
Tak lama kemudian, mereka telah sampai ke tempat tujuan. Mereka berdua telah tiba di pasar yang berada di tengah kota. Keduanya pun turun dari kereta dan melihat suasana pasar itu sangat ramai dari biasanya. Feng Yu melihat sekeliling pasar, begitu juga dengan Putri Ying Xie. Keduanya sangat terkagum-kagum melihat suasana pasar yang berada di tengah kota sangatlah ramai dan penuh dengan pengunjung. Ada banyak macam bentuk lentera yang dipajang di sepanjang jalan. Ditambah dengan ribuan orang-orang yang sedang berjualan beraneka ragam makanan, dan barang-barang lainnya. Putri Ying Xie melirik ke arah Feng Yu. Feng Yu yang menyadari dirinya dilirik oleh putri Ying Xie yang berdiri di sebelahnya, langsung menoleh ke arahnya. Keduanya bertemu pandang satu sama lain.
"Ehem. Apa kita bisa pergi sekarang?!" tanya putri Ying Xie kepada Feng Yu dengan wajah yang memerah.
"Tentu saja. Tuan putri ingin pergi kemana?"
"Emm, Feng Yu."
"Iya."
"Saat kita hanya berdua saja dan kebetulan kita juga sedang berada di luar istana. Bolehkah aku meminta kau untuk tidak memanggilku dengan sebutan tuan putri?!"
"Lalu aku harus memanggil tuan putri dengan panggilan apa?"
"Panggil namaku saja. Ying Xie." jawab Putri Ying Xie dengan wajah yang memerah.
"Apa boleh aku memanggilmu seperti itu? Kau kan seorang putri?"
"Ini perintahku! Kau harus mematuhinya!" kata putri Ying Xie dengan nada sedikit meninggi.
"Baiklah jika tuan putri menginginkan hal itu. Aku akan melakukannya sekarang juga."
"Kau mau melakukan apa?!"
"Memanggilmu."
"Memanggil apa?!"
"Ying Xie."
"Hah??!"
"Ada apa? Apa aku salah mengatakannya ya?! Kau memintaku untuk memanggil namamu bukan?!"
"Eh... ah..."
"Sudahlah. Ayo pergi." kata Feng Yu sambil mengulurkan tangan kirinya ke hadapan Putri Ying Xie.
Putri Ying Xie yang melihatnya, tanpa pikir panjang ia segera menerima uluran tangan dari Feng Yu. Keduanya bergandengan tangan sambil berjalan menyusuri setiap sudut pasar. Tiba-tiba langkah kaki Feng Yu terhenti. Putri Ying Xie yang berada di sebelahnya pun ikut berhenti. Ia segera menoleh ke arah Feng Yu dan bertanya.
"Kenapa berhenti?!"
"Maaf Ying er. Tidak bisakah kita jalan berdua tanpa diikuti oleh para pengawalmu?" tanya Feng Yu dengan nada sedikit ragu.
__ADS_1
Putri Ying Xie pun menoleh ke belakang dan dilihatnya beberapa pengawal istana sedang mengikuti mereka. Putri Ying Xie berbalik menatap Feng Yu yang juga sedang menatapnya. Keduanya bertemu pandang satu sama lain.
"Feng Yu, kau tidak menyukai mereka?"
"Bukan tidak suka. Hanya saja, tidak menyenangkan jika berjalan-jalan diikuti oleh seseorang yang menjagamu ke sana kemari."
"Benar juga ya. Baiklah. Aku akan menyuruh mereka semua untuk pergi."
"Eits, bukan semuanya tuan putri. Eh, maksudku Ying er. Setidaknya, sisakan satu orang yang mengikuti dan mengawasi kita dari kejauhan. Setidaknya pengawal yang ilmu bela dirinya diatas rata-rata." terang Feng Yu.
"Baiklah. Kau tunggu di sini ya."
Feng Yu mengangguk pelan. Putri Ying Xie berjalan menghampiri beberapa pengawal istana dan berbicara kepada mereka semua. Semua pengawal istana itu pergi meninggalkannya, namun hanya ada satu orang yang tersisa. Dia adalah pengawal istana yang mempunyai ilmu bela diri di atas rata-rata. Sesuai perintah putri Ying Xie, ia bertugas mengawasi dan menjaga mereka berdua dari kejauhan. Melihat hal ini, Feng Yu merasa sedikit tenang. Putri Ying Xie segera berlari ke arah Feng Yu.
"Bagaimana? Apa kita bisa melanjutkan jalan-jalan lagi?"
"Tentu saja."
"Yeee." teriak Putri Ying Xie dengan ekspresi ceria di wajahnya.
Keduanya pun akhirnya melanjutkan berjalan menyusuri setiap sudut pasar. Putri Ying Xie dan Feng Yu bergandengan tangan sepanjang perjalanan mereka. Sepanjang perjalanan, Feng Yu melihat-lihat beberapa pedagang yang berjualan di sepanjang sisi jalan. Berbeda dengan putri Ying Xie yang sedari tadi melamun, memikirkan Feng Yu yang memanggil namanya dengan sebutan Ying er. Hal itu membuat ekspresi wajahnya menjadi memerah karenanya. Feng Yu melirik ke arah putri Ying Xie dan melihatnya ia sedang senyum-senyum sendiri dengan ekspresi wajah yang memerah.
"Ada apa dengan gadis ini? Kenapa ia senyum-senyum sendiri?!" batin Feng Yu.
"Feng, itu bukannya..." tanya putri Ying Xie sambil menujuk ke arah tempat dimana Feng Yue dan Xie Lang berada dengan jari telunjuknya.
"Mari kita sapa mereka berdua." ajak Feng Yu.
"Apa tidak apa-apa... aku menyapa mereka?" tanya putri Ying Xie dengan nada cemas.
"Apa yang kau khawatirkan?! Tentu saja tidak apa-apa. Bukankah lebih baik kalian bertiga bisa saling mengenal satu sama lain? Terlebih kalian sama-sama perempuan kan?!"
"Mmm."
Kemudian Feng Yu dan Putri Ying Xie berjalan menyeberang jalan dan menghampiri mereka berdua yang sedang asyik memilih-milih dan menawar barang.
"Yue." sapa Feng Yu kepada adiknya.
Yue pun menoleh dan melihat kakaknya yang sedang memanggil namanya.
"Kakak."
Mendengar Feng Yue memanggil kakak, Xie Lang lalu menoleh ke arah lain. Ia melihat Feng Yu yang sedang menggandeng tangan perempuan lain, yang tak lain adalah putri Ying Xie. Melihat Xie Lang menatap putri Ying Xie dengan tatapan tidak suka, Feng Yu menarik tangannya. Putri Ying Xie kaget melihat Feng Yu yang tiba-tiba melepaskan genggamannya.
__ADS_1
"Kalian berdua kenalkan, ini putri Ying Xie. Aku yakin kalian berdua pasti mengenal dia bukan?!"
"Tentu saja, kami mengenalnya. Putri Ying Xie sangat cantik sekali jika dilihat dari dekat." puji Xie Lang. Perkenalkan, namaku Xie Lang. Teman masa kecil Feng Yu." ucap Xie Lang sambil menjabat tangan putri Ying Xie.
"Mmm."
"Kenalkan, aku Yue. Adik dari... orang yang berdiri di sebelahmu." ucap Feng Yue sambil menjabat tangan putri Ying Xie.
Mendengar adik perempuannya sedang menggodanya, Feng Yu tak tinggal diam begitu saja.
"Hei Yue, sejak kapan kau bersikap menjadi kurang ajar kepada kakak laki-lakimu ini?!" ucap Feng Yu dengan kedua mata yang melotot kepadanya.
"Sejak kakak pergi meninggalkan aku tanpa sepatah katapun." kata Yue dengan ekspresi memelas di wajahnya.
"Mana ada aku pergi tidak berpamitan kepadamu?!" bantah Feng Yu.
Mendengar kakaknya mengatakan hal itu, seketika Feng Yue melirik ke arah putri Ying Xie. Melihat Feng Yue melirik ke arah putri Ying Xie, Feng Yu mulai menyadari kesalahannya. Ia langsung terdiam tanpa kata.
"Ya Tuhan, aku lupa kalau hari ini aku tidak berpamitan kepada Yue untuk pergi ke istana. Pantas saja mulutnya sangat pedas!" pikir Feng Yu.
"Ada apa?!" tanya putri Ying Xie kepada Feng Yu yang sedang melamun.
"Tidak ada apa-apa. Oh ya, apa yang kalian berdua lakukan disini?!"
"Awalnya kami ingin mencarimu, karena kau pergi tidak berpamitan kepada kami. Tapi kami melihat akan ada pesta kembang api disini. Jadi kami memutuskan untuk pergi berbelanja dulu, baru mencarimu. Siapa tahu akan bertemu denganmu disini." terang Xie Lang.
"Jadi begitu. Oh ya, karena kalian berdua sudah ada disini, aku ingin meminta tolong kepada kalian berdua."
"Apa itu?!" tanya Xie Lang dengan wajah penasaran.
"Tolong kalian berdua ajak putri Ying Xie untuk berjalan-jalan di tempat ini. Karena kalian berdua sama-sama perempuan, jadi menurutku lebih mudah untuk kalian bertiga untuk saling berbagi cerita atau bertukar pikiran." terang Feng Yu kepada ketiga wanita cantik itu yang sedang memperhatikan dirinya.
"Aku tidak mau. Maaf." kata putri Ying Xie dengan nada lirih
"Kenapa?" tanya Feng Yu dengan wajah yang penuh tanya.
"Bukankah kau akan menemaniku sepanjang hari?! Kenapa kau menyuruhku pergi untuk menghabiskan waktuku seharian dengan mereka?!" tanya putri Ying Xie.
"Bukankah lebih baik, jika kau pergi dengan mereka??"
"Aku tidak mau."
Lagi-lagi Feng Yu harus membujuk putri Ying Xie.
__ADS_1