
Mendengar Putri Ying Xie bertanya hal seperti itu kepadanya, Feng Yu hanya menjawabnya dengan senyuman manis di wajahnya.
"Kenapa kau tersenyum?"
"Tidak boleh?"
"Bukannya tidak boleh. Aku kan bertanya dan seharusnya kau menjawabnya. Bukan malah tersenyum seperti itu." jawab Putri Ying Xie dengan wajah cemberut.
"Terkadang ada beberapa hal yang harus dijawab dan tidak dijawab. Ada yang perlu orang lain ketahui dan ada yang tidak perlu orang lain ketahui."
"Jadi maksudmu, jika kau tidak ingin menjawab sesuatu atau tidak ingin memberitahukan sesuatu kepada orang lain, kau harus mengabaikannya?!"
"Benar."
"Jadi, kau mengabaikan pertanyaanku?"
"Apa itu penting bagi seorang wanita yang sebentar lagi akan menikah?"
Mendengar pertanyaan Feng Yu, putri Ying Xie tidak bisa berkata apa-apa. Dalam hatinya, ia sangat penasaran apakah Feng Yu mempunyai seorang kekasih atau tidak. Namun disisi lain, Feng Yu terlihat enggan menjawab pertanyaan darinya. Melihat ekspresi kecewa di wajah putri Ying Xie, Feng Yu hanya tersenyum.
"Putri, aku belum punya kekasih." jawab Feng Yu dengan mengalihkan pandangannya ke depan.
Mendengar Feng Yu menjawab pertanyaannya, Putri Ying Xie seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Feng Yu berkata bahwa ia belum mempunyai seorang kekasih. Tiba-tiba raut wajah putri Ying Xie berubah menjadi merah merona.
" Barusan dia berkata tidak mempunyai seorang kekasih?! Apa dia sedang berbohong?! batin Putri Ying Xie.
"Kau bohong!" ucap putri Ying Xie dengan nada sedikit kesal.
Mendengar Putri Ying Xie menuduhnya berbohong, Feng Yu lalu menoleh kearahnya dan menatapnya.
"Kau bertanya, aku jawab. Tapi, siapa sangka kau malah menuduhku berbohong." ucap Feng Yu.
"Tentu saja kau berbohong. Mana ada orang yang percaya dengan kata-katamu. Kau sangat tampan. Tidak mungkin tidak ada seorang gadis yang menyukaimu."
"Tampan bukan ukuran seorang pria. Pria diukur dari kejantanannya."
"Kau!" ucap putri Ying Xie dengan wajah yang semakin memerah setelah mendengar perkataan Feng Yu.
Feng Yu yang melihat wajah putri Ying Xie yang semakin memerah, membuat dirinya tak kuasa menahan tawanya.
"Hahaha... putri, apa yang sebenarnya kau pikirkan?!"
"Tidak ada."
"Apa kau yakin?!"
"Tentu saja."
"Tapi, kenapa wajahmu memerah? Kau malu ya?" goda Feng Yu
"Tidak. Aku hanya merasa sedikit gerah."
"Oh ya? Menurutku, hari ini tidaklah panas."
"Kau yang membuat panas."
"Hah? Hahahaha.... baiklah baiklah. Nanti setelah sampai di istana, aku akan membuatkanmu minuman dingin agar tubuhmu tidak lagi panas."
__ADS_1
"Dasar tidak peka!" umpat putri Ying Xie dengan nada lirih.
Mendengar Putri Ying Xie mengumpat dengan suara yang sangat lirih, Feng Yu tak bisa tinggal diam. Ia pun ikut mengumpat balik.
"Dasar wanita selalu saja merasa benar!" umpat Feng Yu.
"Kau bilang apa?!"
"Wanita adalah makhluk paling benar. Dan itu tidak bisa diganggu gugat!" ucap Feng Yu dengan nada tegas.
"Humph." sahut putri Ying Xie sambil mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela kereta.
"Huff." Feng Yu menghela nafas.
Tak lama kemudian, kereta kuda yang membawa mereka telah sampai di istana. Masing-masing dari mereka keluar dari dalam kereta kuda. Feng Yu keluar terlebih dahulu diikuti oleh Putri Ying Xie dibelakangnya. Di kereta kuda akhir, terlihat Xie Lang juga turun dari dalam kereta kuda. Feng Yu mengalihkan pandangannya ke arah kereta kuda pertama yang terlebih dahulu sampai di istana. Ia melihat putra mahkota Li Haoxi turun terlebih dahulu dari kereta kuda. Ia melihat putra mahkota Li Haoxi mengulurkan tangannya ke arah adiknya, Feng Yue. Feng Yue yang melihat uluran tangan dari putra mahkota Li Haoxi, ragu-ragu untuk menerimanya. Feng Yu yang melihatnya langsung berjalan menghampiri mereka berdua. Ia pun mendorong putra mahkota Li Haoxi ke arah samping dan mengulurkan tangannya ke arah adiknya. Melihat kakaknya datang menghampirinya dan mengulurkan tangannya , Feng Yue dengan wajah ceria menyambut uluran tangan sang kakak. Dengan hati-hati, ia berjalan turun dari kereta kuda. Melihat Feng Yu membantu Feng Yue turun dari kereta membuat putra mahkota Li Haoxi menjadi semakin membencinya.
" Kau tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa kak. Terima kasih sudah membantuku turun dari kereta ini."
"Sama-sama. Sudah menjadi tugasku sebagaimana seorang kakak untuk menjaga dan melindungi adiknya."
"Ehem."
"Ah... Yang Mulia. Maaf, aku tidak melihatmu. Terimalah hormatku."
"Tidak perlu. Aku tahu, kau sengaja tidak melihatku."
"Humph."
"Kak."
"Tidak apa-apa." kata Feng Yu sambil menggenggam tangan adiknya yang melingkar di lengan kanannya.
Putri Ying Xie dan Xie Lang berjalan menghampiri mereka bertiga. Melihat kedatangan Putri Ying Xie dan Xie Lang, putra mahkota Li Haoxi mulai membuka suara.
"Karena sudah lengkap, aku langsung saja pada topik pembicaraan. Yue, ikut aku kedalam istana!" perintah putra mahkota Li Haoxi sambil melirik ke arah Feng Yue yang masih menggandeng lengan kakaknya.
"Yue? Berani sekali dia memanggil adikku dengan sebutan itu?!" batin Feng Yu dengan ekspresi marah di wajahnya.
Mendengar putra mahkota Li Haoxi menyuruhnya untuk mengikutinya, Feng Yue mengalihkan pandangannya ke arah kakaknya. Ia melihat ekspresi marah yang terlukiskan di wajah kakaknya.
"Kak."
Feng Yu pun menoleh mendengar Feng Yue memanggilnya.
"Aku pergi dulu." kata Feng Yue berpamitan kepada kakaknya sambil perlahan melepaskan lengan kakaknya.
Mendengar Feng Yue berpamitan kepadanya sambil perlahan melepaskan lengannya, Feng Yu menahan tangannya. Feng Yue yang melihat tangannya di tahan oleh kakaknya, ia pun tersenyum kepadanya.
"Kak, kau tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku bisa menjaga diriku." kata Feng Yue sambil menggenggam tangan kakaknya.
Mendengar adiknya berkata seperti itu, dengan berat hati Feng Yu menarik tangannya kembali. Feng Yue yang melihatnya dengan spontan menarik lengan kakaknya sedikit ke bawah dan mencium pipi kanan kakaknya. Feng Yu sangat kaget mendapatkan serangan dari adik perempuannya. Bukan hanya Feng Yu yang dibuat kaget dengan pemandangan ini, tapi juga putra mahkota Li Haoxi, putri Ying Xie dan Xie Lang. Ketiganya tertegun melihat pemandangan Feng Yue yang mencium pipi kanan kakaknya, seperti pasangan kekasih yang sedang dimabuk asmara. Feng Yu dan Feng Yue melihat ekspresi tertegun di wajah ketiga orang yang sedang berdiri di depan mereka yang sedang melihat kemesraan mereka sebagai pasangan kekasih, bukan kakak dan adik.
"Ada apa? Kenapa kalian bertiga menatap kami dengan tatapan seperti itu?!" tanya Feng Yu dengan nada sedikit kesal.
"Maaf Yang Mulia putra mahkota dan putri Ying Xie, atas sikap kami berdua yang sudah tidak sopan di depan kalian." ucap Feng Yue sambil sedikit membungkukkan badannya.
__ADS_1
"Lupakan saja. Kau segeralah ikut denganku. Temani aku malam ini." perintah putra mahkota Li Haoxi sambil berjalan meninggalkan mereka.
Feng Yue pun mengikutinya dari belakang. Baru beberapa langkah ia berjalan, Feng Yue menoleh ke belakang. Ia melemparkan senyum manis ke arah kakaknya. Feng Yu yang melihatnya merasa ada sedikit rasa kekhawatiran di dalam hatinya. Namun, dengan terpaksa ia membalas senyuman adiknya itu dengan senyum kecil di wajahnya. Melihat kakaknya membalas senyumannya, Feng Yue pun berbalik dan berjalan mengikuti putra mahkota Li Haoxi. Melihat adiknya pergi meninggalkan dirinya, Feng Yu ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya. Ia tahu bahwa Feng Yue adalah adik perempuan satu-satunya dari pemilik tubuh asli yang sekarang ia tempati. Tapi dia bukanlah kakak kandungnya. Dia hanyalah orang asing yang secara tidak sengaja masuk ke dalam tubuh seorang pria yang mempunyai nama yang sama dengannya dan mempunyai adik perempuan yang juga sama dengan adiknya sendiri. Feng Yu tidak tau perasaan apa yang sedang menyelimuti hatinya saat ini. Jika di dunia modern, ia sangat tidak peduli dengan adiknya sendiri. Tapi di dunia ini malah sebaliknya. Ia sangat takut melihat Feng Yue meninggalkan dirinya. Tidak hanya perasaan takut, tapi juga perasaan cemburu ketika melihat sang adik bersama dengan seorang pria lain. Tidak mungkin jika ia memiliki perasaan romantis kepada adik dari pemilik tubuh ini. Ia sudah menganggap Feng Yue sebagai adik kandungnya sendiri, meski Feng Yue tidak tahu bahwa yang menempati tubuh kakaknya adalah orang lain. Melihat Feng Yu sedang melamun, Xie Lang pun menegurnya.
"Feng Yu."
"Iya."
"Jangan khawatir kepada Feng Yue. Dia pasti baik-baik saja. Lagipula, ada Putri Ying Xie disini."
"Benar. Kau tidak perlu khawatir terhadap adikmu. Aku akan membantumu menjaganya."
"Terima kasih atas bantuan putri. Tapi, tempat tinggal putri dan putra mahkota Li Haoxi terpisah jauh. Bagaimana putri bisa membantuku mengawasi adikku?!"
"Kau tenang saja. Dia ada di dalam wilayah ayahandaku. Aku yakin, dia tidak akan berani berbuat macam-macam kepadanya. Jika dia masih menginginkan reputasinya."
"Aku harap begitu. Tapi putri, ada satu hal yang harus kau ingat."
"Apa itu?"
"Serigala yang sudah menemukan mangsanya, tidak akan mudah untuk melepaskannya."
"Aku mengerti. Terima kasih sudah menemaniku hari ini."
"Apa perlu aku menghadap ke Yang Mulia kaisar, putri?"
"Tidak perlu. Biar aku sendiri yang menemuinya. Kau beristirahatlah dengan baik. Kau pasti lelah setelah seharian menemaniku."
"Terima kasih putri."
"Aku antarkan kalian berdua pergi."
"Tidak perlu Yang Mulia putri. Kami berdua akan pergi sendiri."
"Feng Yu."
"Benar yang dikatakan oleh Xie Lang. Kami sudah banyak merepotkan putri. Kami akan segera pergi. Terima kasih untuk semua kebaikan putri kepada kami."
"Mmm."
Keduanya pun berpamitan sambil memberi hormat kepada putri Ying Xie dan pergi meninggalkan istana. Putri Ying Xie segera bergegas menemui ayahanda. Dalam perjalanan pulang, Feng Yu terus memikirkan Feng Yue. Xie Lang yang melihat kegelisahan di wajah sahabatnya, segera bertanya.
"Feng Yu, apa yang sedang kau pikirkan? Kau masih memikirkan adikmu?"
"Iya."
"Aku tahu kau sedang mengkhawatirkannya. Tapi Feng Yue meminta kau untuk tidak mengkhawatirkannya. Kau harus mempercayainya."
"Ya. Aku mempercayainya. Hanya saja..."
"Aku tahu sebagai seorang kakak, kau pasti sangat mengkhawatirkan adikmu. Setidaknya jika kau mengkhawatirkannya, yang kau lakukan hanya mendo'akannya yang terbaik untuknya."
"Kau benar. Terima kasih Xie Lang."
"Sama-sama."
"Aku harap ini hanya perasaan khawatir seorang kakak kepada adiknya. Bukan perasaan yang lain. Feng Yu, sadarlah. Ini bukan dunia tempat kau berada. Ada dunia lain, dan ada orang yang selalu menunggumu untuk bangun dan melindunginya. Yue... oh Yue, apa sekarang kakakmu ini menjadi sistercomplex atau... huff..." keluh dalam hati Feng Yu.
__ADS_1