
"Cie mau malem mingguan, ihiw!" goda Lulu kegirangan karena tau Ziara akan pergi bertemu Fathan. "Ikut dong," tambahnya terus menggoda kakaknya.
"Lulu diem," tegur Nari sembari membekap mulut Lulu dengan tangan kirinya.
"Ah! Apan sih!" teriak Lulu saat berhasil melepaskan bekapan Nari. "Dasar jahat!"
Ziara dan Zula tertawa kecil melihat kelakuan mereka berdua.
"Yaudah pergi dulu ya," seru Ziara sembari mencium punggung tangan ibunya. "Assalamualaikum!" Ia melambaikan tangan pada Lulu dan Nari sembari membuka pintu.
"Waalaikumsalam."
"BALIKNYA BAWA JAJAN YA KAK!" teriak Lulu.
"Iya-iya." Ziara naik ke atas motor maticnya yang sudah terparkir di depan rumahnya. Lalu ia memakai helmnya, setelah itu ia menstater motornya. Kemudian perlahan melajukan motornya pelan-pelan.
Di bengkel ramai banyak teman-teman Bani yang sedang menongkrong. Sontak, saat melihat Ziara beberapa dari mereka memanggil namanya. Namun ia tak menghiraukan itu semua.
"ZIA MAU KEMANA!"
"WIH MAU MALEM MINGGUAN YA!"
"ZI JANGAN LUPA BELI GORENGAN BALIKNYA!"
"ZI MAU KEMANA SIH HEY!"
"Parah banget adik lu, masa malah keluar sendirian padahal di rumahnya sendiri banyak yang ngapel nih," ujar Fiki pada Bani yang sedang merokok.
"Dih!"
"Mau kemana sih dia?"
__ADS_1
"Ke Resto Atharic."
"Loh, ngapain?"
"Ketemu wali kelasnya."
"Hah? Gila lu ya, masa ngizinin ade lu ketemu sama wali kelasnya sih?"
Bani mematikan rokoknya. Kemudian, menyeruput kopi miliknya. "Biarin aja, gue percaya sama Fathan. Gak bakal berani dia macam-macam sama ade gua, lagian dia udah izin juga ke gua." Ia santai karena tadi siang Fathan sudah meneleponnya untuk meminta izin mengajak Ziara keluar.
"Tuh si Fathan suka ape gimana sih sama Zia?" tanya Doni salah satu temannya.
"Semoga aja sih suka, kapan lagi gua punya ade ipar kaya raya."
"Dih! Matre lu!"
"Bodo."
"Gue juga kaya, Ban. Kalau lu pengen adik lu nikah sama orang kaya raya," sahut Brayden yang sedari tadi menyimak pembicaraan mereka.
Bani dapat menilai Fathan karena sudah beberapa kali main bersama. Walaupun hanya sekali nongkrong di bengkelnya, namun Fathan sering mengajak mereka nongkrong di restorannya.
____
Ziara memarkirkan motornya di halaman Resto Atharic. Ia turun dari motor setelah melepaskan helmnya, ia menoleh ke arah pintu masuk sedikit terlihat di dalam restoran cukup ramai.
Dari parkiran mobil Fathan yang sedari tadi menunggu Ziara langsung keluar mobil setelah melihat Ziara datang.
Ziara nampak kebingungan dan ragu untuk masuk, ia malu karena tak biasa pergi ke restoran apa lagi sendirian seperti ini. Ia merogoh dalam tasnya mengambil ponsel miliknya untuk menelpon Fathan dan menanyakan di mana keberadaan Fathan sekarang.
"Ziara?" panggil Fathan mengurungkan niat Ziara yang hendak menelponnya.
__ADS_1
Ziara membalikkan badannya ke belakang. Ia dapat melihat Fathan yang sedang berjalan menghampirinya.
"Hai?" sapa Fathan sambil tersenyum tipis.
Ziara terpaku beberapa detik melihat penampilan Fathan sekarang yang memaki baju kemeja putih dengan lengan kemeja yang di lipat sampai ke siku, kaos oblong abu-abu yang di bagian bawah lehernya sedikit terlihat, memakai celana hitam, dan memakai sepatu pantofel.
Ziara menganggukkan kepalanya saat tersadar. "Malam, Pak."
"Malam, gimana di perjalanan lancar?"
"Alhamdulillah lancar, Pak."
"Syukurlah, ayo masuk."
"Iya, Pak."
Mereka berjalan berdampingan namun masih berjarak. Kemudian, saat di depan pintu masuk Ziara memilih untuk berjalan membuntuti Fathan dengan menunduk.
Fathan yang sadar akan hal itu, ia pun menghentikan langkahnya.
Dug!
Ziara terlonjak kaget saat kepalanya tak sengaja menabrak punggung Fathan karena berhenti secara tiba-tiba.
"Maaf, Pak." Reflek ia langsung mendongak.
Deg!
Detak jantung mereka berdua bersamaan berdegup kencang saat mereka bertatapan. Ziara tak menyangka jika Fathan langsung membalikkan badannya menghadap ke arahnya.
"Mau mesra-mesraan jangan di jalan dong," tegur salah satu pengunjung yang hendak keluar restoran.
__ADS_1
Mereka tersentak dan langsung mengalihkan pandangannya.
"Maaf, Bu," balas Fathan ramah. Memang tak seharusnya ia berdiri di tengah jalan seperti ini. "Ayo masuk," ajaknya pada Ziara.