
"Kurang ajar kamu, lama-lama makin menjadi-jadi ya. Gimana bisa saya di cap sebagai pedofil sedangkan usia saya masih muda seperti ini? Lagian gadis yang saya sukai sudah berusia 17 tahun bulan kemarin, artinya bukan anak di bawah umur lagi dong?" marah Fathan karena Ezran berkata sembarangan.
"Yeah, saya tau. Baru bulan kemarin kan Ziara berusia 17 tahun, artinya saat pertama kali Bapak menyukainya Ziara masih di bawah umur kan?"
"Memang kamu tau kapan pertama kali saya suka dengan Ziara?"
Ezran mengangguk cool. "Tentu, saya tau. Bapak menyukai Ziara saat pandangan pertama kan?"
Deg!
Lagi-lagi Fathan di buat terkaget-kaget! What! Tidak habis pikir bagaimana Ezran tau semuanya? Apakah dia seorang pelamar?
"Wih, Bapak kayanya kaget gitu. Santai, Pak. Saya gak bilang ke siapa-siapa kok soal ini," seru Ezran dengan ekspresi bermain-main.
"Dari mana kamu tau itu semua?" tanya Fathan kebingungan.
__ADS_1
"Keliatan, Pak. Coba liat aja dari sikap Bapak terhadap Ziara berbeda dengan yang lain. Saya juga perhatikan Bapak sering senyum sendiri kalau lagi diem-diem liatin Ziara."
"Bapak kurang pinter menyembunyikan perasaan suka Bapak ke Ziara. Masa galak cuma ke Ziara doang, aneh banget kan. Ziara orangnya gak peka sih, coba kalau dia peka pasti dari dulu dia udah sadar kalau Bapak suka sama dia."
Fathan mengusap wajahnya kasar. Ck! Mengapa ia harus mempunyai saingan seperti Ezran. Baru kali ini ia harus mengakui kalah di perdebatan. Jika bukan muridnya mungkin Fathan sudah mengajaknya berduel!
Fakyuuuu!😬
"Cukup, Ezran! Langsung the to point, maksud tujuan kamu ngomong gini sebenarnya apa?" Fathan tak punya jawaban lagi untuk menjawab ucapan Ezran karena semua yang Ezran katakan benar.
Ezran berfikir sejenak. "Hmm, gak ada sih, Pak."
"Saya pengen Bapak teraktir saya di kantin selama satu minggu, kalau Bapak gak mau siap gak papa yah. Saya kan jadi bisa bilang ini semua ke Ziara dan yang lain."
"Kamu sengaja mau meras saya?"
__ADS_1
"No, saya gak maksud kesitu sih. Tapi keputusan kan ada di Bapak yah, ya itu sih terserah," balas Ezran dengan bola mata yang melirik kesana kemari karena enggan menatap mata Fathan yang tengah di landa kekesalan.
Fathan menarik nafas panjang, lalu membuangnya dengan kasar. Tak ada pilihan lagi, ia harus mau menyetujui permintaan Ezran. "Oke, saya akan bayar semua yang kamu makan di kantin. Tapi cuma satu minggu yah," serunya membuat Ezran tersenyum senang.
"Iya, Pak. Iya." Ezran terpaksa melakukan ini karena ia tak ada pilihan lagi selain memeras Fathan. Ini semua karena hukuman yang ia dapatkan dari kedua orang tuanya, yang tak akan memberikannya uang jajan selama satu minggu.
"Besok sampai hari sabtu saya gak di sekolah, jadi hari senin saja."
"Iya, Pak. Siap!"
Fathan segera mengangkat semua buku-buku lalu beranjak pergi meninggalkan Ezran yang tengah bersorak yes yes yes!
Ezran tak menyangka jika tebakannya benar semua. Huhuu ia yang terlalu pintar atau ini semua hanya sebuah kebetulan saja.
_______
__ADS_1
Ziara merenggangkan otot-ototnya di dalam kamarnya saat baru pulang sekolah. Hari ini terasa sangat lelah baginya, apa lagi cuaca sedang panas semakin membuat tubuhnya lemas seperti kekurangan dehidrasi.
next 💓💓💓 or stop