Love Villain System

Love Villain System
Pernyataan Cinta Putri Ying Xie (2)


__ADS_3

"Feng Yu."


"Iya."


"Aku... aku... aku mencintaimu."


Deg!


Mendengar Putri Ying Xie menyatakan perasaan cintanya kepada dirinya, Feng Yu bukannya kaget, ia terlihat biasa saja. Bagaimana tidak? Di zaman modern saja, berapa banyak gadis-gadis muda yang menyatakan perasaannya kepadanya, saat ia masih duduk di bangku SMA. Terkadang ada beberapa dari mereka yang pemalu. Memberikan kado berupa coklat, baju atau jam tangan yang kebanyakan diletakkan di dalam laci bangku sekolahnya. Dan didalamnya terdapat sepucuk surat cinta dari para gadis-gadis yang jatuh cinta padanya. Bagi Feng Yu, mau zaman modern atau kuno, seorang wanita menyatakan perasaannya kepada seorang pria yang sangat ia cintai, patut dihormati. Karena butuh sebuah keberanian bagi mereka untuk menyatakan perasaan cintanya, kepada pria yang mereka cintai. Tak peduli apapun resiko baik buruknya. Sebagai seorang pria yang pernah berpengalaman dalam hal memikat hati seorang wanita, terkadang Feng Yu dihadapkan kesulitan dimana ia harus menolak mereka. Bukan karena ia seorang playboy atau pecinta wanita, akan tetapi sejak lahir ia sudah memiliki aura yang mampu memikat hati siapa saja yang melihatnya. Tak terkecuali seorang wanita. Inilah yang membuat dirinya merasakan sebuah dilema. Terkadang ia melihat dirinya di dalam cermin. Sosok pria berdarah dingin seperti dirinya ini, jikalau dia tidak dikaruniai wajah yang berparas tampan sejak lahir, akankah ia menghadapi dilema seperti ini?


"Maaf putri, kau mengatakan apa? Aku tidak mendengarnya?" kata Feng Yu yang berpura-pura tidak mendengarnya.


"Huh. Aku berkata padamu, kalau aku..."


"Aku apa?"


"Aku... aku mencintaimu!" teriak Putri Ying Xie di hadapan Feng Yu.


Feng Yu yang mendengar pernyataan cintanya itu hanya bisa menghela nafas.


"Huff. Putri Ying Xie, aku minta maaf. Sangat tidak sopan jika aku mengatakan hal ini kepadamu. Terlebih, aku..."


"Tidak apa-apa. Aku tidak akan marah. Aku tidak akan sakit hati. Aku akan menerima apapun keputusanmu."


"Kau yakin dengan semua perkataanmu? Kau yakin tidak akan marah, sakit hati apalagi menangis, hah?!" batin Feng Yu.


"Baiklah. Karena tuan putri sudah bersikeras seperti itu. Aku akan mengatakannya."


Putri Ying Xie menatap Feng Yu lekat-lekat. Ini baru pertama kalinya ia menyatakan perasaan cintanya kepada seorang pria yang kedudukannya jauh dibawahnya. Ia berharap bisa mendengar kata-kata sesuai yang ia harapkan. Feng Yu menerima pernyataan cintanya. Jika hal itu memang terjadi, namun ayahandanya menentangnya. Ia akan berusaha menyakinkan ayahandanya jika pria yang ia pilih adalah pria yang sesuai dengan tipenya.


"Putri, terima kasih sudah mencintaiku. Tapi maaf. Aku tidak bisa bersamamu."


"Kenapa?"


"Karena kau dan aku berbeda. Terlebih, kau mempunyai seorang tunangan."


"Kau tidak perlu khawatir. Aku bisa saja membatalkan pernikahanku. Aku juga akan berusaha menyakinkan ayahhandaku, agar bisa menerimamu."


"Terima kasih. Tapi sekali lagi, maaf. Aku tidak bisa. Maafkan aku." ucap Feng Yu dengan nada lembut.

__ADS_1


Mendengar jawaban Feng Yu, terlintas kekecewaan pada diri putri Ying Xie. Ia menundukkan kepalanya, menyembunyikan rasa sedihnya. Wajahnya jelas melukiskan perasaan kecewa yang mendalam. Kecewa akan jawaban Feng Yu yang tak sesuai dengan apa yang dia harapkan. Melihat putri Ying Xie menundukkan kepalanya, Feng Yu meyakinkan dirinya bahwa saat ini putri Ying Xie jelas kecewa dengan dirinya. Karena dengan terang-terangan, dirinya telah menolak cintanya.


"Putri, putri."


"Ah." kata putri Ying Xie kaget sambil mengangkat kepalanya.


"Kau tidak apa-apa?"


"Iya. Aku tidak apa-apa. Maaf membuatmu khawatir." kata putri Ying Xie kepada Feng Yu.


"Syukurlah."


Tiba-tiba dari arah berlawanan, terdengar suara seseorang yang memanggil nama Feng Yu.


"Kakak."


"Yue." teriak Feng Yu sambil menoleh ke belakang.


Tanpa pikir panjang, Feng Yu berlari menghampiri Feng Yue, adiknya.


"Yue, kau tidak apa-apa?"


"Berani sekali kau menyelinap masuk ke dalam istana!" bentak putra mahkota Li Haoxi kepada Feng Yu.


"Yang Mulia, aku minta maaf. Aku terpaksa melakukan ini karena aku khawatir dengan adikku."


"Kau tidak perlu khawatir. Aku hanya menyuruhnya untuk menemaniku minum teh sambil berbincang-bincang. Sayangnya, seseorang datang mengganggu kesenanganku." sindir Putra mahkota Li Haoxi.


"Yang Mulia putra mahkota Li Haoxi, kau tidak perlu tersinggung. Aku yang menyuruh orangku untuk memanggil adiknya datang kemari. Apa kau merasa keberatan dan terganggu?!" tanya putri Ying Xie.


"Sedikit terganggu. Apa kau sedang balas dendam padaku?!"


"Tidak."


"Yang Mulia, tuan putri, maaf mengganggu waktu istirahat kalian berdua. Aku mohon undur diri untuk pulang." pamit Feng Yue kepada putra mahkota Li Haoxi dan putri Ying Xie sambil membungkukkan sedikit badannya, dan diikuti oleh sang kakak.


"Mmm. Apa perlu kami antar?!"


"Tidak perlu putri. Terima kasih atas kebaikanmu. Yang Mulia putra mahkota Li Haoxi, aku mewakili adikku. Mohon maaf jika dalam melayani anda... adikku melakukan kesalahan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja, aku minta maaf yang sebesar-besarnya."

__ADS_1


"Mmm." sahut putra mahkota Li Haoxi.


"Kalau begitu, kalian berhati-hatilah." ucap putri Ying Xie kepada Feng Yu dan Feng Yue.


Keduanya memberi salam dan hormat sebelum pergi meninggalkan tempat itu. Melihat kepergian Feng Yu, ekspresi di wajah putri Ying Xie berubah menjadi sedih. Putra mahkota Li Haoxi yang melihatnya, semakin yakin bahwa yang ia lihat benar adanya. Tanpa sengaja, ia dan Feng Yue mendengar percakapan putri Ying Xie dengan Feng Yu, kakak Feng Yue. Ia mendengar Putri Ying Xie mengutarakan perasaannya terhadap Feng Yu. Sayangnya, Feng Yu menolak cintanya. Hal itulah yang membuat putri Ying Xie menjadi sedih dan kecewa.


"Kau tidak apa-apa?!" tanya putra mahkota Li Haoxi kepada putri Ying Xie yang sedang murung.


"Apa maksudmu bertanya seperti itu kepadaku?!"


"Heh, kau pikir aku tidak tahu apa yang telah terjadi antara kau dan Feng Yu?!"


"Apa maksudnya mengatakan hal itu kepadaku? Apa jangan-jangan dia, melihat adegan itu?!" pikir putri Ying Xie dengan sedikit rasa cemas di hatinya.


"Memangnya apa yang kau tahu tentang aku dan dia?!"


Putra mahkota Li Haoxi berjalan mendekat ke arah putri Ying Xie.


"Aku mendengar seorang gadis sedang mengutarakan perasaannya kepada Feng Yu. Sayangnya, dia ditolak."


"Kau!"


"Ada apa?!"


"Berani sekali kau menguping pembicaraan orang lain?! Dimana etika sopan santunmu?!"


"Aku tidak menguping. Hanya kebetulan lewat saja dan tidak sengaja mendengar percakapan kalian berdua."


"Itu berarti, bukan hanya kau saja yang mendengarnya?!"


"Tentu saja. Adik dari Feng Yu juga mendengarnya."


Melihat reaksi putri Ying Xie yang terdiam tanpa kata, putra mahkota Li Haoxi pun bertanya kepadanya.


"Putri, tidak aku sangka. Kau berani berbuat seperti ini dibelakangku?!"


"Kenapa? Apa ada yang salah? Lagipula kita hanya bertunangan, bukan menikah. Dan bisa saja, pertunangan itu putus di tengah jalan. Kita tidak akan tahu bukan, takdir berkata seperti apa?!" kata putri Ying Xie sambil berjalan melewati putra mahkota Li Haoxi dan meninggalkannya.


Putra mahkota Li Haoxi berbalik menatap punggung putri Ying Xie yang berjalan meninggalkan dirinya sendiri tanpa mengucapkan selamat malam kepadanya.

__ADS_1


"Tsk, kau bahkan masih pura-pura terlihat baik-baik saja di depanku. Padahal jelas-jelas aku melihat kau mengutarakan isi hatimu kepada Feng Yu. Sayangnya, kau ditolak olehnya. Hahaha. Feng Yu, kau benar-benar cari masalah denganku!" gumam putra mahkota Li Haoxi dengan senyum menyeringai di wajahnya.


__ADS_2