Love Villain System

Love Villain System
Pernyataan Cinta Putri Ying Xie


__ADS_3

Di Istana Pangeran


Feng Yue duduk di paviliun merah yang tak jauh dari kamar putra mahkota Li Haoxi. Ia duduk sendirian sambil memandang bulan di langit. Tiba-tiba seorang pelayan wanita berjalan mendekat ke arahnya, sambil membawa nampan yang diatasnya ada pakaian wanita lengkap berwarna biru muda, dengan aksesoris hiasan rambut di sebelahnya.


"Nona, maaf mengganggu waktumu." kata pelayan wanita itu.


"Iya. Ada apa? Maaf, kau siapa?"


"Aku pelayan yang bertugas di kediaman pangeran ini. Aku dikirim oleh Yang Mulia putra mahkota Li Haoxi untuk mengantarkan ini kepadamu dan membantumu untuk berganti pakaian sebelum bertemu dengan putra mahkota." ucap pelayan wanita itu sambil menyerahkan nampan yang ia pegang kepada Feng Yue.


Feng Yue melihat nampan itu yang diatasnya ada pakaian wanita lengkap berwarna biru muda, dengan aksesoris hiasan rambut di sebelahnya. Feng Yue melirik ke arah pelayan wanita itu dan bertanya.


"Kenapa putra mahkota memintamu untuk menyerahkan ini kepadaku?"


"Maaf, aku tidak mengerti nona. Aku hanya ditugaskan oleh beliau untuk mengantarkan ini. Sekalian untuk membantumu berganti pakaian?"


"Tolong katakan padanya, aku mengikutinya kemari hanya untuk menemaninya minum teh. Kenapa dia harus repot-repot menyuruhku untuk berganti pakaian?"


"Itu... maaf aku tidak berani nona." kata pelayan wanita itu dengan tangan gemetaran sambil membawa nampan ditangannya.


"Kalau dia tidak mau tidak perlu dipaksa."


Tiba-tiba terdengar suara seorang pria dari arah lain. Feng Yue dan pelayan wanita itu berbalik ke arah sumber suara itu. Ia melihat salah satu pengawal pribadi putra mahkota Li Haoxi, yang pernah ia temui di pasar saat bersama dengan Xie Lang. Pria itu berjalan mendekat ke arah Feng Yue. Ia menatap ke arah Feng Yue lalu berbalik menatap pelayan wanita di sisinya.


"Letakkan nampan itu di atas meja!" perintah pria itu kepada pelayan wanita yang berdiri di sampingnya.


"Baik tuan." ucap pelayan wanita itu sambil meletakkan nampan itu di atas meja yang berada tak jauh darinya.


"Kau boleh pergi!"


"Baik tuan."


Pelayan wanita itu memberi hormat sambil membungkukkan sedikit badannya dan pergi meninggalkan mereka berdua di dalam pavillun itu. Pria itu menatap Feng Yue dengan tatapan tajam.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?"


"Sebuah kehormatan bagimu, karena Yang Mulia memperlakukanmu dengan sangatlah istimewa sebagai tamunya."


"Apa maksudmu?"


"Humph, apa kau tidak mendengar apa yang dikatakan oleh pelayan wanita itu kepadamu barusan?"


"Oh. Memangnya kenapa?"


"Apa kau tidak tahu, bagaimana caranya menghargai seseorang?"


"Aku..."


"Jue, mundur." teriak putra mahkota Li Haoxi yang berada di belakangnya.


Pria itu kaget ketika mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Ia pun menoleh ke belakang dan memberi hormat kepadanya. Begitu juga Feng Yue yang ikut memberi salam dan hormat kepada putra mahkota Li Haoxi.


"Salam Yang Mulia." kata Feng Yue dan pengawal pribadi putra mahkota Li Haoxi, Jue.


"Mmm. Kau pergilah!" perintah putra mahkota Li Haoxi kepada Jue, pengawal pribadinya.


"Baik Yang Mulia." ucap Jue sambil memberi hormat dan berjalan meninggalkan mereka berdua disana.


Putra mahkota Li Haoxi menatap ke arah Feng Yue yang masih mengenakan baju miliknya. Pandangannya teralihkan ke meja yang berada tak jauh darinya. Diatasnya terdapat sebuah nampan yang diatasnya terdapat baju berwarna biru lengkap dengan aksesoris hiasan rambut yang tergeletak di sebelahnya. Pandangan matanya kemudian teralihkan ke arah Feng Yue.


"Kau tidak menyukai barang pemberianku?!" tanya putra mahkota Li Haoxi kepada Feng Yue dengan tatapan sinis di wajahnya.


Feng Yue menyadari bahwa ia telah melakukan sebuah kesalahan, yang membuat putra mahkota Li Haoxi menjadi marah kepadanya. Ia pun berhati-hati dalam memilih kata-kata agar tidak menyinggung orang berbahaya satu ini.


"Maaf Yang Mulia. Bukannya aku tidak menyukai barang pemberian Yang Mulia."


"Lalu, kenapa kau tidak memakainya?!"


"Maaf Yang Mulia, bagiku ini sangat berlebihan. Kau memintaku untuk menemanimu minum teh. Tapi, kenapa pula kau harus repot-repot memberiku ini semua?!"

__ADS_1


"Huff, apa kau tahu siapa aku?! Aku adalah tamu dari negara tetangga. Dan aku adalah seorang putra mahkota. Akan sangat memalukan jika aku bertemu dengan salah satu orang yang berasal dari negaraku atau mungkin orang yang berasal dari negaramu, melihat aku ditemani oleh seorang gadis dengan pakaian yang sangat lusuh, sedang menenamiku minum teh. Mungkin tidak hanya menemaniku minum teh saja, tapi menemaniku melakukan apa yang aku inginkan selama seharian. Tidakkah itu sangat memalukan bagiku?!"


Dalam benak pikiran Feng Yue, apa yang dikatakan oleh putra mahkota Li Haoxi memang benar adanya. Dia adalah seorang putra mahkota yang sangat disegani oleh rakyat. Terlahir sebagai seorang bangsawan dan mewarisi darah seorang kaisar. Akan sangat memalukan jika orang yang berada disekitarnya, melihat orang yang melayani dirinya terlihat tidak menarik, berpenampilan buruk. Itu akan menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang putra mahkota, calon kaisar di masa depan. Melihat Feng Yue terdiam tanpa kata, Putra mahkota Li Haoxi mulai menegurnya.


"Yue, apa kau sedang melamun?!"


"Ah maaf Yang Mulia. Maaf jika aku bersikap tidak sopan terhadapmu. Aku mengakui kesalahanku. Tolong maafkan aku." kata Feng Yue sambil membungkukkan sedikit badannya.


"Sudahlah, kau tidak perlu melakukan hal ini. Aku tahu, kau pasti kaget dengan hal semacam ini. Karena ini pertama kalinya, kau datang ke istana ini. Di kediamanku ini."


Feng Yue pun terdiam mendengar perkataan yang diucapkan oleh putra mahkota Li Haoxi kepadanya.


"Hari ini aku akan memaafkanmu. Tapi, tidak ada lain kali lagi. Terlebih jika kau berkunjung ke negaraku. Kau dilarang untuk menolak perintahku!" tegas putra mahkota Li Haoxi.


"Aku mengerti."


"Baiklah. Duduklah disini, temani aku minum teh dulu." kata putra mahkota Li Haoxi sambil memberi isyarat tangan agar Feng Yue segera mengambil tempat duduknya.


"Ya."


...****************...


Di Kediaman Xie


Feng Yu yang sedang berbaring di atas tempat tidurnya, tidak bisa memejamkan kedua matanya. Ia selalu terpikirkan Feng Yue, adiknya. Ia semakin khawatir melihat adiknya yang sampai saat ini belum juga pulang. Berbagai macam pikiran negatif mulai bermunculan di dalam pikirannya. Ia terus berguling-guling di atas tempat tidurnya, berharap perasaan negatif tentang adiknya itu hilang. Namun kenyataannya, perasaan itu semakin kuat. Akhirnya ia memutuskan untuk bangun dari tidurnya dan menyelinap masuk ke dalam istana. Dengan berjalan mengendap-endap, ia keluar dari kamarnya. Ia melihat ke sekeliling kediaman, tidak ada seorang pun yang melintas. Saat hendak melompat ke atas atap, tiba-tiba ia dikagetkan oleh suara perempuan yang sedang memanggilnya.


"Feng Yu."


"Eh?"


"Apa yang kau lakukan diluar kamarmu tengah malam seperti ini?"


"Hanya mencari udara segar saja."


"Feng Yu, jangan berbohong. Katakan sejujurnya."


"Baiklah. Aku akan pergi menyelinap masuk ke dalam istana, untuk melihat Yue, adikku."


"Aku tahu. Berhenti mengoceh!"


"Hah?"


"Xie, tolong jangan hentikan aku. Yue adalah satu-satunya adik perempuanku. Satu-satunya keluarga yang aku milikki."


"Huff, aku mengerti. Baiklah. Hati-hati di jalan."


"Terima kasih." kata Feng Yu sambil melompat ke atas atap rumah dan mulai berlari melompat dari satu atap rumah ke atap rumah lainnya.


Tak lama kemudian, ia melihat gerbang istana depan yang dijaga ketat oleh pengawal istana.


"Sial!" umpat Feng Yu sambil bersembunyi di balik semak belukar dan melompat ke atas pohon yang berada tak jauh dari gerbang istana.


Salah satu pengawal istana mendengar suara berisik dari dalam semak yang berada di bawah pohon, tempat Feng Yu sedang bersembunyi.


"Hei, kau mendengar suara berisik itu? Itu berasal dari semak belukar yang ada disana." kata salah satu pengawal istana yang sedang bertugas menjaga gerbang istana di depan, sambil menunjuk ke arah semak belukar yang sedang bergoyang.


"Mungkin ada kucing disana." kata salah satu pengawal yang lainnya.


"Tidak mungkin ada kucing malam-malam berkeliaran di sekitar sini. Ayo kita lihat!"


"Tidak mau!"


"Ayolah!"


"Tidak ya tidak! Lagipula apa yang kau takutkan?!"


"Aku takut ada penyusup masuk ke dalam istana ini. Atau mungkin seorang pembunuh!"


"Diam! Jangan berbicara sembarangan!"

__ADS_1


Suara berisik itu semakin keras terdengar, membuat kedua pengawal istana itu saling bertukar pandang satu sama lain dan mengalihkan pandangannya ke arah semak belukar itu. Keduanya pun berjalan bersama-sama menuju ke arah semak belukar yang sedang bergoyang itu. Tiba-tiba dari dalam semak belukar itu, keluarlah seekor kucing hitam melompat ke arahnya sambil mengeong. Kedua pengawal istana itu dibuat kaget bukan main oleh kucing hitam itu. Segera kucing hitam itu berlari menjauh dari mereka berdua.


"Bukankah sudah ku bilang kepadamu. Itu hanya seekor kucing!" bentak salah satu pengawal kepada pengawal yang lain.


"Maaf... maaf."


"Sudahlah, ayo kita lanjutkan tugas kita."


Kedua pengawal itu berbalik dan berjalan menuju tempat asal mereka. Dengan gerakan cepat, Feng Yu melewati mereka berdua dan berjalan di tembok gerbang istana dan melompat melalui atap pintu gerbang dan mulai melompat ke atap yang lainnya. Gerakannya sangat cepat hingga tak terlihat sama sekali.


"Hei, apa kau tadi merasa ada sesuatu yang sedang melewati kita tadi?!"


"Berhenti menakutiku!"


"Aku tidak menakutimu!"


"Sudahlah. Ayo kembali bekerja. Jangan biarkan pikiran negatif menghantui kau."


"Iya."


Setelah melompati atap satu ke atap yang lainnya, Feng Yu tidak juga menemukan adiknya di dalam istana. Sungguh keberuntungan yang sangat buruk baginya. Ia ketahuan menyelinap ke dalam istana oleh putri Ying Xie yang sedang berjalan ke luar kamar untuk mencari udara segar. Ia melihat Feng Yu yang berdiri di atap rumah yang lain, yang menghadap ke arahnya. Wajah Putri Ying Xie tiba-tiba berubah menjadi ceria. Ia segera memanggil Feng Yu.


"Feng Yu!"


Feng Yu menoleh dan dilihatnya putri Ying Xie sedang memanggilnya. Karena tidak ingin orang lain mendengar keributan, Feng Yu segera melompat turun dan berjalan menghampiri Putri Ying Xie.


"Yang Mulia."


"Ada apa tengah malam kau datang menyelinap ke dalam istana?!"


"Mencari adikku."


"Apa dia belum pulang?"


"Belum."


"Orang itu! Kau tenang saja, aku akan menyuruh seseorang untuk memanggil adikmu kemari."


"Maaf merepotkan tuan putri."


"Tidak perlu sungkan. Kau tunggu dulu disini ya. Jangan pergi kemana-mana?!"


"Baiklah."


Putri Ying Xie segera berlari ke arah yang berbeda dari kamarnya. Tak lama kemudian, putri Ying Xie kembali menemuinya.


"Yang Mulia, kau sudah kembali?!"


"Maaf membuatmu menunggu. Kau tenang saja, sebentar lagi, adikmu akan datang kemari."


"Terima kasih Yang Mulia. Maaf sudah merepotkanmu."


"Tidak apa-apa."


"Mmm."


"Feng Yu, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan kepadamu."


"Apa itu?!"


"Aku... aku takut nanti kau membenciku."


"Kau belum mengatakannya, mana mungkin aku membencimu?!"


[Ting!]


[Peringatan! Peringatan! Peringatan!]


"Ada apa lagi ini?!" batin Feng Yu.

__ADS_1


[Host bersiaplah untuk mendengarkan pernyataan cinta dari putri Ying Xie! Segera dapatkan poin dan reward dari misi ini. Jawabanmu menentukan keberhasilan dari misi ini! Selamat berjuang!]


"Astaga, apa aku harus menerima wanita yang sudah bertunangan dengan pria lain?! Ini bukan sifatku! Sistem, kau sedang mempermainkan aku ya!" teriak Feng Yu dengan wajah putus asa.


__ADS_2