
Ia memang sengaja membawa baju seragamnya ke dalam kamar mandi, agar tidak repot-repot berganti di kamar tidurnya lagi.
"Belum mulai sarapannya?" tanya Ziara sambil duduk di samping Lulu.
"Belum ini baru mau," jawab Lulu.
"Ya udah ayo di makan."
Fathan mengambil satu sendok nasi goreng yang di berikan oleh ibunya Ziara.Kemudian, ia segera melahapnya perlahan.
Ia menghentikan kunyahan ketika merasakan begitu enaknya nasi goreng buatan Ziara. Lalu ia lanjut melahapnya.
Ia tersenyum tipis. 'Memang istri idaman sekali, gak salah saya menyukai Ziara.' Batinnya.
"Kalian ke sekolah naik apa?" tanya Fathan di sela-sela kegiatannya.
"Jalan kaki," jawab Lulu.
"Emang deket jarak sekolahannya?"
"Lumayan lah."
"Ya sudah, kalian bertiga biar saya antar. Sekalian saya mau pulang."
__ADS_1
Lulu mengangguk dengan sangat antusias. "Iya-iya mau."
"Lulu," tegur Ziara. "Gak usah, Pak. Kita biasa naik angkot kok," tambahnya meluruskan jawaban Lulu yang berbohong.
"Ih kakak!" rengek Lulu kesal, padahal kapan lagi ia bisa di antarkan sekolah menggunakan mobil mewah.
"Gak papa, sekalian juga." Fathan tetap berniat ingin mengantar mereka bertiga sekolah, walaupun sebenarnya arah sekolah dan rumahnya berlawanan arah.
"Yes." Lulu menyantap makanannya dengan penuh gembira.
Ziara berdengus, pagi-pagi begini Lulu sudah menyebalkan. "Mama kemana kok gak ikut sarapan?" tanyanya karena tak melihat ibunya disini.
"Di luar, katanya belum laper," jawab Nari.
Mereka kembali fokus menghabiskan sarapannya.
________
"Berhenti disini aja, Pak." Ziara meminta Fathan mengehentikan mobilnya di depan halte bus. Ia tak ingin sampai Fathan mengantarkannya ke depan gerbang sekolah. Jika ada satu saja siswa yang liat, pasti ia akan terkena masalah.
Fathan menurut, ia segera memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. "Kamu serius?" tanyanya memastikan karena jarak halte bus dengan sekolah masih lumayan jauh.
Ziara menganggukkan kepalanya pelan. "Iya, Pak. Takut ada murid yang liat Bapak anterin saya, emang Bapak gak takut di gosipin yang enggak-enggak sama mereka?"
__ADS_1
"Enggak."
Ziara menoleh. "Ha?" Ia berfikir sejenak, wajar saja jika Fathan tidak takut jika ada rumor yang beredar di sekolah karena pasti semua murid hanya akan memandang buruk padanya saja dan membela Fathan abis-abisan. "Saya turun ya, Pak. Makasih juga udah mau anterin saya dan adik-adik saya."
"Iya sama-sama."
Ziara turun dari mobil dan Fathan segera menurunkan kaca mobilnya. Ia tersenyum pada Ziara. "Hati-hati."
Ziara membalas senyuman Fathan. "Bapak juga hati-hati, saya pergi dulu ya, Pak. Dah." Ia melambaikan tangannya pelan.
"Dah." Fathan ikut membalas lambaian tangan Ziara. Ia tak melepaskan pandangannya dari Ziara yang mulai berjalan menjauh dari dalam mobil.
Kemudian, ia menyalakan mobilnya dan melajukannya perlahan mengikuti Ziara dari belakang. Mana mungkin Fathan pergi begitu saya meninggalkan gadis yang ia cintai tengah berjalan sendirian di trotoar jalan raya.
Ziara berjalan menunduk dengan perasaan gembira. Senyuman manis Fathan masih terbayang-bayang di benaknya, mungkin orang lain akan berfikir ia tidak waras karena sedari tadi tak bisa menahan senyumannya yang terus terukir.
Fathan menghentikan mobilnya setelah melihat Ziara masuk ke gedung sekolah. Ia tersenyum salah tingkah membayangkan wajah Ziara.
"Argh! Gemesin banget sih." Fathan memukul stir mobilnya beberapa kali sembari salah tingkah.
"Aku akan selalu menyukaimu, Ziara"
next ๐๐ ๐ or stop ๐คจ๐คจ๐คจ
__ADS_1