
"Eh ada pak Fathan toh," sambung Zula di depan pintu yang kebetulan sedang menyapu teras depan rumah.
Fathan mengangguk sambil tersenyum. "Panggil Fathan aja, Bu. Oh iya tadi malam saya ikut begadang sama Bani, mau pulang ke rumah udah kemaleman."
"Baik-baik. Terus ini mau pada kemana?"
"Saya boleh izin sholat disini, Bu?"
"Oh boleh dong, ayo silakan." Zula mempersilahkan Fathan untuk masuk. "Zia, kamu kasih tau kamar Bani yang mana yah." Ia menyuruh Ziara agar Fathan sholat di kamar milik Bani.
"Iya, Mah." Ziara dan Fathan segera masuk ke dalam rumah, pemandangan pertama yang Fathan liat adalah poto keluarga yang terpapang jelas di dinding ruang tamu
Matanya berkeliling melihat ke sudut-sudut rumah milik keluarga Ziara. Tidak terlalu besar, namun rapih dan bersih. Perabotan rumah tertataan dengan cantik, membuat rumahnya terlihat elegan.
"Aaaa! Ada kakak ipar ganteng!" jerit Lulu tiba-tiba mengejutkan seisi rumah.
Ziara dan Fathan langsung menatap ke arahnya yang datang dari arah dapur. Tak selang lama, Nari ikut menghampiri mereka semua dengan wajah yang basah karena baru selesai mengambil wudhu.
"Lulu, udah jangan ganggu cepet masuk kamar." Nari menarik paksa Lulu masuk ke kamar.
"Maaf ya, Pak," ujar Ziara canggung.
__ADS_1
"Gak papa."
"Oh iya pintu kak Bani chat warna coklat ya, nanti masuk aja dan itu kamar mandinya," tunjuk Ziara ke arah pintu kamar mandi. "Saya mau siap-siap bikin sarapan dulu."
Fathan menganggukkan kepalanya mengerti. "Baik, saya masuk dulu ya," pamitnya dan langsung di angguki oleh Ziara. Ia pun masuk ke dalam kamar mandi.
Ziara segera ke dapur untuk menyiapkan sarapan, dan sepertinya ia hanya akan membuat nasi goreng dan telur ceplok saja.
________
"Ayo makan," ajak Ziara sambil meletakkan beberapa tumpukan piring kaca di atas meja makan.
Lulu dan Nari segera menghampiri ke meja makan dengan memakai seragam sekolah rapih. Kemudian, mereka duduk di meja makan dengan hidangan yang sudah siap yaitu nasi goreng spesial, telur ceplok dan lalapan segar.
Lulu sumringah lalu mengangguk paham. "Iya-iya nanti Lulu ajak sarapan," jawabnya antusias.
Ziara segera masuk ke kamar mandi yang jaraknya sebenarnya tidak jauh dari dapur.
Lulu menoleh ke arah pintu kamar Bani saat mendengar pintu terbuka. "Kak Fathan udah selesai?" tanyanya ramah.
"Sudah," jawab Fathan dengan wajah fresh, rambut basah dan tampan menawan.
__ADS_1
"Ayo sarapan bareng, Kak."
"Oh, terima kasih. Tapi kayanya saya sarapan di rumah saja," tolak Fathan dengan nada lembut.
"Ih jangan, kasian tau kak Ziara udah capek-capek bikin sarapan khusus untuk Kak Fathan masa gak di makan?"
Nari mengerutkan keningnya saat mendengar Lulu berbohong.
"Begitu yah?" Fathan menjadi tak enak hati menolak ajakan Lulu.
"Eh, ayo sarapan bersama Fathan." Zula yang datang dari luar pun langsung menyuruh Fathan untuk sarapan bersama keluarganya karena sudah tau Ziara telah menyiapkan sarapan.
"Iya, Bu." Fathan mendekati meja makan. "Maaf ngerepotin jadinya," lanjutnya sembari duduk di samping Nari.
"Enggak, kok. Anggap aja rumah sendiri," jawab Zula tersenyum sambil mengambil gelas di dalam rak.
Lulu tertawa riang. "Bener, anggap juga Lulu adik kandung kak Fathan sendiri."
Nari memutar matanya sebal. 'Dasar centil.' Batinnya. Ia tak kuat melihat perilaku Lulu yang begitu agresif seperti baru pertama kali saja melihat lelaki tampan.
Pintu kamar mandi terbuka terlihat Ziara sudah memakai seragam sekolahnya dengan rapih.
__ADS_1
Next ๐๐
stop ๐คจ๐คจ