
Di dalam istana, terdapat ribuan pengawal yang bertugas untuk menjaga istana. Hampir seluruh istana dikelilingi oleh pengawal istana, tak terkecuali kediaman putri. Dari balik atas pohon, Feng Yu memeriksa keadaan di dalam istana. Ia bisa melihat dari balik atas pohon, ada banyak ribuan pengawal yang bertugas dan berkeliling istana. Feng Yu memukul batang pohon itu dengan tinjunya.
"Sialan! Dasar brengsek! Kenapa ada banyak sekali para pengawal yang sedang bertugas mengelilingi istana malam ini?!" umpat Feng Yu.
Tak lama kemudian, Feng melirik ke arah kanan dan ke kiri. Sangat sulit bagi Feng Yu untuk masuk menerobos pertahanan mereka. Ia segera memutar otaknya, mencoba berpikir sekeras mungkin. Bagaimana caranya agar ia bisa menerobos masuk ke dalam istana putri. Tak lama kemudian ia memiliki sebuah ide. Ia menggunakan sedikit kekuatan sihirnya untuk mengambil beberapa batu yang berada di bawah pohon. Beberapa batu itu terbang menuju ke arahnya dan mendarat tepat di telapak tangan kanannya. Ia segera memasukkan beberapa batu ke dalam balik jubahnya. Ia menyisakan tiga batu di tangannya. Dengan segera ia bergerak cepat melompat dari atas pohon menuju ke pohon yang lain. Ia melompat dan terbang menuju ke atap istana menggunakan ilmu meringankan tubuh. Ia berdiri di atas atap itu dan melempar sebuah batu ke bawah yang sudah ia arahkan menuju halaman. Mendengar suara batu yang dilempar ke halaman, membuat para pengawal yang sedang bertugas langsung berpandangan satu sama lain. Beberapa diantaranya memutuskan untuk berjaga dan sisanya memeriksa ke halaman. Dengan cepat Feng Yu melompat turun ke bawah dan dengan gerakannya yang berlari secepat kilat, ia segera memasukki koridor istana yang masih dijaga oleh beberapa pengawal. Beberapa pengawal yang sedang bertugas menjaga di sekitar koridor istana, tidak menyadari seseorang yang bergerak secepat angin dengan bayangan kilatnya. Dalam hati, Feng Yu ingin tertawa. Untuk pertama kalinya ia merasakan pengalaman menakjubkan seperti ini di dunia nyata. Selama ini ia hanya bermain game di dunia virtual. Siapa sangka jika ia bisa merasakan keasyikan dunia kultivasi di zaman dulu.
"Ya Tuhan, aku berasa menjadi MC pahlawan super di dunia ini. Benar-benar luar biasa." gumam Feng Yu.
Tinggal selangkah lagi ia sampai di kamar sang putri. Namun, langkahnya harus terhenti dan dengan terpaksa ia membelokkan langkahnya untuk mencari tempat bersembunyi. Ia bersembunyi di balik tembok kamar lain. Ia melihat ada beberapa pelayan yang sedang masuk ke dalam kamar putri.
"Sialan!!! Hampir saja. Tinggal sedikit lagi! Kenapa malah ada serangga pengganggu!" umpat Feng Yu sambil memukul tembok tempat ia bersembunyi.
"Huff, mana poinku tidak cukup untuk menukarkan ilmu menghilang. Jika ada yang memergokiku, dengan terpaksa aku harus menggunakan sedikit cara kasar!" gumam Feng Yu.
Pepatah lama mengatakan, kata-kata yang diucapkan adalah sebuah do'a. Baru beberapa menit ia mengatakan hal itu, tiba-tiba seorang pengawal yang sedang berpatroli menangkap basah dirinya yang sedang bersembunyi.
"Hah!!! Kau!!! Tolong, ada penyusup!! Mmphh!!" teriak pengawal itu sambil meronta-ronta, berusaha untuk melepaskan diri dari mulutnya yang dibungkam oleh Feng Yu.
Karena mendengar suara teriakan dari arah berlainan, beberapa pengawal yang berada di halaman dan yang sedang berjaga di sekitar koridor, langsung membubarkan diri mereka mencari sumber suara teriakan tersebut. Feng Yu yang mendengar beberapa langkah yang berjalan mendekat menuju ke arah tempat persembunyiannya, dengan cepat memukul area belakang kepala pengawal itu, hingga membuat pengawal itu jatuh pingsan. Dengan cepat ia segera membawa pengawal yang pingsan itu terbang menuju tempat persembunyian yang aman, yaitu di atas atap istana. Salah satu pengawal melihat dia sedang terbang ke atas atap dan berteriak.
"Lihat! Penyusup itu terbang ke atas atap!"
Semua pengawal yang mengetahuinya segera mengejarnya.
"Tsk! Sialan, ketahuan juga!" umpat Feng Yu dengan nada kesal.
Feng Yu segera mengeluarkan bubuk obat tidur dari balik jubahnya dan menyebarkannya tepat ke arah mereka yang sedang mengejarnya. Tanpa menunggu lama, beberapa pengawal yang terkena bubuk obat tidur itu pun, segera jatuh di atas tanah. Semuanya tertidur pulas akibat terkena bubuk obat tidur yang telah disebarkan oleh Feng Yu. Feng Yu yang berada di atas atap istana, segera mengambil pakaian pengawal itu dan memakainya. Pengawal itu dibiarkan bertelanjang dada dengan celana pendek yang ia kenakan.
"Kau tenang saja. Setelah urusanku selesai, aku akan mengembalikannya kepadamu. Kau tunggulah disini baik-baik. Mimpi yang indah ya!" kata Feng Yu sambil menepuk-nepuk dahi pengawal itu yang sedang tertidur.
Setelah berganti pakaian pengawal itu, Feng Yu dengan segera melompat turun ke bawah. Ia dengan cepat melangkah masuk ke dalam istana putri.
Tok... Tok... Tok...
__ADS_1
"Masuk."
Feng Yu membuka pintu dan dilihatnya putri sedang meminum secangkir teh hijau di tangannya.
"Salam Tuan Putri. Hamba diperintahkan seseorang untuk menyampaikan sesuatu."
"Ada apa diluar ribut-ribut?! Tunggu, kau siapa? Aku tidak pernah melihatmu di istana ini?!" tanya Putri sambil meletakkan cangkir tehnya dia atas meja dan beranjak dari tempat duduknya.
Ia berjalan menghampiri Feng Yu yang memakai pakaian pengawal istana. Ia menatap putri Ying Xie yang juga sedang menatap dirinya. Keduanya saling bertemu pandang satu sama lain.
"Kau... rasanya aku pernah melihat wajahmu. Tapi dimana ya?!" tanya putri Ying Xie sambil mendekat dan mengamati wajahnya.
"Huff, ternyata dia tidak mengenali aku yang sedang berpakaian seperti pengawal istana?!" batin Feng Yu.
Tiba-tiba putri Ying Xie memegang dagunya dan memutar wajahnya dari kanan ke kiri.
"Sial! Berani sekali dia menyentuh wajahku?!" umpat Feng Yu dalam hati.
"Kau?!"
Dengan cepat Feng Yu membungkam mulut putri Ying Xie dengan tangan kanannya.
"Sstt, jangan keras-keras. Apa kau ingin mengundang semua orang untuk datang kemari dan menangkap basah kita berdua?! " bisik Feng Yu.
Putri Ying Xie mengangguk pelan seolah mengerti perkataan yang dikatakan oleh Feng Yu. Melihat putri Ying Xie menggangguk pelan, Feng Yu segera melepaskan tangannya.
"Ahh... kau! Kenapa kau datang kemari?! Apa kau tidak takut tertangkap basah oleh pengawal istana ini?!"
"Kalau aku tertangkap, kau harus membantuku keluar?!"
"Kenapa harus aku?!"
"Karena kita berdua adalah teman."
__ADS_1
"Cih. Siapa juga yang ingin menjadi temanmu?!"
"Kau yakin tidak ingin berteman denganku?! Apa kau tidak takut menyesal di kemudian hari?!"
"Heh, menyesal? Tidak ada hal seperti itu dalam hidupku."
"Oh ya?! Aku tidak percaya kau tidak punya sebuah penyesalan."
"Terserah kau saja! Aku tidak peduli!"
"Dasar brengsek! Wanita kalau sudah marah bisa seumur hidup akan terus diingat!" umpat Feng Yu dalam hati.
"Baiklah. Aku juga tidak punya banyak waktu di sini. Kedatanganku kemari, hanya untuk memberimu ini sekaligus untuk meminta maaf kepadamu. Apa kau mau memaafkan aku?!" tanya Feng Yu sambil menyerahkan sebuah kotak kayu kepada putri Ying Xie.
Putri Ying Xie melihat kotak itu lalu berbalik menatap Feng Yu.
"Kenapa kau meminta maaf kepadaku sambil membawakan kotak itu kepadaku?! Kau pikir aku gadis seperti apa?!"
"Maaf tuan putri. Aku tidak bermaksud untuk menyinggungmu atau merendahkanmu. Aku hanya meminta maaf tulus kepadamu. Dan sebagai tanda permintaan maaf tulusku kepadamu, aku memberimu ini. Terserah kau mau menerimanya atau tidak." terang Feng Yu sambil memegang kotak kayu itu ditangannya.
Putri Ying Xie menatapnya dengan tatapan serius. Sesekali ia melihat kotak kayu yang dipegang oleh Feng Yu dan sesekali menatap ke arah Feng Yu.
"Wanita ini benar-benar membuatku..."
"Baiklah. Aku terima permintaan maafmu. Tapi ada syaratnya."
"Apa itu syaratnya tuan putri?!"
"Tidak susah. Kau harus bantu aku keluar dari istana dan menemaniku seharian penuh besok. Bagaimana?!"
"Apa?!"
"Ini gila! Apa dia berniat membunuhku secara langsung?!" umpat Feng Yu dalam hati.
__ADS_1