
Ziara dan Shasa bersamaan melihat ke arah siswi yang barusan tengah bercerita kepada 4 temannya.
"Ih masa sih?"
"Iya juga sih, masa tadi pagi aja gue gak liat pak Fathan di sekolah."
"Nah kan, semenjak kita ujian udah gak pernah liat pak Fathan lagi."
"Gue sedih banget, gak bisa liat guru ganteng gue lagi."
"Ah kangen banget sama pak Fathan."
Hidung Ziara berkerut mencerna obrolan mereka semua. Benarkah Fathan pergi keluar kota untuk melanjutkan pendidikannya?
"Zi, pak Fathan ada ngomong sesuatu gak sama kamu?" tanya Shasa karena mungkin saja Fathan memberitahu Ziara.
Ziara menggeleng. "Enggak ada, tapi terakhir minggu kemarin pak Fathan chat aku, Sha. Tapi aku gak tau apa maksud pesannya."
"Pesan? Pesan apa, Zi?" tanya Shasa penasaran.
"Kamu liat sendiri." Ziara memberikan ponselnya pada Shasa.
__ADS_1
[Tunggu saya Ziara.]
"Hah?" Shasa menyerengitkan keningnya setelah membaca pesan dari Fathan. Ia mencoba mencerna. "Mungkin aja, maksudnya nyuruh kamu nunggu sampai pak Fathan lulus kuliah, Zia," sambungnya menebak-nebak.
"Nunggu untuk apa?" tanya Ziara kebingungan.
"Ya nunggu dia datang untuk melamar kamu, Ziara."
Ziara melebarkan matanya, apa mungkin Fathan akan melamarnya? Itu tidak mungkin. Bagaimana bisa Fathan ingin menjadikannya sebagai istrinya, memang siapa Ziara? Hanya gadis yang terlahir dari keluarga sederhana, dan tak memiliki keistimewaan dari dirinya. Dari fisik saja, Ziara tidak begitu cantik, soal kepintaran juga ia tidak terlalu pintar. Apa mungkin Fathan mau melamar gadis seperti dirinya?
"Sebenarnya gimana perasaan kamu sama pak Fathan?" lanjut Shasa penasaran. Ia berani bertanya karena yang lain sudah mulai berpergian naik angkot dan bus jurusan rumah mereka masing-masing.
"Maksud kamu? Kamu lebih memilih di cintai dulu baru kamu balas cintanya?"
Ziara mengangguk. "Kurang lebih seperti itu, Sha. Aku gak mau terlalu berharap pada laki-laki."
"Terus kalau misalnya ada cowok yang melamar ke rumah kamu, terus langsung kamu terima gitu?"
"Ya enggak lah, Sha. Kalau aku ngerasa cocok baru aku terima."
"Maksudnya pak Fathan," goda Shasa sambil mencolek dagu Ziara.
__ADS_1
Ziara menepis tangan Shasa. "Engak, tuh angkot ayo naik." Ia mengalihkan topik pembicaraan karena kebetulan angkot berhenti di depan mereka.
Mereka berdua segera masuk ke dalam angkot yang lumayan penuh dengan anak Smp.
****
Malam pukul 22:54 Ziara masih tidur karena hatinya gelisah. Ia terus memikirkan Fathan, sambil memperhatikan room chat Fathan hatinya terus bertanya-tanya. Mengapa Fathan pergi tanpa mengatakan apa pun padanya, tapi jika di pikir-pikir untuk apa juga Fathan harus memberitahunya.
Perasaannya sedih dan berharap semoga Fathan menghubunginya lagi. Walaupun hanya sebuah chat.
"Padahal kalau kuliah di luar kota gak harus ganti hp juga kan?" tanyanya sendiri. Ia penasaran mengapa Fathan menghilangkan seperti ini, semua sosial medianya vakum seolah Fathan bersembunyi dari semua orang.
Ziara menyimpan ponselnya di atas meja tanpa bangun dari tubuhnya yang tengah rebahan. Kemudian, ia mencoba memejamkan matanya
Bersambung
Next or stop
Gimana part ini bagus kgk???
soalnya author udah bosen nulis kgk ada yang baca paling yang baca cuman satu orang tapi pas itu di tamatin gara" banyak kerjaan
__ADS_1