanya kalau di ajar sama guru ganteng gini bikin seger mata, gak bikin ngantuk."
"Haha!" Murid-murid tertawa, terutama para siswi yang kesenangan mendengarnya. Menurut mereka Irma satu hati dengan apa yang mereka rasakan.
Shasa melirik Ziara, di saat semua orang senang karena mendapat tambahan waktu Fathan mengajar. Namun hanya Ziara lah orang yang paling tidak bahagia mendengar kabar ini. Terlihat dari raut wajahnya saja Ziara sangat sedih dan tidak bersemangat.
"Ra, jangan sedih terus," seru Shasa sambil menyenderkan kepalanya ke bahu Ziara.
Ziara yang sedari tadi sedikit melamun langsung tersadar lalu menoleh kepada Shasa. "Aku gak sedih kok," balasnya mengelak.
"Tapi wajah kamu nujukin kalau kamu gak suka pelajaran pak Fathan."
"Aku berusaha untuk tetap suka sama pelajarannya, Sha. Walaupun sama gurunya gak suka."
__ADS_1
"Shasa! Duduk yang benar!" tegur Fathan saat melihat posisi Shasa yang duduk sambil bersandar ke bahu Ziara.
Shasa langsung menegakan tubuhnya dengan perasaan kesal. "Iya, Pak."
"Oke kita lanjutin yang tadi yah, terakhir dari Elma kan? Yuk samping Elma, Sania lulus Sma mau lanjut kemana?" Fathan kembali melanjutkan kegiatan tadi yang sempat terhenti.
Setelah semuanya di beri pertanyaan, Fathan segera meminta anak muridnya mengeluarkan buku paket bahasa Inggris yang di miliki semua muridnya.
Setelah 2 jam setengah mereka melakukan kegiatan belajar mengajar akhirnya bell pulang berbunyi. Fathan segera menyuruh semua murid untuk bersiap-siap untuk pulang.
"Oke, anak-anak terima kasih untuk hari ini. Semoga apa yang saya sampaikan bisa bermanfaat untuk kalian semua. Jangan lupa juga untuk di baca kembali di rumah materi yang tadi kita pelajari," tutur Fathan sebelum murid-murid keluar kelas.
"Silakan kalian sudah boleh pulang."
"Yeyyy!" Mereka bersorak dan buru-buru keluar kelas. Tetapi, ada beberapa yang masih duduk di kursi karena masih memasukan alat tulisnya termasuk Ziara yang santai memasukan buku-bukunya ke dalam tas.
__ADS_1
Ziara memang sengaja tidak buru-buru keluar karena menunggu Fathan keluar terlebih dahulu. Namun, sampai di kelas hanya tersisa ia dan Shasa. Fathan masih terlihat sibuk mengutak-atik laptopnya dan belum ada tanda-tanda untuk keluar kelas.
Dengan cepat Ziara segera menggendong tas miliknya sebelum Fathan tahu jika ia masih disini. "Gak usah nyapa, Sha," bisiknya dan langsung di angguki setuju oleh Shasa.
"Ziara?"
Ziara yang baru saja akan melangkah langsung terhenti. Ia menoleh ke arah Shasa yang sudah jalan duluan dan sekarang sudah di ambang pintu, lalu ia menoleh pada Fathan . "Kenapa, Pak?" tanyanya dengan detak jantung yang mulai berdegup kencang karena takut.
"Coba kamu liat," tunjuk Fathan pada kertas jadwal piket yang menempel di dinding samping kanan papan tulis. "Besok jadwal kamu piket kelas kan?" tanyanya sambil menatap wajah Ziara.
Ziara mengangguk kecil. "Iya, Pak."
"Saya minta, kamu piketnya sekarang. Kalau kamu piketnya besok pagi nanti ganggu siswa yang lagi duduk."
Ziara terkejut mendengarnya. Sejak kapan ada peraturan seperti ini? Selama dari kelas 10 sampai sekarang semua murid disini selalu piket pagi-pagi jarang sekali jika piket pulang sekolah. "Tapi, Pak. Semuanya juga gitu, besok pagi baru di sapu," balasnya menolak lagi pula sejak kapan Fathan peduli dengan jadwal piket anak muridnya.
__ADS_1
💓💓💓💓
next