
Keesokan harinya
Feng Yu pergi menyusuri hutan yang berada di pinggiran kota. Hutan dimana adiknya (Feng Yue) ditemukan. Setelah berjam-jam lamanya ia berjalan menyusuri seluruh hutan, tibalah ia di sebuah rumah. Rumah tempat dimana ia menemukan Feng Yue dan tempat yang sangat terkutuk baginya, terutama bagi adiknya. Karena tempat itulah yang telah membuat trauma pada adiknya dan masa depan adiknya juga ikut hancur karenanya. Mengingatnya saja sudah membuat Feng Yu sakit hati. Tapi, demi keadilan sang adik dan keinginan dirinya untuk segera menangkap pelakunya dan mengulitinya. Feng Yu rela berjalan menyusuri hutan itu berjam-jam hanya demi mendapatkan bukti yang dimaksudkan oleh sistem PC.
Ia masuk ke dalam rumah itu dan dilihatnya rumah itu sangat kotor dan jauh lebih berantakan dari yang sebelumnya ia tinggal pergi. Tak ingin menunda-nunda lagi, Feng Yu segera bergegas mencari tahu benda yang dimaksud oleh sistem PC. Ia mencari ke setiap sudut isi rumah. Beberapa saat kemudian, ia menemukan benda yang ia cari. Benda yang dimaksudkan oleh sistem PC yaitu sebuah kain panjang berwarna hitam di bawah kasur. Feng Yu mengamati kain hitam itu dan membolak-balikkan kainnya. Dilihatnya kain hitam itu terlihat seperti kain biasa saja, tidak ada yang istimewa.
"Ah sialan! Apa aku telah ditipu oleh sistem PC?!" umpat Feng Yu dengan kesal sambil meremas kain hitam itu.
Dengan rasa kesal di raut wajahnya, tiba-tiba ia melihat ada batu giok yang berada di bawah meja kecil yang letaknya tak jauh dari kasur. Feng Yu pun mengambil batu giok dan diliatnya ada sebuah ukiran nama di sisinya. Dan yang membuatnya kaget bukan main adalah, ukiran di sisi batu giok itu bertuliskan sebuah nama yang sangat familiar baginya, Li Haoxi.
"Li... Haoxi?! Jadi batu giok ini miliknya?!" gumam Feng Yu sambil meremas kuat batu giok itu. Ia pun segera berdiri dan bergegas meninggalkan tempat itu untuk memberitahukan kabar mengenai hasil temuannya kepada Feng Yue, adiknya.
Setelah berjam-jam perjalanan yang ia tempuh untuk kembali ke kediaman Xie, akhirnya Feng Yu sampai juga di kediaman Xie. Ia segera berlari menuju kamar sang adik.
Brakkk!!!
Feng Yue kaget mendengar suara pintu kamarnya di dobrak oleh kakaknya, Feng Yu. Ia melihat kakaknya berlari ke arahnya sambil terengah-engah.
"Kakak, darimana saja kau?! Sepertinya kau kelelahan. Sebentar, aku ambilkan minum dulu." kata Feng Yue sambil beranjak dari tempat duduknya dan mengambilkan segelas air minum untuk kakaknya.
"Ini kak, minumlah." kata Feng Yue sambil menyodorkan segelas air putih kepada kakaknya.
Feng Yu segera mengambil segelas air minum dari tangan adiknya. Setelah meminumnya, Feng Yu meletakkan gelasnya di atas meja.
"Kakak, kau darimana saja?!" tanya Feng Yue sekali lagi kepada kakaknya.
"Dari hutan. Tempat dimana kau diperkosa dulu." jawab Feng Yu sambil melirik ke arah adiknya.
Mendengar hal itu, Feng Yue menghela nafasnya dengan sangat berat.
"Kau kenapa?!"
__ADS_1
"Untuk apa kakak pergi ke sana?!"
"Tentu saja untuk mencari bukti, siapa orang yang telah memperkosa kau!" jawab Feng Yu dengan nada sedikit tegas.
"Bukti? Bukti macam apa yang kau maksud kak?!" tanya Feng Yue dengan nada sedikit penasaran.
"Ini." jawab Feng Yu sambil memperlihatkan kain hitam dan batu giok yang berukiran tulisan nama "Li Haoxi " calon suami dari putri Ying Xie, kepada Feng Yue, adiknya.
Melihat batu giok yang diperlihatkan oleh sang kakak, Feng Yue hanya terdiam dengan tatapan kosong di wajahnya. Melihat sikap aneh sang adik, Feng Yu lalu menegurnya.
"Yue, kau baik-baik saja?!"
"Ahh.. iya kak."
"Kenapa kau diam saja?!"
"Aku hanya berpikir, kenapa kakak mau melakukan ini semua untukku?!"
"Kakak, apa kau yakin... ini semua bisa dijadikan bukti?!"
"Tentu saja! Kenapa?! Apa kau takut?!"
"Sedikit."
"Kenapa kau mesti takut?! Apa yang kau takutkan, Yue?! Dia adalah penjahat! Pria biadab?! Wajar saja jika dia dihukum sesuai hukum di negara kita, bukan?!"
"Tapi kak, masalahnya... dia adalah pangeran dari negara lain. Tentu saja, ini akan menjadi masalah bagi negara kita. Terlebih, dia adalah calon tunangan dari putri Ying Xie." terang Yue.
"Ya baguslah! Dengan begitu, baik Kaisar dan Tuan putri, tahu bagaimana calon menantu dan calon suaminya adalah seorang pria biadab, yang tega memperkosa gadis dari negara tempat dimana ia akan meminang putri dari negara ini!"
"Tapi kak, apa kakak yakin... baik Kaisar dan Tuan putri akan mempercayai kita?!"
__ADS_1
"Tentu saja. Aku sangat yakin, bahwa baik Kaisar maupun Tuan putri akan mempercayai semua perkataan kita. Terlebih, kakak sudah mempunyai buktinya. Jadi, apa yang kau khawatirkan, adikku."
"Tapi kak..."
Belum sempat melanjutkan perkataannya, jari telunjuk Feng Yu ditempelkan di bibir Feng Yue.
"Ssstt, aku tahu apa yang kau pikirkan dan kau khawatirkan. Setidaknya, hentikan pikiran negatifmu itu. Apa pun akan aku lakukan, untuk kebahagiaan adikku. Dengar, mulai besok pagi, kakak akan mengajakmu pergi ke Istana." ucap Feng Yu sambil menarik kembali jari telunjuknya.
"Untuk apa?!"
"Tentu saja menemui Kaisar dan Putri Ying Xie, untuk mencari keadilan untukmu. Dan tentu saja dengan disertai bukti-bukti yang jelas! Agar bedebah itu tidak bisa mengelak lagi!" geram Feng Yu.
"Kakak, apa sebaiknya... tidak kita batalkan saja pergi ke istana besok?!"
"Apa katamu! Membatalkan?! Hahaha... tidak!"
"Tapi kak..."
"Tidak!"
Mendengar jawaban dari kakaknya, dengan perasaan ragu yang mulai menyelimuti hatinya. Feng Yue hanya bisa mengangguk dan terdiam. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana caranya untuk membujuk sayang kakak. Melihat adiknya menganggukkan pelan kepalanya, Feng Yu segara bernafas lega dan berpamitan untuk beristirahat di dalam kamarnya.
"Yue, kalau begitu...kakak pamit undur diri dulu. Kakak akan beristirahat di dalam kamar dulu. Jika ada sesuatu yang ingin kau butuhkan, kau bisa memanggilku. Aku ada di dalam kamar." terang Feng Yu sambil beranjak dari tempat duduknya.
Melihat kakaknya ( Feng Yu ) beranjak dari tempat duduknya, Feng Yue ikut berdiri dan berjalan berdampingan dengan sang kakak. Ia mengantarkan kakaknya ke depan pintu kamar.
"Aku pamit dulu ya. Jaga dirimu."
"Baik kak."
Feng Yue melihat kepergian sang kakak yang berjalan menjauh darinya. Feng Yue melihat punggung kakaknya semakin menjauh darinya. Ia pun menghela napasnya. Ia segera masuk ke dalam kamarnya. Terdengar bunyi suara pintu kamar ditutup dari dalam. Desir angin sepoi-sepoi mulai menerbangkan dedaunan yang kering dan berjatuhan di atas tanah.
__ADS_1