
"Hmm... nyam... nyam."
"Bagaimana rasanya pak?"
"Hmm... mmph... ee...eenaak. Ini enak sekali."
"Benarkah?" tanya Feng Yu dengan wajah penasaran.
Pria itu mengambil botol air minum yang ia bawa dan meminumnya.
"Glug... glug... glug... ahh."
" Bungkus lagi sepuluh bakpao yang isi daging ayam." teriak pria itu sambil mengeluarkan uang di dalam sakunya dan memberikannya kepada Feng Yu.
Feng Yu kaget menerima uang yang nominalnya cukup besar.
"Maaf pak. Ini kebanyakan uangnya."
"Apa? Kau bilang itu kebanyakan? Hahaha... bakpao seenak ini, sudah pantas dihargai segitu. Kau jangan terlalu murah menjualnya."
"Hahaha... bapak ini sangat dermawan. Tapi jika kami menjualnya dengan harga yang sangat mahal, orang tidak akan mau membeli bakpao kami."
"Ya terserah kalian saja. Tapi, aku minta kalian terima saja uang pemberianku tersebut. Anggap saja sebagai penglaris kalian."
"Terima kasih pak."
"Iya, sama-sama. Aku akan menjadi pelanggan tetap kalian mulai saat ini." kata pria itu sambil mengambil bungkusan yang diberikan oleh Xie Lang.
"Terima kasih pak." ucap Xie Lang dengan tersenyum.
Pria paruh baya itu membalas mereka dengan senyuman. Lalu ia berjalan meninggalkan mereka.
"Dia adalah pelanggan pertama kita Feng."
"Ya. Semoga beliau selalu sehat."
Tak lama kemudian, datang pelanggan lain yang ingin membeli bakpao mereka. Awalnya satu lalu datang lagi, hingga semua orang berkerumun di depan stand mereka demi membeli bakpao yang mereka jual. Dalam waktu setengah jam, mereka berhasil menjual habis bakpaonya. Ketiganya duduk bersama sambil mengipas-ngipas tubuh mereka.
"Syukurlah, hari pertama kita berjualan langsung habis terjual tak bersisa." ucap Xie Lang.
"Ya. Dan penghasilan kita sangat lumayan kak."
"Baik. Kalian sudah selesai istirahatnya. Jika sudah, ayo kita beres-beres lalu segera pulang."
"Baik."
Ketiganya dengan penuh semangat langsung membereskan barang dagangan mereka. Tak lama kemudian, mereka bertiga segera pulang ke rumah. Feng Yue dan Xie Lang segera pergi ke kamar mereka untuk mandi. Keduanya janjian untuk berendam bersama di kolam mandi di kamar Xie Lang. Sementara Feng Yu memilih untuk berbaring di atas sofa. Perlahan-lahan ia mulai memejamkan kedua matanya. Karena kelelahan seharian bekerja, ia akhirnya mulai tertidur pulas.
__ADS_1
Kamar Mandi Xie Lang
Di dalam kolam air yang penuh dengan kelopak bunga mawar dengan aneka macam warna, membuat keduanya semakin betah berendam lama-lama disana.
"Kak Xie, maaf jika aku sedikit lancang."
"Kenapa?"
"Kau... menyukai kakakku, bukan?" tanya Feng Yue dengan nada serius.
"Ke... kenapa kau bertanya seperti itu?!"
"Tidak apa-apa. Aku hanya memastikannya saja." jawab Feng Yue dengan nada santai.
"Memastikan apa?!" tanya Xie Lang dengan wajah penasaran.
"Memastikan kalau, apa benar kau menyukainya atau tidak? Hanya itu saja kak."
"Menurutmu sendiri, bagaimana?"
"Bagaimana apanya?"
"Ya... apa menurutmu aku terlihat seperti menyukai kakakmu?"
"Iya."
"Iya. Kau sangat terlihat menyukainya."
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Karena aku sama sepertimu kak. Sama-sama perempuan. Ditambah, kau terlihat sangat perhatian dengannya."
"Begitukah?"
Feng Yue mengangguk pelan.
"Lagipula, kalian berdua sudah berteman akrab sejak kecil. Bukan tidak mungkin diantara kalian tidak ada perasaan lebih dari seorang teman."
"..."
"Kak Xie, aku sudah selesai. Aku akan segera pergi ke kamar untuk beristirahat. Terima kasih sudah mengajakku mandi di tempatmu."
"Sama-sama."
Feng Yue pergi meninggalkan Xie Lang yang masih berendam di dalam kolam mandinya. Sejenak ia berpikir, bahwa apa yang dikatakan oleh Feng Yue memang benar. Dalam persahabatan tidak mungkin tidak ada perasaan diantara mereka berdua. Tapi, apakah Feng Yu mempunyai perasaan yang sema dengannya. Jika tidak ada, itu hanya akan menjadi cinta bertepuk sebelah tangan.
Pagi Hari di Pasar
__ADS_1
Seperti hari-hari biasanya, ketiganya berjualan bakpao dipasar pada pagi hari. Feng Yu mulai memasang papan nama di stand mereka. Ia memberi nama stand mereka dengan nama "Bakpao Cinta" . Dan dalam sekejap, banyak orang yang berjubel antri membeli bakpao mereka.
"Tuan putri, sebaiknya kita segera kembali ke istana. Jika kita ketahuan oleh kaisar, menyelinap keluar istana, kita akan dihukum." ajak pelayan yang berada di samping seorang gadis muda yang sedang menyamar.
"Ahhh... apa yang kau takutkan? Lagipula, ayahanda tidak akan menghukumku. Karena aku adalah satu-satunya anak perempuan mereka."
"Tapi Tuan Putri..."
"Sudah jangan terlalu mengkhawatirkan yang macam-macam. Lagipula, aku sedang menyamar, tidak akan ada yang mengenaliku. Ayo kita jalan sambil lihat-lihat, apa yang dijual dipasar."
Saat keduanya berjalan-jalan, mereka melihat salah satu stand yang ramai diserbu orang.
"Ada apa ramai-ramai disana?"
"Entahlah. Aku tidak tahu Tuan putri."
Tiba-tiba ada beberapa orang yang berjalan melewati mereka berdua. Putri Ying Xie menghentikan salah satu dari mereka.
"Maaf Tuan, ada apa ramai-ramai disana? Apa yang mereka jual?"
"Kau tidak tahu ya? Mereka menjual bakpao. dengan aneka macam isian. Ada kacang hijau, ayam dll. Dan mereka menamai standnya sebagai bakpao cinta."
"Begitu ya."
"Iya. Dan kau bisa melihatnya sendiri bukan, bahwa stand mereka paling banyak didatangi dan digemari oleh banyak orang. Kau tahu kenapa? Karena bakpao yang mereka buat sangat berbeda dengan bakpao yang lainnya."
"Apanya yang berbeda? Bukankah rasa bakpao sama saja dengan bakpao yang kebanyakan dijual di pasaran?"
"Kau salah. Tunggu, kau bukan orang sini ya? Apa kau orang luar?"
"Hahaha... benar. Aku hanya seorang perantau saja yang kebetulan lewat di daerah ini."
"Oh, pantas saja kau tidak mengetahuinya."
"Hehehe."
"Sudahlah lebih baik kalian pergi kesana untuk membeli dan mencobanya. Maaf aku harus segera kesana, sebelum kehabisan." kata pria itu sambil berlari menuju stand itu.
Ying Xie yang diliputi rasa penasaran, segera menarik pelayannya untuk ikut pergi mengantri bakpao itu. Ia berusaha mendorong maju agar bisa berada di depan. Dengan penuh perjuangan, akhirnya Ying Xie dan pelayannya berhasil menerobos dan berada tepat di depan stan itu. Ia sangat kaget melihat orang yang berjualan bakpao. Sangat familiar, tapi dimana ia pernah berjumpa dengannya.
"Tuan, aku beli bakpaonya dua isian kacang hijau."
"Iya, sabar ya." ucap Feng Yu sambil membungkus bakpao yang telah ia ambil dari kukusan dan memberikannya kepada gadis muda yang mengenakan cadar berwarna hitam.
Feng Yu merasa sedikit mengenal dengan sosok gadis muda yang berdiri di depannya. Karena merasa dirinya ditatap curiga oleh Feng Yu, Ying Xie segera membalikkan badannya dan pergi dari tempat itu. Namun, langkah kakinya terhenti karena seseorang sedang memanggilnya.
"Tunggu!"
__ADS_1