
"Ziara?"
Ziara yang merasa di panggil langsung menghentikan langkahnya. Kemudian mencari titik sumber suara seseorang yang memanggilnya. "Pak Fathan," guamnya saat melihat Fathan.
Fathan berjalan menghampirinya.
"Kamu sedang apa disini?" tanya Fathan karena penasaran untuk apa Ziara kembali ke dalam sekolah.
"Loh, kata Erzan Bapak manggil saya?" Ziara menjadi bingung, apa Erzan memang sengaja berbohong padanya.
"Erzan bilang gitu?"
Ziara hanya mengangguk kecil.
"Dia bohong, saya enggak ngerasa nyuruh Erzan untuk manggil kamu."
"Oh gitu ya, Pak. Yaudah, saya pergi dulu kalau gitu." Ziara langsung berjalan cepat sebelum mendengar jawaban Fathan.
Fathan baru saja hendak menjawab terpaksa kembali menutup bibirnya. Kemudian, ia berjalan mengikuti Ziara dari belakang.
"Erzan kok jahat banget bohongin aku," gerutu Ziara marah.
Ia panik saat tak melihat keberadaan Shasa. Apa Shasa meninggalkannya? Ah! Jadi Ziara harus pergi sendirian menggunakan kendaraan umum. Kedua kakinya berjalan keluar gerbang sekolah, matanya melirik ke kanan kiri berharap melihat angkot lewat dijalan raya.
Fathan berdiri di samping kanan Ziara yang tengah menengok ke arah kiri karena memperhatikan kendaraan yang datang dari arah kiri.
Ziara menyatukan alisnya saat hidungnya mencium aroma parfum yang sangat ia kenali. Ia yakin pemilik aroma parfum tersebut ada di sekitarnya, ia pun segera menoleh ke sampingnya mencari dimana orang tersebut berada.
Deg!
Ziara tercekat. Degup jantungnya berdetak dengan cepat karena terkejut Fathan berada di sampingnya. "Pak Fathan?" panggilnya belum sepenuhnya sadar.
"Yah?" balas Fathan seadanya.
"Bapak ngapain disini?" tanya Ziara bingung.
"Kamu sendiri ngapain berdiri di pinggir jalan begini, mau jualan?"
"Enggak, saya nunggu angkot."
Fathan pura-pura celingak-celinguk mencari keberadaan Shasa. "Shasa kemana? Kok kamu sendirian?" tanyanya padahal ia tau Erzan sudah mengajak Shasa pergi.
"Pergi duluan."
Fathan mengangguk paham. "Oh gitu."
__ADS_1
"Kiri!" teriak Ziara saat melihat angkot lewat. "Pak, saya duluan yah," pamitnya sebelum masuk ke dalam angkot yang berhenti di depan mereka sekarang.
"Iyah."
Ziara segera masuk ke dalam angkot, ia duduk di kursi paling belakang. Tak selang lama, kedua matanya membesar saat melihat Fathan ikut masuk ke dalam angkot dan duduk di hadapannya.
Bayangkan oleh kalian, duduk berhadapan-hadapan di dalam angkot. Bagaimana tidak grogi.
"Bapak ngapain disini?" tanya Ziara kebingungan.
"Kalau nunggu Erzan balik lagi lama, mending saya naik angkot bareng kamu kan," jawab Fathan santai dengan wajah berseri-seri. Sudah sangat lama sekali ia tak pernah naik angkot, terakhir ia duduk di dalam angkot saat ia Sma dulu.
"Gitu yah." Ziara mengalihkan pandangannya, ia menjadi gugup dan canggung dengan posisi seperti ini. Apa lagi perkataan Shasa yang mengatakan bahwa Fathan menyukainya membuat hatinya tak tenang saat berada di dekat Fathan.
Sepanjang jalan Fathan terus menatap Ziara yang tengah memperhatikan jalanan melalui jendela angkot yang terbuka. Ia tersenyum melihat wajah Ziara dari samping, sangat cantik dan membuatnya semakin jatuh cinta.
'Jika ada seseorang yang berkata semakin lama, rasa cinta itu akan semakin berkurang, saya tidak setuju. Karena, yang saya rasakan setiap hari saya malah semakin jatuh cinta pada Ziara."
Ia segera mengalihkan pandangannya saat Ziara hendak menoleh ke arahnya.
Ziara menatap Fathan hanya sekilas, kemudian ia kembali melihat ke arah jalanan.
Beberapa menit kemudian mereka semua telah sampai tujuan. Dari gerbang sekolah sampai mereka sampai tidak ada satu pun penumpang selain mereka berdua di dalam angkot ini.
"Bapak duluan yang keluar," usul Ziara.
"Berapa semuanya, Pak?" tanya Ziara berdiri di depan pintu samping supir angkot.
"Berdua, Neng?"
"Iya, Pak."
"Lima ribu."
"Ini, Pak." Ziara memberikan uang pas pada supir angkot tersebut.
"Kamu bayarin ongkos saya?" tanya Fathan yang berdiri di sampingnya.
"Iya, Pak."
"Gak usah. Jangan, Pak." Fathan menyuruh supir angkot agar memberikan kembali uang Ziara. Kemudian, ia mengeluarkan selembar uang berwarna merah lalu memberikannya pada supir tersebut.
"Gak ada uang kecil, Mas?"
"Gak papa ambil aja semuanya."
__ADS_1
"Beneran nih?"
"Iya, Pak."
"Wahh, terima kasih banyak, Pak."
Fathan tersenyum ramah. "Sama-sama, Pak."
Ziara marah karena Fathan menolak kebaikannya. Ia tau Fathan memiliki banyak uang, namun bukan berarti dia melarang Ziara untuk membayar ongkosnya sendiri.
"Ayo masuk," ajak Fathan setelah angkot tersebut pergi.
"Saya mau balik ke sekolah aja," balas Ziara dengan nada sedikit ketus.
"Loh kok gitu?" Fathan belum paham, apa yang sebenarnya membuat Ziara bersikap seperti itu.
"Gak papa." Ziara mengangkat tangan kanannya setinggi pinggangnya, kemudian ia menyemberangi jalan raya yang sedikit macet.
Fathan yang melihatnya kebingungan. Apa ia berbuat salah? Namun, apa kesalahan yang sudah ia lakukan?
"Ziara?" Fathan memanggil Ziara, namun tak di hiraukan oleh Ziara yang terus berjalan.
Ia segera menyeberangi jalan, kemudian berjalan cepat untuk mencegah Ziara yang berniat kembali ke sekolah. Ia berlari lalu berhenti di hadapan Ziara. "Ziara!" panggilannya menghadang Ziara yang hendak terus beranjak.
"Saya minta maaf kalau ada salah sama kamu, tapi tolong jangan gini," tambahnya membuat Ziara diam di tempat.
"Ayo masuk ke dalam, yang lain sudah disana," ajaknya dengan nada lembut. "Saya minta maaf sekali lagi, mungkin perlakukan saya barusan sudah menyinggung perasaan kamu. Tapi, saya sungguh tidak bermaksud apa-apa," mohon Fathan tulus. Ia sekarang mengerti mungkin karena ia menyuruh supir angkot membalikkan uang Ziara, sehingga membuat Ziara merasa tersinggung.
"Kenapa Bapak peduli? Bukannya dari dulu Bapak emang sering sekali bikin saya tersinggung dan sakit hati?" lontar Ziara terlanjur marah.
"Saya peduli, saya sangat peduli, Ziara."
Ziara memalingkan wajahnya. "Saya permisi," pamitnya hendak melangkah namun langsung di hadang oleh Fathan.
"SAYA GINI KARENA CINTA SAMA KAMU, ZIARA!" ungkap Fathan prustasi.
Deg!
Ziara tercekat. Tubuhnya terasa lemas setelah mendengar ucapan Fathan barusan. Apa ini nyata? Atau hanya hanyalah saja.
Ia memegang dadanya yang tengah berdebar-debar hebat. Perasaannya sekarang sudah bercampur aduk antara terkejut, bingung, tak percaya.
Fathan menggigit bibirnya bawahnya menahan rasa gugup. 'ARGH! FATHAN! KENAPA KAMU BISA KECEPLOSAN SIH!' Batinnya sangat menyesal.
Sekarang ia harus bagaimana? Ia sudah terlanjur menyatakan cinta pada Ziara. Apa sekarang Ziara akan marah dan takut padanya?
__ADS_1
Fathan menggepal tangannya yang gemetaran dan terasa panas dingin.
Next 💓 or stop 😜