Love My Teacher

Love My Teacher
5


__ADS_3

Sontak Ziara langsung membuka kedua bola matanya dengan sempurna ketika mendengar Fathan memanggilnya. Posisinya yang menunduk belum bisa melihat di mana posisi Fathan sekarang.


Ia takut untuk mendongak, tubuhnya saja kini terasa panas dingin dan lemas belum lagi degup jantungnya tak beraturan.


Ziara kembali melebarkan kedua bola matanya saat Shasa dan siswi lain yang tadi di depannya kini menggeser membuka jalan untuk Fathan bisa melihat jelas Ziara.


"Ziara?" panggil Fathan ulang sambil jalan lebih dekat.


Ziara langsung mendongak. Tepat di depannya Fathan berdiri dengan ekspresi datar. Ia melirik ke sekitarnya dan ternyata ia tengah menjadi pusat perhatian semua orang.


'Malu!'Batinnya menggerutu.


Bibirnya terasa terkunci, ia tak sanggup untuk mengeluarkan sepatah kata pun.


"Ziara?" Fathan kembali memanggil karena sudah 2 kali panggilannya tak di jawab oleh Ziara.


Ziara tersentak langsung menatap Fathan. "Iya, Pak?" jawabnya cepat.


Kini jantung Fathan yang menjadi berdebar-debar karena Ziara menatapnya. Ia terpaku beberapa detik, kemudian langsung kembali fokus. "Kamu bisa tolong belikan air minum untuk saya?"


"Ha?" Ziara mengepakan-ngepakan bulut matanya berkali-kali, jadi Fathan datang menghampirinya hanya untuk menyuruhnya membelikan minuman? Ah! Sebuah lelucon. "Bisa, Pak," balasnya karena tak ada pilihan lagi. Tidak mungkin ia menolak perintah Fathan bukan?

__ADS_1


Fathan segera mengeluarkan uang dari saku celananya, lalu memberikannya pada Ziara. "Belikan air putih botol dingin satu sama teh botolnya satu ya."


Ziara mengambil uang tersebut. "Baik, Pak."


"Ra, gue anter ya," celetuk Shasa berniat membantu temannya.


"Ziara bukan anak kecil lagi, masa cuma ke kantin harus di anter segala?" balas Fathan dengan nada lembut.


Shasa diam tak menjawab, ia tak berani menentang Fathan karena takut malah mempermalukan dirinya di hadapan semua orang. Fathan sangat pintar dalam berkomunikasi, semakin kita menentang perkataannya ia akan menjawab dengan lembut namun menekan.


"Iya, Sha. Gak apa-apa, aku sendirian aja," urai Ziara sambil tersenyum pada Shasa.


Fathan yang melihatnya langsung sedikit menunduk lalu tersenyum tipis, senyuman Ziara selalu menjadi favoritnya. Ia ingin di sepanjang waktu melihat senyuman manis yang di miliki Ziara, namun itu tidak untuk sekarang.


Fathan langsung menarik senyumannya sebelum semua orang melihatnya. "Nanti langsung taro di ruangan saya," suruhnya dan langsung di angguki oleh Ziara.


"Yuk mulai lagi, waktu istirahat tinggal bentar lagi nih," seru Fathan mengajak untuk kembali melanjutkan pertandingannya.


Tak berfikir panjang Ziara segera pergi dari lapangan. Di sepanjang perjalanan pikirannya terganggu karena terus memikirkan kejadian barusan, hatinya mulai bertanya-tanya mengapa harus dirinya? Mengapa Fathan senang sekali merepotkannya. Bukan Ziara tak ingin membantu Fathan namun ini bukan 1 atau 2 kalinya Fathan menyuruh-nyuruhnya.


"Cie jadi babunya pak Fathan."

__ADS_1


"Haha."


Ziara terserentak mendengar celetuk beberapa para siswi di koridor. Hatinya sakit, malu dan sangat marah dan Tanpa sadar air mata Ziara sedikit menetes. Namun dengan segera ia menghapusnya. Kemudian, kembali fokus pada tujuannya.


______


Tring!


Bell masuk berbunyi, Ziara yang baru saja menaruh pesanan Fathan di ruangannya. Kemudian, ia buru-buru keluar sebelum Fathan datang yang sepertinya sedang berganti baju di toilet karena pertandingan basket sudah berhenti.


Ia menghela nafas berat saat menutup pintu, sebenarnya ia benar-benar sudah muak melihat Fathan di sekolah. Rasanya Ziara sudah tak sanggup jika harus berhadapan langsung dengan Fathan lagi, andai ia memiliki banyak uang, mungkin dari dulu sudah pindah sekolah.


Mungkin semua orang selalu beranggapan jika Ziara terlalu di bawa perasaan karena merasa tak merasakan bagaimana rasa sakit hati dan malunya saat Fathan menyuruhnya di depan semua orang.


Ziara langsung duduk di bangkunya saat sudah berada di dalam kelas. Kemudian menidurkan kepalanya di atas meja menghadap ke tembok.


'I hate you Fathan.' Batinnya marah.


"Ra, ada guru." Shasa yang baru datang dari luar kelas langsung menyenggol bahu Ziara.


Ziara sedikit terkejut lalu langsung menegakkan tubuhnya.

__ADS_1


bersambung


next or stop 🤨


__ADS_2