Love My Teacher

Love My Teacher
16


__ADS_3

Setelah bell masuk istirahat berbunyi semua murid segera kembali masuk ke kelas setelah pergi ke kantin untuk mengisi perut. Namun, sekarang Ziara masih di toilet karena menunggu Shasa yang tengah buang air kecil.


"Ah lega akhirnya," ungkap Shasa sambil membuka pintu yang langsung di sambut oleh Ziara di depan pintu.


"Sha, ayo cepetan ke kelas. Bell masuk udah dari tadi, pasti pak Fathan udah ada di kelas. Kamu tau sendiri kan pak Fathan itu guru paling tepat waktu baru denger bell aja dia langsung masuk kelas," tutur Ziara sedikit khawatir jika Fathan akan menghukumnya karena telat masuk ke dalam kelas.


"Iya, Ra. Tapi kamu tenang aja kali, pak Fathan kan sekarang udah berubah baik sama kamu, buktinya kemarin anterin kamu balik, cie."


"Ngarang kamu."


"Yaudah, ayo lari." Shasa menarik Ziara untuk berlari di koridor sepi.


Mereka berhenti sejenak di samping pintu kelas untuk mengatur nafas yang ngos-ngosan.


"Assalamualaikum," salam Ziara dan Shasa bersamaan berdiri di ambang pintu.


Serempak Fathan dan anak murid menoleh ke arah pintu. "Waalaikumsalam," jawab semuanya dengan kompak.


"Maaf, Pak. Kita telat soalnya dari toilet dulu," jelas Shasa.


"Iya, gak papa. Ya sudah cepat kalian duduk," balas Fathan yang tak berniat marah karena ia juga belum memulai mengajar.


Mereka buru-buru masuk lalu duduk di kursi mereka berdua.


"Tolong kumpulkan tugas kemarin dari saya di atas meja, saya mau langsung periksa satu-satu," perintah Fathan sambil membuka absen kelas XII Ips - 6.


"Baik, Pak."


Murid-murid yang sudah mengerjakan tugas semangat untuk mengumpulkan tugasnya, termasuk Ziara yang kini sedang mengambil buku tugas bahasa Inggrisnya di dalam tas.


"Kok gak ada?" Ziara langsung panik saat tidak menemukan buku tugasnya. Padahal ia yakin tadi pagi Shasa sudah memberikannya kembali dan ia menyimpannya di dalam tas. "Sha, buku bahasa Inggris aku udah kamu kasih kan?" tanyanya pada Shasa yang sudah mengumpulkan bukunya barusan.


"Loh udah, emang gak ada di tas kamu?" tanya Shasa balik.


"Gak ada, Sha. Gimana dong," jawab Ziara semakin panik.


"Coba aku cari di tas aku." Shasa pun ikut mengeluarkan semua buku di dalam tasnya. "Gak ada kan, Ra?" ujarnya sambil menunjukkan semua buku-bukunya.


"Duh, gimana dong, Sha. Kok bisa ilang yah?"


"Jangan-jangan di ambil sama si Melani, liat tuh. Bukannya dia gak ngerjain kok bisa ngumpulin tugas?"


"Kita gak ada bukti, Sha. Takutnya jadi fitnah."


"Terus gimana dong."


"Gak tau, Sha. Mau tulis ulang gak mungkin kan, kan gak ada soalnya."


"Aku ambil lagi aja buku aku ya, Ra."


"Yang ada bikin pak Fathan marah, Sha."


Ziara memijit batang hidungnya. Kepalanya terasa sangat berat, ia pusing harus bagaimana sekarang? Jika Fathan tau ia tidak mengumpulkan tugas pasti akan di marahi abis-abisan.

__ADS_1


Sebelum memeriksa satu persatu, Fathan menghitung semua buku murid untuk memastikan semuanya mengumpulkan tugas. "Loh kok kurang satu? Siapa yang gak mengumpulkan?" tanyanya membuat Ziara terlonjak kaget.


Ziara takut untuk jujur, namun jika tak jujur pun Fathan pasti akan mengetahui. "Saya, Pak," jawabnya sambil mengangkat tangan kanan.


Seketika Ziara menjadi pusat perhatian.


"Kenapa kamu gak ngerjain tugas dari saya, Ziara?" tanya Fathan tak percaya karena biasanya Ziara tidak mengumpulkan tugas.


"Saya mengerjakan, Pak. Tapi buku saya hilang, entah kemana."


"Kamu yakin hilang?"


Ziara mengangguk yakin. "Iya, Pak. Saya yakin karena tadi pagi aja masih ada kok bukunya."


"Yakin hilang? Apa cuma alesan aja tuh!" sindir Melani memojokan Ziara agar Fathan tak mempercayai ucapan Ziara.


"Kamu jangan bohong sama saya Ziara. Sekali lagi saya tanya, kamu mengerjakannya atau tidak?" tanya Fathan dengan tegas.


"Saya gak bohong, Pak. Saya sudah mengerjakan, Bapak bisa tanya Shasa sama Melani dan Kirana, mereka liat tadi pagi saya ngecek tugas."


"Dih apa-apan sih bawa-bawa nama gue, kalau mau bohong gak usah ngajak-ngajak kali!" protes Melani tak terima.


"Tau tuh, jangan di percaya, Pak," balas Kirana yang setuju dengan Melani.


"Kalau kamu salah ya udah salah aja. Jangan mencari alasan!" marah Fathan yang hanya di ucapannya saja. Namun, sebenarnya ia sangat mempercayai Ziara. Karena ia tau betul, Ziara siswi yang rajin mengerjakan tugas.


"Kalau begini saya tidak bisa kasih kamu nilai" lanjut Fathan membuat Ziara terserentak kaget.


Kedua bola mata Ziara mulai berair. Ia tak terima jika tidak mendapatkan nilai, setelah apa semalam ia rela tidur larut malam karena mengerjakan tugas ini. Saat ini ia hanya ingin Fathan menolongnya untuk mencari tau siapa orang yang telah mengambil bukunya.


"Sekarang kamu keluar dari kelas," perintah Fathan tanpa menoleh.


Air mata Ziara terjatuh karena sangat sakit hati. Padahal ia sangat berharap Fathan dapat mempercayainya, dan yakin walaupun Fathan tak menyukainya tapi Fathan adalah gurunya yang baik. Namun sekarang apa? Fathan malah menghancurkan harapannya.


Melani tersenyum miring. "Huuu!" soraknya langsung di ikuti teman sekelasnya.


Ziara semakin gemetaran mendengar sorakan olokan dari teman sekelasnya. Ia bukan pembohong! Hatinya semakin sakit saat melihat Fathan hanya diam tak melerai keributan ini.


"Dasar tukang bohong!"


"Pinter drama!"


"Nyari pembelaan ya dari pak Fathan!"


"Haha, tapi sama sekali gak di bela!"


"Haha!"


Ziara langsung berdiri dengan berani karena kesabarannya sudah habis. Ia tak akan membiarkan mereka meneriakinya sebagai pembohong. "SAYA BUKAN PEMBOHONG!" bentaknya pada semua orang.


"Terserah kalian mau bilang apa, tapi saya tegaskan saya bukan pembohong!" tegasnya dengan perasaan hancur. "Saya akan keluar dari sini, jika Bapak percaya sama saya." Ia sedikit mendongakkan wajahnya saat air matanya akan terjatuh.


"Selama ini saya diam, Pak. Sabar sama sikap Bapak yang jahat sama saya. Tapi sekarang saya udah gak tahan sama sikap Bapak yang sudah keterlaluan! Kenapa Bapak suka banget bikin saya malu di hadapan seluruh murid Sma ini? " lanjutnya semakin tak bisa menahan tangisnya.

__ADS_1


"Dari dulu saya pengen tau apa sih kesalahan yang udah saya perbuatan, kenapa Bapak begitu benci saya saya?" Ziara duduk kembali sembari menghapus air matanya yang terus mengalir. Ia mencoba menenangkan dirinya yang sesenggukan.


"Zia." Shasa mengelus bahu Ziara dengan lembut, ia tak tega melihat Ziara di perlakukan seperti ini oleh semua orang namun ia tak bisa berbuat apa-apa untuk membela Ziara.


"Ikut saya ke ruang bk sekarang."


"HAH!" Semua murid terlonjak kaget mendengar perkataan Fathan baeusan yang menyuruh Ziara ke ruang Bk. Namun, Melani dan circlenya sangat senang. Ia yakin Ziara akan mendapatkan hukuman.


Ziara langsung berhenti menangis, jujur ia sangat takut jika di suruh untuk ke ruang Bk. Ia takut jika guru Bk menyuruhnya untuk membawa orang tua ke sekolah.


"Sekarang," ulang Fathan berjalan keluar duluan.


Ziara berdiri dan berjalan dengan ragu-ragu.


"Huuu dasar!"


"Mampos!"


"Haha!"


Mereka meneriaki Ziara setelah keluar dari kelas.


Ziara berjalan pelan mengikuti Fathan dari belakang. Langkahnya berhenti, saat Fathan mengehentikan langkahnya di depan ruangannya.


Fathan berbalik lalu menatap Ziara. "Masuk," suruhnya lalu membuka pintu sambil masuk duluan.


Tak berfikir panjang Ziara pun masuk ke ruangan Fathan.


"Duduk," suruh Fathan yang sudah duduk saat Ziara baru saja menutup pintu.


Ziara duduk di kursi dan kini mereka saling berhadapan-hadapan hanya di batasi oleh meja.


Fathan mengambil tissue dari atas meja. "Jangan nangis, hapus air mata kamu." Ia memberikannya pada Ziara.


'Maafkan saya Ziara, maaf. Saat ini saya tidak bisa membela kamu di depan semua orang.' Batinnya sangat merasa bersalah.


'Namun saya janji, saya akan menjadi orang yang paling baik bagi kamu walaupun waktunya bukan sekarang.'


Ziara mengambilnya, lalu menghapus air matanya sambil menunduk.


"Saya gak ada maksud bikin kamu nangis, saya minta maaf sudah buat kamu sakit hati."


"Saya nyuruh kamu keluar kelas agar kamu bisa mengerjakan ulang tugasnya di luar, tidak maksud lain."


Ziara langsung mendongak, jadi ia telah salah paham pada Fathan?


Fathan mengalihkan pandangannya ke samping kanan tepatnya ke tumpukan buku. Kemudian, ia mengambil buku tulis baru lalu menaruhnya ke meja dan menggeser ke hadapan Ziara. "Kerjakan ulang tugas saya," suruhnya sembari mengambil pulpen miliknya dan meletakkannya di atas buku tersebut.


Bukan cuma itu, Fathan juga mengambil ponselnya yang tengah di charger kemudian memberikannya ke pada Ziara.


Ziara menatap ponsel tersebut, ia bingung dan ragu untuk mengambilnya.


"Soalnya hanya ada di dalam ponsel, jadi kamu bisa pakai ponsel saya untuk menulis ulang soal tersebut dan kamu boleh mencari jawabannya di internet jika ada soal yang sulit," jelas Fathan membuat Ziara shock.

__ADS_1


next ๐Ÿ’“ or stop ๐Ÿคจ๐Ÿคจ


__ADS_2