Love My Teacher

Love My Teacher
27


__ADS_3

'Apa itu sebuah kalimat cinta?'


Ziara mengalihkan pandangannya, berfikir sejenak sambil memegang dadanya yang masih berdebar-debar. Fathan yang melihatnya mengulumkan senyuman, sepertinya kata-kata manisnya berhasil membuat Ziara terbawa perasaan.


"Kamu kenapa?" Pertanyaan Fathan membuat Ziara langsung menoleh.


"Kenapa?" Ziara malah balik bertanya karena bingung.


"Lupakan." Fathan memilih tak mau membahas ini lebih panjang.


Ziara langsung menurunkan tangan kanannya saat sadar tengah menyentuh dadanya. 'Duh, keliatan banget kalau lagi deg-degan kan.'Batinnya sebal.


Dari kejauhan tepatnya di balik kaca dalam rumah, Nari dan Lulu tengah mengintip mereka berdua.


"Liat, Kak Ziara ampe salting gitu," ujar Lulu sambil menutup bibirnya yang tak bisa berhenti tersenyum.


"Ih apa sih, De. Mana ada salting, bisa aja kak Ziara lagi grogi kan lagi ngobrol sama wali kelas," balas Nari biasa-biasa saja.

__ADS_1


"Hmm." Zula yang baru saja keluar dari dapur berdehem karena melihat kedua putrinya yang entah sedang melihat apa di balik kaca rumah.


Nari dan Zula bersamaan membalikkan badannya. "Mama, liat kak Zia sama cowok," seru Lulu memberitahu karena ia kira ibunya tidak mengetahui.


"Iya, itu wali kelasnya. Ini Ibu mau kasih minum," jawab Zula sambil memperlihatkan tentengan gelas yang ia bawa.


"Oh gitu."


"Yaudah, kalian cepet ganti seragam. Mama ke depan dulu." Zula pun segera keluar rumah.


Nari dan Lulu akhirnya menuruti perintah ibunya.


Fathan segera berdiri lalu tersenyum. "Tidak, apa-apa Bu. Terima kasih banyak, maaf sudah merepotkan," balasnya ramah.


Zula menaruh tentengannya di atas kursi di samping yang barusan Fathan duduki. "Gak papa, gak merepotkan sama sekali. Mari di minum, maaf cuma bisa ngasih air putih. Di rumah kita mah gak ada air warna-warni.


Fathan tertawa kecil. "Kebetulan saya juga lebih suka air putih, Bu."

__ADS_1


"Wah, syukurlah. Mari di minum." Zula mempersilahkan Fathan.


Fathan mengangguk kecil. "Iya, Bu. Izin duduk, Bu." Ia izin untuk duduk terlebih dahulu karena Ziara dan ibunya berdiri.


"Iya silahkan, tidak apa-apa." Zula dengan senang hati mempersilahkan. Ia memperhatikan Fathan yang tengah minum, ia pun terkagum-kagum dengan perilaku Fathan yang begitu sopan. Kemudian, ia menyentuh bahu Ziara yang berada di sampingnya.


"Mama ke dalem dulu, kamu jaga warung bentar ya."


Ziara mengangguk. "Iya, Mah."


Fathan kembali meletakkan gelas yang airnya tersisa setengah ke tatakan piring kecil. "Kamu gak pegel berdiri terus?" tanyanya heran karena sedari tadi Ziara terus berdiri, padahal banyak kursi disini.


"Ini mau." Ziara segera duduk di tempat yang berjarak dengan Fathan. "Bapak kayanya jarang di rumah ya? Kedua orang tua Bapak kesepian dong di rumah," tanyanya yang muncul di benaknya.


"Ya begitu lah, mereka sudah terbiasa. Walaupun saya anak satu-satunya tapi mereka tidak pernah melarang untuk saya pergi, bahkan merantau."


"Bisa gitu ya? Biasanya kalau punya anak satu-satunya di jaga banget, gak mau jauh-jauh."

__ADS_1


Fathan mengangguk setuju. "Iya, seharusnya gitu bukan. Tapi kedua orang tua saya enggak begitu, apa lagi dari kelas 4 sd saya sudah jauh dari keluarga, jadi kayanya mereka udah biasa di rumah hanya berdua." Ia bersyukur pada kedua orang tuanya karena selalu mendukung apa pun yang akan ia lakukan jika itu hal yang baik. Bahkan, ia masuk pesantren di usia yang sangat muda pun kedua orang tuanya menuruti permintaan.


Next ๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’– or stop ๐Ÿคจ๐Ÿคจ๐Ÿคจ๐Ÿคจ


__ADS_2