
Mendengar Feng Yu bertanya, apakah dirinya masih mencintai Feng Yue atau tidak, Zhao Shin hanya diam seribu bahasa. Keheningan muncul di tengah-tengah mereka berdua. Hembusan angin yang keluar masuk dengan kencang, meniupkan jendela kamarnya sehingga menimbulkan suara bising di telinga.
"Kenapa kau diam saja?!"
"Kenapa kau bertanya hal itu kepadaku?!"
"Karena dia adalah adikku!"
"Bukan urusanmu untuk ikut campur kehidupanku!"
"Aku tidak berniat untuk mencampuri urusanmu! Aku hanya bertanya kepadamu!"
"Dan aku tidak berniat untuk menjawab pertanyaanmu!"
"Kau!" hardik Feng Yu sambil menarik kerah baju Zhao Shin dengan tangan kirinya. Dan tangan kanannya mengarah ke atas, hendak melayangkan tinju ke wajah sahabatnya, Zhao Shin.
"Kenapa?!" ejek Zhao Shin.
Di tengah-tengah perdebatan mereka berdua, Feng Yu mendengar namanya dipanggil oleh Feng Yue, adiknya.
"Kakak... kakak!" teriak Feng Yue.
"Aku disini. Apa masih ada yang terasa sakit?" tanya Feng Yu sambil menghampiri adiknya dan membantu adiknya untuk bersandar di dipan kasur.
"Aku baik-baik saja." jawab Feng Yue.
Suaranya terdengar sangat serak, akibat menangis kemarin.
"Kau yakin, kau tidak apa-apa?"
"Iya."
"Aku siapkan makan ya. Kau mau bubur atau apa? Biar kakak yang memasaknya untukmu. Setelah itu, kau harus minum obatmu. Agar kau lekas sembuh."
"Maaf merepotkan kakak."
"Tidak apa-apa. Yue, sebenarnya apa yang terjadi padamu? Ceritakanlah pada kakak."
Feng Yue melirik ke arah Zhao Shin. Menyadari dirinya dilirik oleh Feng Yue, Zhao Shin sadar diri. Ia segera pamit undur diri.
"Feng Yu, aku pamit dulu."
"Untuk apa terburu-buru? Apa kau tidak ingin mendengar ini?"
"Tidak. Terima kasih. Lagipula, tidak sopan jika aku ikut campur dalam masalah ini."
"Baiklah. Terima kasih atas bantuanmu."
"Sama-sama."
Zhao Shin segera pergi meninggalkan mereka berdua dan tak lupa menutup pintunya. Feng Yue menatap ke arah Feng Yu, kakaknya.
"Ada apa? Katakan. Tidak usah takut. Tidak akan ada yang mendengarnya?"
Mendengar hal itu, Feng Yue masih terdiam sambil menundukkan wajahnya. Ia ragu-ragu untuk menceritakan hal ini kepada kakaknya.
"Huff, jika kau belum siap untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi padamu, aku tidak akan memaksa."
"Bukan. Bukan itu maksudku."
"Lalu apa?"
"Aku... kakak, apa kau membenciku? Apa kau akan meninggalkan aku?" tanya Feng Yue sambil meraih dan menggenggam erat tangan kanan Feng Yu.
Feng Yu kaget mendengar pertanyaan yang dilontarkan Feng Yue kepadanya. Ditambah dengan melihat reaksi Feng Yue yang menggenggam tangannya, seolah takut ia akan pergi meninggalkannya.
"Kenapa kau bertanya seperti itu kepadaku? Aku ini kakakmu. Mana mungkin aku membencimu, apalagi meninggalkanmu adikku tersayang." jawab Feng Yu sambil menggenggam erat kedua tangan adiknya.
"Kau tidak membohongiku kan?!"
"Tentu saja. Sejak kapan aku membohongimu."
"Sejak kau mengenal banyak wanita-wanita cantik, kau selalu membohongiku. Meninggalkan aku. Bahkan, tanpa belas kasihan... kau memukuliku jika aku melakukan kesalahan." terang Feng Yue dengan ekspresi muram di wajahnya.
"Sial! Itu ulah kakakmu, bukan aku!" umpat Feng Yu dalam hati.
"Hahaha... itu kan masa lalu. Sekarang, kau sudah melihatnya sendiri bukan. Kalau kakakmu ini sudah berubah." ucap Feng Yu dengan ekspresi serius di wajahnya.
Melihat ekspresi serius di wajah kakaknya, Feng Yue perlahan-lahan menarik tangannya kembali. Ia menundukkan kepalanya sambil mengepalkan kedua tangannya. Melihat adiknya mengepalkan kedua tangannya, Feng Yu dengan lembut meletakkan tangan kanannya di atas salah satu tangan adiknya yang masih mengepal. Feng Yue kaget melihat tangan kakaknya menyentuh tangannya.
"Kakak." ucap Feng Yue sambil menatap ke arah Feng Yu.
"Jangan disimpan sendiri beban yang ada di hatimu. Itu tidak baik untuk gadis muda sepertimu. Kapan pun kau membutuhkan aku, aku akan selalu ada untukmu."
"..."
"Jika kau merasa tidak nyaman berbagi cerita denganku, kau boleh berbagi cerita dengan Xie Lang. Kalian berdua sama-sama perempuan. Pasti sangat menyenangkan untuk berbagi cerita atau hanya sekedar mengobrol."
__ADS_1
"Kakak, sebelum aku menceritakan apa yang terjadi padaku. Aku ingin bertanya sesuatu padamu."
"Tentang apa?!"
Feng Yue mengingat kembali kejadian saat ia diculik oleh segerombolan pria berbaju hitam. Salah satu dari mereka mengatakan sangat membenci kakaknya dan ingin membunuhnya. Ia tidak tahu kakaknya telah menyinggung siapa, hingga ia menjadi pelampiasan nafsu bejat orang itu. Dengan suara bergetar, ia memberanikan diri untuk bertanya kepada kakaknya.
"Kak, apa kau pernah menyinggung seseorang?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Salah satu dari gerombolan pria berbaju hitam itu, mengatakan bahwa dia sangat membencimu dan ingin membunuhmu. Karena kau telah mempermalukannya."
"Apa dia salah satu ketua dari gerombolan itu?"
"Aku tidak tahu kak. Kedua mataku tertutup oleh kain hitam dan kedua tanganku terikat. Aku tidak bisa melihat wajahnya. Tapi, aku rasa orang yang berkali-kali memperkosa aku... adalah orang yang sama. Dan kemungkinan pria yang memperkosa aku adalah ketua dari gerombolan itu."
"Kau bilang, dia memperkosamu berkali-kali?!" tanya Feng Yu dengan ekspresi marah di wajahnya.
"Iya kak."
"Brengsek!!!! Cari mati!!!" Yue, kau tenang saja. Aku akan mencari pelakunya. Dan aku akan membuat mereka hidup segan mati tak mau!"
"Tidak perlu kak."
"Kenapa kau mengatakan hal itu?!"
"Aku tidak ingin tangan kakak kotor untukku."
"Yue, kau berkata bahwa salah satu dari mereka mengatakan sangat membenciku dan ingin membunuhku. Hanya karena aku mempermalukannya."
"Iya."
"Sial! Memangnya aku pernah menyinggung seseorang?! Aku tidak pernah merasa menyinggung seseorang. Tapi, bagaimana dengan Feng Yu pemilik tubuh asli ini? Apa dia pernah menyinggung seseorang?! Sial!!! kenapa baru sekarang orang itu muncul?! Kenapa tidak dari dulu! Brengsek!!!"
"Yue, maafkan aku. Gara-gara aku, kau menjadi korbannya. Aku tidak menyangka hal ini akan terjadi padamu. Sejujurnya, aku tidak pernah menyinggung seseorang. Mungkin orang itu saja yang terlalu baper!"
"Baper? Apa itu kak?!"
"Terbawa perasaan, maksudnya. Hahaha."
"Sial, kenapa aku malah keceplosan menggunakan bahasa gaul! Mana mungkin dia tahu!"
"Jadi maksud kakak, mudah tersinggung?"
"Ahh... ya... ya... semacam itu."
Melihat ekspresi heran di wajah adiknya, Feng Yu merasa sedikit canggung. Ia segera mengalihkan pembicaraan."
"Tapi kak..."
"Diam! Aku tidak terima adikku diperlakukan seperti ini! Aku harus membalas dendam. Akan aku kebiri dia agar dia tidak bisa menembakkan bola bijinya lagi!"
"Pfft... kakak kau lucu sekali."
Melihat Feng Yue tersenyum kembali, ada perasaan lega di hatinya. Ia merasa berhasil menghibur adiknya.
"Tersenyum terus Yue. Aku senang melihat kau tersenyum daripada menangis."
"Aku akan selalu tersenyum untukmu kak."
"Terima kasih. Oh ya, aku harus mentraktir Zhao Shin hari ini. Karena dia sudah membantuku untuk mencarimu selama seharian."
"Kak Zhao?"
"Iya. Zhao yang mana lagi? Apa kau menyukainya?! Kau ada hubungan apa dengannya?!"
"Tidak. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya."
Mendengar pernyataan adiknya itu, Feng Yue mengernyit. Ia merasa ada yang di sembunyikan oleh adiknya.
"Baiklah. Kau beristirahatlah. Aku akan pergi ke dapur untuk memasakkan makanan untukmu. Kau ingin aku masakan apa?!" tanya Feng Yu sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Apa saja kak. Terserah kakak."
"Baiklah. Tunggu disini dan jangan kemana-mana."
"Baik kak."
Feng Yu pun segera berjalan menuju ke arah pintu. Ia meninggalkan Yue sendirian di dalam kamarnya. Tak lupa ia menutup pintu kamarnya. Saat membalikkan badannya, Feng Yu kaget melihat Zhao Shin berdiri di samping pintu.
"Kau... kenapa kau ada di sini? Apa sedari tadi kau berdiri disini."
"Ya."
"Apa kau ingin berbicara dengan Yue?"
"Kau mau pergi kemana?!"
__ADS_1
"Aku mau pergi ke dapur. Memasak makanan kesukaan adikku. Kalau begitu, aku minta tolong padamu. Tolong jaga adikku. Jangan sampai ada serangga yang menyentuhnya."
"Bagaimana jika serangga itu aku?!"
"Aku akan membunuhmu!"
"Humph!"
Feng Yu segera pergi meninggalkan Zhao Shin yang masih berdiri disana. Dirasa langkah kaki Feng Yu sudah tak terdengar, Zhao Shin membalikkan badannya. Ia menatap sebentar ke arah pintu dan perlahan membukanya.
Krekkk!!! (suara pintu dibuka dari luar)
Mendengar suara pintu kamarnya dibuka dari luar, Feng Yue menoleh ke arahnya. Dilihatnya Zhao Shin, sahabat kakaknya membuka pintu, lalu masuk kedalam dan tak lupa menutupnya kembali. Ia pun berjalan mendekati Feng Yue yang sedang duduk di atas kasurnya.
"Bagaimana keadaanmu?!"
"Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah membantu kakakku untuk mencariku."
"Itu sudah menjadi tugasku sebagai kekasihmu."
"Apa kau masih menganggapku sebagai kekasihmu, setelah kau tahu kondisiku saat ini?!"
Mendengar Feng Yue bertanya kepadanya, Zhao Shin hanya diam seribu bahasa. Ia hanya menatap Feng Yue dengan tatapan jijik di wajahnya. Melihat Zhao Shin menatapnya dengan pandangan jijik, Feng Yue mengalihkan pandangannya. Ia tahu apa yang harus dilakukan.
"Aku tahu. Aku, bukan wanita yang sempurna untukmu. Aku sudah tidak suci lagi. Jadi, jika kau ingin pergi meninggalkan aku, aku tidak akan menghalangimu."
"Apa kau baik-baik saja?!"
"Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku. Semoga kau menemukan wanita yang baik, yang bisa menjaga kehormatannya untukmu."
"Terima kasih."
Zhao Shin berbalik dan pergi meninggalkan Feng Yue. Baru beberapa langkah, Zhao Shin menghentikan langkahnya. Ia berbalik menoleh ke arah Feng Yue.
"Kau tidak memberitahukan kepada kakakmu tentang hubungan kita?!"
"Tidak."
"Terima kasih. Aku pergi. Selamat beristirahat."
Zhao Shin pergi meninggalkan dirinya. Terdengar suara pintu kamarnya di tutup dari luar. Tak kuasa menahan air matanya, Feng Yue menangis menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Hatinya hancur berkeping-keping. Orang yang ia cintai, telah pergi meninggalkannya hanya karena ia tidak lagi suci.
Di sisi lain, Feng Yu yang membawa piring di atas nampan yang berisi makanan kesukaan adiknya, secara tidak sengaja berpapasan dengan Zhao Shin yang baru saja berjalan keluar dari kamarnya. Zhao Shin yang melihatnya, melanjutkan langkahnya. Hingga keduanya saling berhadapan satu sama lain.
"Kau sudah selesai?"
"Ya."
"Mau makan malam bersama kami? Aku akan menyuruh orang untuk memasak beberapa makanan untukmu. Anggap saja, aku yang mentraktirmu karena kau sudah membantuku seharian penuh mencari adikku."
"Tidak perlu. Aku ada banyak urusan. Maaf, lain kali saja. Aku pamit."
"Baiklah. Hati-hati dijalan."
Keduanya pun berjalan menuju tujuan mereka masing-masing. Feng Yu mengetuk pintu kamarnya. Mendengar suara pintu kamarnya diketuk, Feng Yue segera berhenti menangis. Ia mengusap air matanya dengan kedua tangannya.
Tok... Tok... Tok...
"Masuklah!"
Feng Yu masuk dengan menendang pelan pintu itu menggunakan kaki kanannya. Ia melihat Feng Yue menatap ke arahnya dengan kedua mata yang sembab. Seperti habis menangis terlalu lama. Feng Yu segera meletakkan nampan yang ia bawa di atas meja, dan segera menghampiri adiknya. Ia duduk di atas kasur dan menatap wajah adiknya. Feng Yue yang menyadari kakaknya sedang menatap ke arahnya, mencoba menyembunyikan rasa sedihnya dengan senyuman di wajahnya.
"Ada apa kak? Kenapa kau menatapku?"
"Kau habis menangis?"
"Tidak. Tadi mataku kemasukan debu, jadi aku menggosoknya."
"Lain kali jangan menggosoknya."
"Iya kak."
"Yue, kau tidak pandai berbohong. Sebenarnya, apa yang masih ia sembunyikan dariku?!" batin Feng Yu.
"Oh ya, aku sudah memasakkan makanan kesukaanmu. Kau makan dulu ya agar tubuhmu cepat pulih." ucap Feng Yu sambil beranjak dari tempat duduknya dan mengambil piring yang berisi makanan kesukaan Feng Yue.
"Makanlah." ucap Feng Yu sambil memberikan piring itu kepada adiknya.
Feng Yue pun menerimanya dan memakannya sesuap.
"Bagaimana? Enak tidak?"
"Enak. Enak sekali kak."
"Syukurlah. Kalau begitu, makanlah. Aku akan membuatnya lagi jika kau suka."
Tiba-tiba Feng Yue menghentikan makannya. Ia meletakkan sumpitnya diatas piring dan berbalik menatap ke arah Feng Yu.
__ADS_1
"Ada apa? Bukannya kau bilang makanannya enak. Kenapa berhenti makan?"
"Kakak, apa dimata semua pria, kehormatan seorang wanita itu sangat berharga. Bahkan jika dia mengalami pemerkosaan, apakah itu bisa diterima oleh semua pria?!"