
"Kaisar?! Ada apa dia memanggilku?"
"Mohon ampun Yang Mulia, hamba tidak tahu. Sebaiknya anda segera menghadap Yang Mulia Kaisar sekarang."
"Baiklah. Tolong kau pandu jalannya."
"Baik Yang Mulia."
Putra mahkota Li Haoxi berjalan mengikuti pengawal istana yang memandunya untuk menghadap ke Kaisar. Tak lama kemudian, mereka telah sampai di depan pintu ruang belajar istana. Pengawal itu mulai mengetuk pintu itu secara perlahan.
Tok... Tok... Tok... (suara pintu diketuk dari luar.)
"Masuklah!"
Krekkk!!! (suara pintu dibuka dari luar.)
Pengawal itu masuk dan diikuti oleh putra mahkota Li Haoxi di belakangnya. Keduanya langsung membungkukkan sedikit badannya sambil memberi hormat kepadanya.
"Salam Yang Mulia Kaisar." ucap pengawal istana dan putra mahkota Li Haoxi secara bersamaan.
"Bangunlah!"
"Terima kasih Yang Mulia Kaisar." ucap pengawal istana dan putra mahkota Li Haoxi secara bersamaan.
"Kau boleh pergi!" perintah Kaisar sambil melambaikan tangan kanannya kepada pengawal istana.
Pengawal istana mengerti isyarat yang telah diberikan oleh Kaisar kepadanya. Ia pun segera pamit undur diri, dan berjalan melangkah keluar dari ruangan itu. Tak lupa pula ia menutup pintu itu. Putra mahkota Li Haoxi mengamati Kaisar dengan mahkota yang ia kenakan dan jubah mewahnya berwarna kuning emas, namun terlihat elegan. Ia melihat Kaisar yang ada dihadapannya sekarang, sangat tampan dan terlihat awet muda. Ditambah dengan ekspresi serius di wajahnya yang sedang menggoreskan kuas di atas kertas miliknya, semakin terlihat sangat berwibawa di mata putra mahkota Li Haoxi. Merasa dirinya sedang di tatap oleh putra mahkota Li Haoxi, Kaisar pun meliriknya.
"Ehem."
"Maaf atas ketidaksopananku, Yang Mulia."
"Tidak apa-apa. Bagaimana kabarmu pangeran? Apa kau merasa betah tinggal di negaraku ini?!" tanya Kaisar kepada putra mahkota Li Haoxi.
"Kabarku baik Yang Mulia. Terima kasih atas perhatianmu."
"Mmm."
"Aku sangat betah tinggal di negaramu."
"Baguslah jika kau merasa betah tinggal di sini, meskipun hanya sementara. Apa kau tahu, kenapa aku memanggilmu kemari?!" tanya Kaisar sambil meletakkan kuasnya di atas tatakan kuas di sisi bak tinta.
Putra mahkota Li Haoxi menggelengkan kepalanya. Pertanda ia tidak tahu kenapa dipanggil datang kemari."
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Apa itu Yang Mulia."
"Keluarlah!" perintah Yang Mulia Kaisar.
Terdengar suara derap langkah kaki seseorang dari balik sketsel yang berada di sisi lain di dalam ruang belajar kaisar. Putra mahkota Li Haoxi melihat Putri Ying Xie keluar dari balik sketsel itu. Putri Ying Xie berjalan menuju mereka berdua. Ia langsung membungkukkan sedikit badannya dan memberi hormat kepada ayahandanya.
__ADS_1
"Salam ayahanda."
"Bangunlah anakku."
"Terima kasih ayahanda."
"Karena kalian berdua sudah ada di sini, langsung saja aku akan memberitahukan sesuatu kepada kalian berdua."
"Putra mahkota Li Haoxi."
"Ya Yang Mulia."
"Sebelumnya aku minta maaf akan hal ini. Putriku, Ying Xie ingin membatalkan pernikahan ini."
"Apa?! Tapi, kenapa Yang Mulia?!"
"Putri, bisa kau jelaskan pada putra mahkota Li Haoxi, apa alasanmu ingin membatalkan pernikahan ini?!"
"Menjawab ayahanda. Yang Mulia putra mahkota, aku minta maaf. Aku terpaksa membatalkan pernikahan ini."
"Kenapa?! Kenapa kau ingin membatalkan pernikahan kita?!"
"Kenapa?! Tentu saja karena sifat burukmu itu!"
"Sifat burukku? Bagian mana dari diriku yang menurutmu buruk?!"
"Semuanya!"
"Iya. Kau adalah pria mata keranjang. Tidak hanya itu, kau juga suka menindas yang lemah. Sebagai calon raja di masa depan, aku tidak ingin menikah dengan orang yang bertindak semena-mena. Bagaimana dengan nasib rakyatku, jika mempunyai raja berwatak kejam sepertimu?!" terang Putri Ying Xie kepada putra mahkota Li Haoxi.
Mendengar perkataan putri Ying Xie, putra mahkota Li Haoxi menggertakkan giginya. Ia hendak marah, namun ia melirik ke arah Kaisar. Kaisar yang menyadari bahwa putra mahkota Li Haoxi sedang menahan amarahnya, hanya bisa menghela nafas.
"Pangeran Li, tolong maafkan sikap kekanak-kanakan putriku ini."
"Tidak apa-apa Yang Mulia. Tapi, jika putrimu tidak bersedia untuk menikah denganku, aku juga tidak bisa memaksa."
"Hah? Benarkah?!" tanya Kaisar dengan ekspresi tidak percaya di wajahnya.
"Ya Yang Mulia. Lalu, aku ingin bertanya kepada Putri Ying Xie. Jika kau membatalkan pernikahan ini, apakah putri Ying Xie memiliki penggantiku?!"
"Humph, kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu."
"Baguslah kalau begitu. Yang Mulia, kau tidak perlu khawatir. Aku sendiri yang akan menyampaikan masalah ini kepada ayahandaku secara pribadi."
"Huff, maaf telah merepotkanmu. Dan tolong sampaikan permintaan maafku kepada ayahandamu tentang kejadian ini."
"Ya Yang Mulia."
"Ying Xie putriku, apa kau yakin akan keputusan yang telah kau ambil ini?!"
"Tentu saja ayahanda. Lagipula, putra mahkota Li Haoxi, sangat berjiwa besar. Terima kasih Yang Mulia putra mahkota. "
__ADS_1
"Hmm. Yang Mulia, kalau begitu aku mohon undur diri dulu. Aku ingin segera mengabarkan hal ini kepada ayahandaku, agar beliau tidak kaget dan khawatir."
"Baiklah. Pergilah!"
"Terima kasih Yang Mulia." ucap putra mahkota Li Haoxi sambil membungkukkan sedikit badannya dan pergi meninggalkan tempat itu.
Ia berbalik dan berpapasan dengan putri Ying Xie, lalu berjalan meninggalkan tempat itu. Tak lupa ia juga menutup pintu ruang belajar istana. Kaisar mengalihkan pandangannya ke arah putri Ying Xie.
"Putriku, aku tahu kau sudah dewasa. Tapi, tolong... jangan mementingkan egomu. Pikirkanlah, nasib negaramu, rakyatmu."
"Tapi ayahhanda, aku tidak mencintainya. Kau tidak boleh memaksaku!"
"Huff, tapi aku harap ini menjadi yang terakhir. Dan jangan pernah berpikir untuk mengulanginya kembali!" tegas Kaisar.
"Baik ayahanda. Aku pamit undur diri dulu."
"Ya."
Putri Ying Xie memberi hormat dan berbalik meninggalkan ayahandanya di ruang belajar istana sendirian. Di sisi lain, di kamar putra mahkota Li Haoxi, ia mulai marah-marah. Semua benda yang semulanya rapi di tempatnya, kini berantakan di atas lantai. Ekspresi wajahnya penuh dengan amarah. Ia mengepalkan kedua tangannya dan memukul meja dengan sangat keras.
"Sialan! Berani sekali dia membatalkan pernikahan ini!" umpat putra mahkota Li Haoxi.
Pengawal pribadinya yang melihat putra mahkota Li Haoxi sedang marah-marah, sekujur tubuh pengawal pribadi itu gemetaran. Ia melihat amarah terlihat jelas di wajah putra mahkota Li Haoxi.
"Sudahkah kau mencari tahu apa yang telah aku tugaskan kepadamu?!"
"Menjawab Yang Mulia. Aku sudah mencari tahu sesuai yang kau inginkan."
"Apa itu?! Katakan?!"
"Menurut informasi yang telah aku terima, Feng Yu sangat berbeda dari biasanya. Jika dulu dia sangat membenci adik perempuannya. Kini ia kembali menyayangi adiknya, dikarenakan karena ia telah berhasil terlepas dari masa lalunya.
"Jadi, dia jauh lebih menyayangi adiknya sekarang?!"
"Ya Yang Mulia."
"Lalu, bagaimana dengan sahabat wanitanya?!"
"Mereka berdua hanya berteman saja Yang Mulia. Itulah informasi yang aku terima Yang Mulia."
"Oh jadi mereka berdua hanya berteman?!"
"Ya Yang Mulia."
"Hehehe, bagus. Sangat bagus. Dengar nanti malam, aku ingin kau membawa adik perempuan Feng Yu kepadaku. Tidak hanya itu, aku ingin kalian membawa teman wanitanya itu kepadaku juga. Aku ingin melihat apa adiknya adalah kelemahannya atau Xie Lang, teman wanitanya?!" ucap putra mahkota Li Haoxi dengan senyum menyeringai di wajahnya.
"Baik Yang Mulia."
Pengawal itu pun segera pergi meninggalkan putra mahkota Li Haoxi sendirian di sana. Suara pintu ditutup dari laur.
"Feng Yu, jangan salahkan aku jika aku bersikap kasar kepadamu!" gumam putra mahkota Li Haoxi sambil mengepalkan kedua tangannya dia atas meja.
__ADS_1