Love My Teacher

Love My Teacher
33


__ADS_3

Ziara masuk ke dalam kelas, di dalam sudah ada beberapa teman sekelasnya yang datang. Kemudian, ia duduk di kursinya sambil melepaskan gendongan ranselnya.


"Zia, mau ikut bayar patungan gak?" celetuk Eren teman sekelasnya.


"Patungan buat apa?" tanya Ziara bingung.


"Buat bikin perayaan ulang tahun pak Fathan."


"Pak Fathan ulang tahun?" tanya Ziara tidak tahu kapan ulang tahun Fathan.


"Ck. Iya masa gak tau ulang tahun wali kelas sendiri sih," jawab Eren heran. Bisa-bisanya Ziara tak tahu tanggal ulang tahun guru kesayangan siswi Sma 1 Lamiar.


"Iya, aku gak tau."


"Ada apa nih?" tanya Shasa yang baru saja datang.


"Sha, sini bayaran patungan buat ngerayain ulang tahun pak Fathan," pinta Eren sambil mengulurkan tangannya kehadapan Shasa.


"Ogah gua! Mending buat jajan cimol mbak Tami," tolak Shasa sambil membuka tasnya untuk mengambil ponselnya.


"Ih dasar pelit! Kita gak boleh kalah sama kelas sebelah, masa kita yang wali kelasnya pak Fathan ngerayain ulang tahunnya sederhana. Sedangkan yang lain aja heboh."


"Kelas sebelah?" tanya Ziara. "Emang kelas sebelah juga ikut ngerayain?"


"Iya lah, nih asal lu berdua tau ya. Dari kelas sebelas sampe kelas dua belas pada ngerayain, coba lu pada bayangin berapa kue ulang tahun yang bakal di dapet pak Fathan?" Eren menceritakan.


Ziara terkejut bukan main, begitu banyak yang menyukai Fathan. Itu membuatnya menjadi tak percaya diri, dan merasa hilang harapan untuk mendapatkan Fathan.


'Gak mungkin siswi yang di sukai pak Fathan itu kamu Ziara. Coba kamu lihat berapa siswi cantik dan sempurna di Sma ini?' Batinnya kecewa.


"Lo berdua juga harus tau, tuh si Beby anak kelas Ipa 1 yang pinter banget itu. Katanya mau nembak pak Fathan tau," cerita Eren heboh.


Ziara tercekat mendengarnya.


"Hah? G*la kali." Shasa tak habis pikir jika itu semua sampai terjadi. "Artinya si Beby gak punya malu kalau sampe nembak pak Fathan, belum lagi kalau sampe ketauan kepala sekolah. Euh, auto dikeluarin sih dari sekolah." Shasa tak yakin jika Beby berserius akan menyatakan cintanya pada Fathan.

__ADS_1


"Tapi ada kemungkinan di terima tau sama pak Fathan, kan Beby cantik, pinter, cocok lah mereka."


Ziara yang menunduk langsung mendongak ke arah Eren yang bercerita. Entah mengapa hatinya sakit mendengar itu semua, ia tau jika hal itu sampai terjadi bukan hanya dirinya yang merasakan kecewa. Bahkan hampir semua siswi Sma ini akan merasakan patah hati sepertinya.


'Mereka cocok? Tapi kenapa hati ini gak rela banget dengernya.'


'Ziara kamu gak suka sama pak Fathan, berhenti seperti ini.'


Batin Ziara bergelut dengan hati dan pikirannya. Ia harus berusaha menyadarkan dirinya karena tidak mungkin Fathan menyukainya.


Tring!


Kefokusan Ziara teralihkan saat mendengar notifikasi pesan masuk ponselnya berbunyi yang di simpan di dalam tas. Ia segera mengeluarkan ponselnya karena penasaran siapa orang yang mengirimkannya pesan sepagi ini.


Pak Fathan.


Semangat belajarnya Ziara:*


Ziara menatap tak percaya, ia mengulum senyuman. Kalian harus tau perasaan Ziara seperti baterai lemah yang langsung terisi full.


"Pokoknya kalau sampe si Beby jadian sama Fathan luv-luv gue, gue bakal bikin akun fake buat teror si Beby," tambah Eren sambil memicingkan matanya.


"Dih, tadi muji-muji si Beby cocok sama pak Fathan kok sekarang malah ngancem begitu," seru Shasa tak habis pikir.


"Gak akan ada yang rela pak Fathan manisku, pacaran sama si Beby."


Shasa memutar bola matanya. "Berapa patungannya?" tanyanya agar Eren segera pergi dan berhenti bercerita.


"Bebas sih, kalau mau satu juta gak papa."


"Satu juta bapak lo! Kamu pikir uang satu juta itu puing-puing kertas."


"Aduh, lu miskin sih makanya baru denger gitu aja langsung shock berat."


"Dih! Nih gocap, berdua gue sama Ziara," balas Shasa sambil memberikan selembar uang berwarna biru.

__ADS_1


Eren mengambilnya dengan gaya centil. "Oke deh, bye. Jangan lupa juga bikin kado." Ia segera pun segera pergi.


"Utang aku lunas ya, Ra." Shasa nyengir kuda, ia membayar hutangnya sebesar 25ribu.


Ziara menganggukkan kepalanya. "Padahal gak di ganti juga gak apa-apa."


"Harus di bayar dong."


Ziara tersenyum sangat manis. Bukan! Bukan senyum karena jawaban Shasa barusan, namun karena teringat pesan masuk dari Fathan. Ia berniat untuk membalas pesan tersebut, namun ia pikir lagi lebih baik abaikan saja. "Kapan acara perayaan ulang tahun pak Fathan, Sha?" tanyanya karena Eren tak memberitahunya.


"Hari senin," jawab Shasa tanpa menoleh karena fokus pada layar ponselnya.


Ziara tak menjawab, memikirkan hadiah apa yang harus ia berikan pada Fathan. Pasti banyak siswi yang akan memberikan Fathan hadiah mahal, sedangkan jika harus membeli barang mahal Ziara tidak sanggup.


'Tar pikirin di rumah aja deh.'Batinnya.


****


Hari senin telah tiba kini para siswi kelas 11 dan 12 tengah sibuk mendekor lapangan untuk merayakan hari ulang tahun Fathan. Rencana mereka berubah yang tadinya berniat untuk merayakan di kelas masing-masing tapi tak jadi karena jika seperti itu malah akan membuang banyak waktu dan perayaannya tidak seru.


Oleh karena itu, serempak saat rapat hari sabtu kemarin mereka semua sepakat untuk merayakan di lapangan saja dengan dekorasi kecil-kecilan. Mereka berani karena sudah mendapatkan izin dari pihak sekolah, dengan syarat tidak terlalu berlebihan acaranya dan saat jam istirahat harus sudah selesai.


Ziara dan Shasa tengah santai duduk di kursi pinggir lapangan hanya menontoni teman sekolahnya yang sibuk mundar-mandir di tengah lapangan. Mereka berdua tidak di perintahkan untuk ikut membantu, jadi Ziara dan Shasa memilih diam saja.


"Jam berapa sih ini?" tanya Shasa pada Ziara yang memakai jam tangan.


Ziara menoleh ke arah jam tangannya. "Baru setengah tujuh, Sha."


Shasa mengangguk sambil menyedot jus mangganya. "Pasti Fathan bentar lagi dateng."


"Kayanya sih."


"BEBY!" Beberapa siswi meneriaki Beby yang baru datang sembari memegang sebuah buket bunga.


Next ๐Ÿ’๐Ÿ’—๐Ÿ’–๐Ÿ’–

__ADS_1


stop ๐Ÿคจ๐Ÿคจ๐Ÿคจ


__ADS_2