
Ziara tak menyangka jika Fathan bisa sebaik ini padanya. Namun yang membuatnya heran mengapa Fathan selalu bersikap kasar jika di hadapan semua orang. Sedangkan jika tengah berdua seperti ini sifatnya sangat berbeda baik, lembut.
Fathan menaikan satu alis hitamnya. "Tunggu apa lagi? Kerjakan."
Ziara menatap lekat kedua manik mata Fathan cukup lama, ia terpaku dengan ketampanan yang di miliki Fathan dan degup jantungnya tiba-tiba berdetak dengan cepat.
'Ganteng.' Batin Ziara.
Fathan pun ikut membalas tatapan Ziara. Kini ia dapat memperhatikan seluruh wajah Ziara, dan itu membuat hatinya senang sebab bisa menatap Ziara sedetail ini.
Mungkin orang lain akan mengatakan bahwa Ziara biasa-biasa saja, tidak terlalu cantik. Namun, tidak bagi Fathan. Ia sangat menyukai wajah manis yang di miliki Ziara, apa lagi saat tersenyum memamerkan satu lesung pipit di samping bibirnya, membuat senyuman Ziara semakin manis dan tambah lagi hijab putih yang ia kenakan sekarang membuat wajahnya terlihat anggun. Arghh! Ia ingin melihat senyuman Ziara lagi sekarang.
Area mata Ziara sedikit merah dan sedikit bengkak karena menangis. Namun itu tidak mengurangi kecantikannya bagi Fathan.
'Aku akan selalu menyukaimu, Ziara.' Batin Fathan dengan detak jantung yang tak beraturan karena Ziara masih memperhatikannya.
Ziara segera menunduk saat tersadar. "Makasih, Pak. Saya kerjakan sekarang," serunya lalu segera membuka buku.
Fathan tak langsung menjawab, ia menolehkan wajahnya kesamping. Kemudian, tersenyum tipis dan kedua pipinya terasa hangat karena salah tingkah.
"Saya harus ke kelas dulu untuk ngasih tugas ke yang lain, nanti saya balik lagi," balas Fathan sambil berdiri.
__ADS_1
Ziara mengangguk kecil sambil menunduk.
Fathan keluar ruangan tak lupa menutup pintunya karena takut anak muridnya tau. Jika ia tidak membawa Ziara ke ruang bk tapi ke ruangannya. Lagi pula tidak mungkin ia membawa Ziara ke ruang bk untuk apa? Karena jelas disini yang bersalah adalah dirinya.
Keadaan kelas langsung hening seketika saat Fathan masuk ke dalam. "Udah kaya anak sd aja ya, di tinggal bentar aja udah ribut-ribut," sindirnya tanpa menoleh, ia tetap fokus ke meja guru lalu mengambil satu buku paket miliknya tanpa duduk.
Semua masih diam tak ada yang menjawab.
Fathan mendongak. "Sekretaris tolong maju ke depan."
Sektretaris maju ya itu yang tak lain adalah Shasa. "Iya, Pak?"
"Tolong tulis ini semua di papan tulis, dari halaman 36 sampai 40," tunjuk Fathan sambil menunjuk bagian-bagian yang harus di catat.
"Pak ngapain nyatet sih kan udah ada buku paket!"
"Pak gitu banget sih!"
"Pak ganteng jangan banyak-banyak dong nyatetnya!"
"Saya gak akan nyuruh kalian nyatet kalau materinya sudah ada di buku paket, sudah jangan banyak komplen tulis saja," tegas Fathan tak menerima komplenan para murid.
__ADS_1
Semuanya diam tidak berani menolak, yah walaupun Fathan terkenal baik hati. Namun tetap saja, saat marah Fathan terlihat sangat menakutkan.
"Saya pengen dari kalian yang merasa ngambil buku Ziara jujur sekarang!" lontar Fathan dengan mimik wajah datar namun seperti menahan emosi. "Itu perbuatan tidak baik, kalian tidak boleh melakukan itu sama teman sendiri."
"Saya kasih satu kali kesempatan lagi untuk jujur!!"
"Jujur atau saya geledah satu persatu laci meja dan tas kalian! Kalau sampe saya tau pelakunya adalah salah satu dari kalian, saya gak main-main ngasih hukuman." Ancaman Fathan membuat murid menelan ludah dengan berat.
"Pak! Kirana yang ambil tuh di laci mejanya!" teriak Melani sambil menunjuk-nunjuk Kirana yang duduk di sampingnya.
Semua langsung menoleh ke meja Melani dan Kirana.
"Ih Melani! Kok lo nuduh gue sih! Kan lo yang ambil!" protes Kirana panik dan tak terima.
"Dih apa sih! Kok nuduh gue enak aja lo!" jawab Melani emosi.
"Ya emang lo! Jadi orang yang munafik deh lo!"
"Ya mana gue tau! Gue gak ngambil kok!"
"Ya gue juga ya gak tau! Kok bisa buku Ziara ada di laci gue!"
__ADS_1
"Halah pura-pura gak tau aja kali, gak mungkin lah tuh buku bisa jalan sendiri kalau gak ada yang mindahin!" seru Shasa ikutan emosi karena ternyata kecurigaannya benar bahwa mereka lah yang mengambil buku sahabatnya.
next ๐๐๐ or stop ๐คจ๐คจ๐คจ๐คจ