Love My Teacher

Love My Teacher
24


__ADS_3

Ziara langsung melotot ketika mengetahui siapa orang yang ibunya maksud.


'Pak, Fathan. Kenapa dia bisa disini?' Batinnya shock berat.


"Tuh kan, kamu aja sampe shock gitu liatnya. Ganteng banget kan," seru Zula sambil tersenyum meledek.


"Enggak, aku kaget bukan karena gantengnya. Tapi karena itu wali kelas aku, Mah."


"Kamu seriusan? Panggil kesini dong, kenalin sama Mama. Siapa tau bisa jadi mantu kan."


"Uhuk!" Ziara tengah meneguk minuman tersedak mendengar ucapan ibunya barusan. "Mah, minimal sadar lah. Emang anak Mama spek bidadari sampe bisa dapetin suami modelan begitu?" serunya tak habis pikir mengapa Ibunya bisa berpikiran bisa menjadikan Fathan mantunya.


"Ih, emang kenapa? Kamu cantik, Kak."


"Mah, modal cantik dikit gak cukup buat jadi istri pak Fathan."


"Oh namanya Fathan toh, dia anaknya baik banget terus ramah banget lagi."


'Mama gak tau aja gimana aku di perlakukan seperti apa sama pak Fathan di sekolah.'Batin Ziara.


"Keliatan masih muda banget lagi, baby face yah mukanya," puji Zula membuat Ziara cengo.


"Baby face? Pak Fathan emang masih muda, Mah. Usianya kalau gak salah baru 20 tahun."


"Loh, terus pas dia ngajar di sekolah kamu usia berapa?"

__ADS_1


"19 tahun."


"Hah? Kamu seriusan? Emang bisa?"


"Ya aku sebenarnya gak tau yah, mungkin karena pak Fathan kenal sama kepala sekolah. Selain itu juga pak Fathan itu pinter, dan katanya juga dia lulusan pondok kalau gak salah sih," jelas Ziara sepengetahuannya saja.


"Masyaallah, keren banget yah. Beruntung sekali wanita yang bisa jadi istrinya, tapi mama berdoa semoga kamu yah jodohnya."


Ziara terlonjak kaget. "Mah," tegurnya meminta ibunya berhenti berharap seperti itu.


Dari arah bengkel Fathan tak sengaja melihat keberadaan Ziara. Walaupun ia hanya melihat dari punggungnya saja, namun ia yakin itu adalah Ziara.


"Eh itu, Ziara," seru Bani saat melihat Ziara di depan warung. "ZIARA!" panggilnya dengan berteriak.


"Sini, De! Ada wali kelas lu, nih."


"Sana samperin, bawa kesini," perintah Zula kesenangan.


"Ih Mama gak mau!" tolak Ziara malu.


"Udah gak papa, Bang. Biar saya yang kesana, kebetulan saya mau beli minuman," ucap Fathan kemudian berdiri dari duduknya sambil mengambil ponselnya yang tadi tergeletak di kursi panjang yang ia duduki barusan.


"Oh oke-oke."


Ziara melotot melihat Fathan yang datang menghampiri, badannya menjadi gugup. Ia bingung harus menyapa apa pada Fathan.

__ADS_1


"Assalamualaikum," salam Fathan sambil tersenyum manis.


"Waalaikumsalam," jawab Ziara dan Zula bersamaan.


"Hallo, Ziara?" sapa Fathan basa-basi pada Ziara yang masih mematung di tempat.


Ziara mengangguk kecil. "Iya, Pak."


Zula keluar dari warung mendekati Fathan. "Hallo, Pak. Katanya ini wali kelas Ziara ya? Perkenalkan saya Zula, ibu Ziara." Zula memperkenalkan diri tanpa mengulurkan tangannya.


Fathan mengangguk kecil, lalu tersenyum. "Hallo, Bu. Saya sangat senang bisa bertemu ibu, Ziara di sekolah anak yang baik."


"Beneran Ziara baik di sekolahan?"


"Iya, Bu."


"Ziara cantik kan, Pak?"


Deg!


Ziara dan Fathan bersamaan terlonjak kaget. Ziara terkejut karena itu mempermalukan dirinya, sedangkan Fathan terkejut karena tak menyangka di berikan pertanyaan seperti itu oleh ibunya Ziara.


Fathan melirik sekilas pada Ziara, lalu terkekeh kecil. "Cantik, Bu. Ziara gadis yang manis."


next or stop 🤨

__ADS_1


__ADS_2