
Sikap seperti ini yang membuat Bani berbuat semaunya karena ibunya selalu berpihak padanya dan memaklumi perbuatannya yang sebenarnya sudah sangat keterlaluan. Ia tak masalah jika ini hanya menyangkut dirinya sendiri, namun ia kasian dengan adik-adiknya.
"Mah, kita semua tau kak Bani niatnya baik. Tapi kalau tiap hari begini udah keterlaluan, Mah. Lagian kalau mau berbagi lebih baik ke orang-orang yang membutuhkan kan?" balas Ziara.
"Semua temen kak Bani anak orang, kalau cuma di suruh bayar kopi, jajan begitu gak seberapa. Permasalahannya cuma satu, ya itu di kak Bani yang so-soan pengen jadi orang paling baik dengan cara menyulitkan keluarganya," tutur Nari. "Nari muak! Kak Bani gak sayang sama kita semua."
"Mah, bikinin mie goreng satu dong buat temen Bani," celetuk Bani sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
Semua menoleh kepada Bani.
"Gak kasian sama Mama, Bang? Gak sadar lo udah durhaka sama Mama? Tiap hari lo cuma bisa nyuruh-nyuruh doang! Pikir dong, Bang!" marah Ziara membuat Bani terkejut karena tiba-tiba di marahi.
__ADS_1
"Alah! Skip gak penting! Udah, Mah. Mending bikinin mie goreng di warung," balas Bani seolah ucapan Ziara barusan masuk kuping kanan keluar kuping kiri.
"BANG COBA DENGERIN DULU!" bentak Ziara dengan emosi yang memuncak. "KAPAN ABANG SADAR! BERHENTI SEOLAH-OLAH ABANG ANAK ORANG KAYA! KITA BUKAN ORANG KAYA LAGI SEKARANG!!" jeritnya sudah tak tahan dengan sikap Bani.
"Apa sih lu! Tiba-tiba marah gak jelas dasar! Apa yang lo ributin sekarang? Cuma gara-gara gue selalu ngasih jajan gratisan sama temen-temen? Pelit banget lo jadi orang!"
Deg!
"Banyak temen gua yang suka sama lo, tapi gak gue izinin buat deketin lo karena kasian gua sama mereka kalau sampe dapet calon istri pelit kaya lo!"
Ziara tercekat, bola matanya mulai berkaca-kaca. Jahat sekali perkataan kakaknya sendiri, mengapa Bani bisa berbicara sekasar itu pada adik perempuannya?
__ADS_1
"Rajin ibadah tapi pelit, sama aja lo sama orang yang gak pernah ibadah! Mending gua lah, walaupun gak rajin amat ibadah tapi gua gak pelit buat berbagi."
"Bani," tegur Zula karena rasa Bani sudah sangat keterlaluan.
"Kenapa, Mah? Mau bela anak solehah Mama ini?" tanya Bani marah.
"Gue rajin ibadah karena itu kewajiban. Istighfar, Bang. Ucapan lo barusan bisa menjerumuskan diri lo sendiri. Gue pelit? Gak salah? Lupa lo berapa sering lo minta uang tabungan gue cuma buat di hambur-hamburkan sama temen-temen kaya lo itu? Bayangin gue rela jajan ngirit di sekolah, sengaja gue tabung untuk kebutuhan lain."
"Tapi gue ikhlas kasih itu semua untuk lo, Kak. Gak papa walaupun hati gue sakit, sakit bukan karena uangnya. Tapi karena lo lebih peduli sama temen lo dari pada adik dan keluarga lo sendiri. Kayanya walaupun lo liat adik-adik lo kelaperan lo pasti gak peduli sih."
Ziara menyeka air matanya yang mulai menetes. "Sakit banget, Bang. Tiap hari liat lo cuma begitu, coba bayangin kalau lo beneran kerjanya di bengkel. Pasti lo bisa bantu perekonomian keluarga, kenapa lo selalu nolak mereka buat bayar sih?"
__ADS_1
next 💓 or stop 🤨🤨🤨