
Ziara menenangkan dirinya, lalu kembali menghadap ke arah Fathan. Kemudian tersenyum canggung. "Maafin ade saya ya, Pak. Lulu kalau becanda emang suka ngaur," ungkapnya khawatir Fathan tak nyaman dengan sikap keluarganya.
"Gak papa kok, namanya juga anak-anak."
Ziara merasa lega mendengar respon Fathan. 'Huh, syukurlah pak Fathan gak marah.'Batinnya.
"Seru yah, kalau punya banyak anggota keluarga," tambah Fathan merasa iri.
"Yah gitu, Pak. Walaupun kadang sering berantem."
"Sebesar apa pun bertengkar antara adik kakak, pasti gak akan bertahan lama. Cepet baikan, dan mudah melupakan keributannya."
"Iya betul banget, Pak. Btw Bapak sendiri di rumah tinggal sama siapa aja?" Ziara ikut balik bertanya tentang keluarga Fathan karena penasaran.
"Saya anak tunggal, dan tinggal hanya bersama kedua orang tua saya."
Ziara lumayan terkejut mengetahuinya. Ia pikir Fathan memiliki beberapa saudara. "Jadi Bapak anak tunggal, saya baru tau."
"Makanya kenalan biar tau," canda Fathan sambil tertawa kecil.
__ADS_1
Ziara tercekat. 'Pak Fathan kesambet apa sih hari ini kok baik banget? Apa karena dia lagi di sini aja makanya baik.'Batinnya tak habis pikir.
"Emang boleh ya saya tanya-tanya tentang Bapak?" tanya Ziara ragu-ragu.
"Boleh, kenapa tidak?"
"Saya penasaran, kok Bapak bisa jadi seorang guru dengan usia semuda ini?" Ziara memang sudah sejak lama ia sangat penasaran dengan pertanyaan ini. Setiap kali ia menanyakan pada temenannya, semua tidak tau.
Fathan tersenyum tipis dengan pandangan lurus, Ziara hanya dapat melihat wajah Fathan dari samping. "Sebenarnya kepala sekolah Sma 1 Lamiar itu kakak dari ayah saya, beliau tertarik menjadikan saya seorang guru. Namun, bukan karena beliau adalah paman saya tetapi karena kemampuan saya."
"Oh gitu." Ziara mungut-mungut paham. "Lalu apa benar Bapak lulusan pondok pesantren juga?" Ini adalah kesempatan bagus untuk Ziara menanyakan semua pertanyaan yang selalu ia pendam sejak lama.
"Di pesantren tersebut, bukan hanya mengajarkan ilmu agama namun setiap murid di beri hak untuk memilih beberapa kelas bahasa yang ingin kami kuasai. Kebetulan dulu saya ambil bahasa Inggris dan arab."
"Waw. Pantas Bapak keren banget."
Fathan tersenyum. "Alhamdulillah, ini semua berkat doa orang tua dan kerja keras."
Ziara mengangguk setuju. Benar, karena doa dan dukungan orang tualah yang menjadikan seorang anak menjadi hebat. "Saya boleh denger Bapak berbicara bahasa arab?" Ziara penasaran seperti apa jika Fathan berbicara bahasa arab.
__ADS_1
"Boleh." Fathan berfikir sebentar kata apa yang harus ia ucapkan. Kemudian ia tersenyum setelah mendapat ide. "Uhibbuki fie kulli lahdzotin tamuuru fie hayati."
Artinya :(Aku mencintaimu sepanjang waktu dalam hidupku.)
Ziara tersenyum senang walaupun tak tau artinya. "Artinya?" tanyanya sangat antusias karena mungkin itu adalah sebuah kata-kata baik.
"Akhofu alaika min ayyi huznin yasriku ibtisamataka," lanjut Fathan yang enggan untuk memberi tau arti dari kalimat yang ia ucapkan.
Artinya : (Aku selalu menghawatirkanmu dari setiap kesedihan yang akan mencuri senyummu.)
Ziara mengerenyitkan dahinya. Ia berubah pikiran mungkin karena kalimat yang Fathan ucapkan adalah kalimat yang tidak baik, sehingga membuat Fathan enggan untuk mengartikan.
Fathan sedikit mendongak ke arah Ziara yang tengah berdiri, lalu menatapnya dengan lekat. Ziara pun ikut menatapnya. "Yas'aluni alnaas limadha 'uhabuka. Iinahum aghbia' hqan , kayf yumkinuni 'alaa 'uhiba fatat latifat mithlaka."
Artinya :(Orang-orang bertanya mengapa aku mencintaimu. Mereka benar-benar stup*d, bagaimana mungkin aku tidak mencintai gadis imut sepertimu.)
Ziara merasakan dadanya yang berdebar-debar, entah walaupun ia tak tau arti perkataan Fathan. Namun, karena melihat Fathan begitu tulus mengungkapkannya membuatnya merasa grogi.
'Apa itu sebuah kalimat cinta?'
__ADS_1
next ๐๐๐ or stop ๐คจ๐คจ๐คจ