
"Omg ganteng banget," pujinya takjub karena pertama kalinya melihat Fathan bermain basket di sekolah. Pantas para siswi sampai histeris menonton pertandingan ini karena melihat Fathan yang begitu tampan di tengah lapangan
Semua belum melihat Fathan memakai seragam basket Sma ini, namun wajah terlihat masih sangat cocok menjadi anak Sma. Padahal wajar saja jika terlihat cocok karena Fathan memang masih muda.
Shasha senyum malu sambil menutup mulutnya, kedua pipinya terasa hangat karena salah tingkah hanya karena melihat Fathan bermain basket dengan wajah setampan itu.
Ziara ikut terkejut namun tidak terlalu memikirkan itu semua, ia tidak tertarik untuk menonton.
Ia menoleh pada Shasa yang di sampingnya, kedua alisnya langsung bertaut karena melihat Shasa yang senyum-senyum sendiri.
"Kamu kenapa, Sha?" tanya Ziara kebingungan.
"Liat, Ra. Pak Fathan ganteng banget," balas Shasa tanpa menoleh ia terus memperhatikan Fathan dari jauh.
Ziara kembali menoleh ke arah lapangan. Yeah memang ia tak bisa menangkal ucapan Shasa barusan, Fathan memang sangat tampan. Namun tak sampai membuatnya salah tingkah seperti itu.
"KYAAA!"
"Pak Fathan!"
"GANTENG BANGET!"
__ADS_1
"SEMANGAT PAK!"
Teriakan para siswi tak hentinya sedari tadi. Mereka terus memuji dan memberikan semangat untuk Fathan dan timnya yang tengah melawan tim Reo dan Arkan.
"Sha, ke kelas aja yuk. Disini rame banget, pusing aku dengernya," ajak Ziara namun tak di hiraukan oleh Shasa yang ikut-ikutan histeris memberi dukungan pada Fathan bersama siswi lain.
Ziara menunduk sejenak menunggu Shasa.
"Istirahat-istirahat!"
Ziara segera mendongak karana pikirnya ini kesempatannya bagus untuk mengajak Shasa ke kelas. Ia sudah tak sanggup jika harus berlama-lama di sini karena matahari hari ini lumayan terik.
Shasa menoleh ke belakang. "Kenapa, Ra?"
Kerumunan yang tadi di depan Ziara sedikit bubar karena ada beberapa yang memutuskan untuk pergi ke kantin terlebih dahulu sebelum pertandingan di lanjutkan kembali. "Ayo ke kelas," ajaknya lagi.
"Tar aja ke kelasnya, kita liat sampe selesai dulu. Kita harus kasih dukungan untuk wali kelas kita, Ra," jawab Shasa dengan ekspresi sangat gembira.
"Tapi, Sha. Ini kan cuma main biasa bukan pertandingan resmi sekolah, ke kelas aja yuk." Ziara masih bersikeras mengajak Shasa ke kelas karena ia tak mau pergi ke kelas sendirian.
"Jarang-jarang loh liat guru main basket, Ra. Yaudah kamu ke kelas duluan aja," balas Shasa kembali menoleh ke arah lapangan.
__ADS_1
"Oh yaudah." Sebelum pergi Ziara melihat ke arah lapangan namun lebih tepatnya pada Fathan yang tengah duduk sambil meneguk minuman dinginnya.
Deg!
Jantung Ziara langsung berdegup kencang saat Fathan menatap ke arahnya. Walaupun jaraknya lumayan jauh, tetapi ia yakin sekarang mereka tengah saling tatapan.
Kedua pupil matanya melebar ketika Fathan berdiri dan berjalan ke arahnya. Sontak, Ziara langsung memundurkan tubuhnya lalu bersembunyi di belakang Shasa. Besar harapannya bahwa ini semua hanya salah liat, tidak mungkin bukan jika Fathan menghampirinya, untuk apa?
Ia menutup matanya dalam-dalam dengan kedua alis bertaut. 'Enggak, gak mungkin pak Fathan dateng kesini.' Batinnya.
"Ziara?"
Deg!
bersambung
next or stop ๐คจ
๐๐๐๐๐๐lop lop satu kebun hhha
jangan lupanya biar author semangat upp
__ADS_1