Love Villain System

Love Villain System
Bertemu Musuh Bebuyutan (4)


__ADS_3

Klotak... Klotak... Klotak...


Sepanjang perjalanan terdengar suara gaduh dari kereta kuda yang berjalan menyusuri jalanan. Di dalam kereta kuda yang berada pada barisan pertama, terdapat putra mahkota Li Haoxi dan Feng Yue di dalamnya. Sementara kereta kuda pada barisan kedua, terdapat Feng Yu dan Putri Ying Xie. Dan kereta kuda pada barisan ketiga, paling akhir, terdapat Xie Lang dan pengawal pribadi putra mahkota Li Haoxi. Di dalam kereta kuda pertama, Feng Yue duduk berhadapan dengan Putra mahkota Li Haoxi. Sepanjang perjalanan keduanya saling terdiam tak bicara. Li Haoxi memperhatikan Feng Yue dari atas ke bawah. Sementara Feng Yue yang merasa dirinya ditatap oleh putra mahkota Li Haoxi, hanya bisa tertunduk tak berani menatap ke arahnya. Tiba-tiba suara putra mahkota Li Haoxi memecahkan keheningan diantara mereka berdua.


"Yue." sapa putra mahkota Li Haoxi.


Mendengar putra mahkota Li Haoxi memanggil namanya, Feng Yue terkejut dan memberanikan dirinya untuk menatap putra mahkota Li Haoxi. Keduanya saling bertukar pandang dalam waktu yang cukup lama.


"Ehem. Kenapa kau diam saja saat aku panggil namamu?!" tanya putra mahkota Li Haoxi sambil menatap ke arahnya.


"Ah... maaf Yang Mulia. Maafkan aku." kata Feng Yue."


"Lupakan. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepadamu."


"Apa itu Yang Mulia?!"


"Apa hubunganmu dengan pria yang bernama Feng Yu?!" tanya putra mahkota Li Haoxi dengan ekspresi dingin di wajahnya.


"Dia... kakakku, Yang Mulia."


"Kakak?"


"Iya. Dia adalah kakak kandungku."


"Oh."


"Kenapa dia bertanya soal kakak?!" batin Feng Yue.


"Dimana kalian berdua tinggal?!"


"Kami... kami tidak punya tempat tinggal Yang Mulia."


"Apa?!"


"Kami hanya menumpang tinggal sementara di kediaman kak Xie."


"Xie? Kediaman keluarga Xie?!"


"Iya benar Yang Mulia."


"Jadi kau berhubungan baik dengan anak perempuan dari kediaman Xie itu?!"


"Benar. Kami sudah berteman sejak kecil. Dan aku sudah menganggap dia sebagai kakak perempuanku."


"Oh, jadi gadis yang ada disebelahmu itu adalah pemilik kediaman Xie yang juga sekaligus teman masa kecil kalian?!"


"Iya Yang Mulia."


"Oh ya, sesuai kesepakatan yang kita buat tadi. Kau harus menemaniku malam ini."


"Maaf Yang Mulia, bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?!"


"Katakan."


"Yang dimaksud oleh Yang Mulia itu... menemanimu itu apa?!" tanya Feng Yue dengan polosnya.

__ADS_1


Mendengar Feng Yue bertanya seperti itu kepadanya, putra mahkota Li Haoxi menahan tawanya.


"Hanya menemaniku minum teh saja. Sekalian memandang langit."


"Oh... jadi begitu. Berarti setelah aku selesai menemanimu, apa aku boleh pulang?"


"Soal itu, aku tidak bisa memberitahukannya kepadamu." jawab putra mahkota Li Haoxi dengan senyum menyeringai di wajahnya.


Setelah Feng Yue mendengar jawaban putra mahkota Li Haoxi, ia mulai merasa gelisah. Untuk pertama kalinya ia datang ke istana dan menemani putra mahkota yang sudah bertunangan dengan putri dari negaranya. Ia tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk menghadapi opini publik tentang dirinya. Di dalam kereta kedua, Feng Yu terlihat sedikit pendiam. Putri Ying Xie yang melihatnya sedang termenung, lalu memanggilnya. Berkali-kali putri Ying Xie memanggil namanya, Feng Yu tak kunjung tergerak. Sampai-sampai, putri Ying Xie harus menepuk bahunya sambil memanggil namanya.


"Feng Yu... Feng Yu!" kata putri Ying Xie sambil menepuk bahu Feng Yu.


"Ada apa putri?"


"Kau melamun?!"


"Tidak."


"Benarkah?!"


"Ya."


"Tapi aku melihatnya, kau sedang melamun? Sebenarnya apa yang kau pikirkan?!"


"Tidak ada."


"Kau sedang memikirkan adikmu, bukan?"


"Kenapa putri tahu?"


"Jelas tahulah. Aku kan seorang peramal. Hahaha!" jawab Putri Ying Xie sambil tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha... maaf aku becanda. Hahahaha."


"Putri, kau sangat cantik ketika sedang tersenyum dan tertawa."


"Eh, benarkah? Kau pasti bohong. Kau sedang menggodaku bukan?!"


"Memangnya putri menginginkan hal apa kepadaku?!" tanya Feng Yu sambil mencondongkan tubuhnya ke depan putri Ying Xie.


Keduanya tampak sangat dekat hanya berjarak sehelai kain yang tipis. Wajah Putri Ying Xie tiba-tiba berubah menjadi merah merona. Ia segera mendorong Feng Yu untuk menjauh darinya. Feng Yu segera mengambil tempat duduknya kembali sambil melihat putri Ying Xie.


"Kenapa kau lihat-lihat?!"


"Aku tidak menyangka, putri Ying Xie ternyata orang yang seperti ini."


"Apa maksudmu?!"


"Kau sangat kasar sekali."


"Eh, maaf. Aku minta maaf. Tadi itu, terlalu dekat."


"Benarkah?! Aku rasa tidak."


"Kau!"

__ADS_1


"Ada apa?!"


"Tidak ada apa-apa."


"Kau yakin tidak ada apa-apa?!"


Putri Ying Xie mengangguk pelan.


"Sungguh, kau yakin tidak ada apa-apa?"


"Iya."


"Baiklah kalau begitu." jawab Feng Yu sambil menyandarkan tubuhnya di dinding kereta kuda.


Perlahan-lahan ia mulai memejamkan kedua matanya dan tertidur pulas di dalam kereta. Putri Ying Xie yang melihat Feng Yu tertidur pulas di dalam keretanya, hanya bisa tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia melihat wajah tampan seorang pria yang sedang tertidur pulas di depannya. Wajahnya yang putih dengan alis mata yang sangat tebal. Bibirnya yang mungil dengan warna alami. Ditambah dengan rambutnya yang berwarna hitam, dikuncir kuda. Dengan beberapa helai rambut yang dibiarkan terurai ke depan menutupi setiap sisi sudut wajahnya.



"Ia terlihat sangat tampan saat tertidur pulas." gumam putri Ying Xie.


Karena terpesona dengan ketampanan Feng Yu, putri Ying Xie tanpa sadar menyentuh lembut rambut Feng Yu yang menutupi wajah tampannya. Tangannya terus menyentuh lembut wajah Feng Yu. Jari jemarinya tanpa sadar menyentuh bibir Feng Yu. Tiba-tiba Feng Yu membuka matanya. Ia melihat putri Ying Xie begitu dekat dengan wajahnya. Ditambah dengan bibirnya yang telah disentuh oleh jari jemari lembut milik putri Ying Xie. Tersadar melihat Feng Yu terbangun dari tidurnya, putri Ying Xie segera menarik tangan kanannya, namun terlambat. Dengan cepat, Feng Yu menangkap tangannya.


"Ah." ucap putri Ying Xie saat tangan kanannya di tangkap oleh Feng Yu.


"Putri Ying Xie, apa yang baru saja kau lakukan saat aku sedang tidur?" tanya Feng Yu dengan ekspresi wajah menggoda.


"Aku...aku hanya merapikan rambutmu saja. Hanya itu saja."


"Oh... benarkah?! Jika hanya merapikan rambutku saja, mengapa jari jemarimu menyentuh bibirku juga."


"A... aku tidak sengaja." jawab Putri Ying Xie dengan nada gugup.


Melihat putri Ying Xie sangat gugup menjawab pertanyaannya, Feng Yu Perlahan-lahan melepaskan genggamannya. Putri Ying Xie segara menarik tangannya dan mengambil tempat duduknya kembali. Ia melihat Feng Yu masih menatapnya.


"Ada apa? Kenapa kau menatapku?!"


"Putri Ying Xie, jika ada yang ingin kau tanyakan kepadaku, katakan saja. Kau tahu, aku sangat susah sekali untuk tidur. Dan di saat aku baru saja terlelap, kau malah membangunkan aku." keluh Feng Yu.


"Maaf. Maafkan aku. Kalau begitu kau boleh tidur di istanaku."


"Lalu, bagaimana dengan tunanganmu? Apa kau tidak khawatir dia akan cemburu kepadaku?!"


"Hihihi, kau lucu sekali. Kau akan tinggal di ruang tamu. Kau tidak perlu mengkhawatirkan tunanganku. Dia memang seperti itu. Dia tinggal di tempat yang tak jauh dari tempat tinggalku. Kau bisa sekalian mengawasi adikmu, dari tempat tinggalku."


"Benarkah? Baguslah kalau begitu. Aku akan meminta tolong kepada Kaisar untuk tinggal malam ini agar aku bisa mengawasi adikku."


"Kau tidak perlu khawatir soal itu. Aku akan membantumu sebisaku."


"Terima kasih putri Ying Xie."


"Sama-sama."


Feng Yu tersenyum mendengar perkataan yang diucapkan oleh putri Ying Xie.


"Feng Yu."

__ADS_1


"Ada apa?"


"Apa kau mempunyai seorang kekasih?"


__ADS_2