
Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh adiknya itu, Feng Yu diam sejenak. Ia bingung harus menjawab apa?
"Kak... kakak?!"
"Eh, iya."
"Kenapa kau diam saja?!"
"Yue, tidak semua hal yang seperti itu tidak bisa diterima oleh semua pria. Ada beberapa pria yang mau menerima masa lalu sang wanita. Namun, apakah sang wanita bisa menerima masa lalu sang pria?! Pada dasarnya itu kembali kepada pribadi orang itu sendiri."
"Tapi kenyataannya, bagi seorang pria... kehormatan wanita itu jauh diatas segalanya. Tidak peduli sebesar apapun rasa cintanya terhadap seorang wanita. Tapi jika dia mengetahui bahwa wanitanya telah ternoda, tidak suci lagi, rasa cinta itu akan dengan sangat cepat hilang begitu saja."
"Yue, kenapa kau begitu yakin akan hal itu?!"
"Aku hanya menebaknya saja."
"Aku ingin bertanya padamu. Jika kau bertemu dengan seorang pria, dan pria itu menyakitimu dan meninggalkanmu. Apa kau menganggap bahwa semua pria di dunia ini sama brengseknya dengan pria yang pernah menyakiti dan meninggalkanmu?!"
Feng Yue pun diam seribu bahasa mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Feng Yu. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Ingin rasanya ia menceritakan tentang hubungan rahasianya dengan Zhao Shin, sahabat kakaknya. Tapi, ia takut kalau kakaknya akan marah kepada Zhao Shin yang telah meninggalkannya. Melihat adiknya diam tak menjawab pertanyaannya, Feng Yu menatap ke bawah. Ia melihat Feng Yue mengepalkan kedua tangannya. Dengan senyum di wajahnya, Feng Yu memegang kedua tangan adiknya dengan lembut. Spontan, Feng Yue kaget dan mengalihkan pandangannya ke arah kakaknya.
"Yue, apapun yang terjadi denganmu... kakak akan selalu ada di sampingmu dan tidak akan pernah meninggalkanmu."
"Kakak, suatu hari nanti kau akan menikah. Tidak mungkin kau akan melajang seumur hidupmu bukan?!"
"Tentu saja! Aku kan pria normal. Tapi, ini bukan duniaku. Aku harus kembali ke duniaku. Bertemu dengan adikku dan tentunya mencari cinta sejati." batin Feng Yu.
"Hahaha, memangnya ada wanita yang mau menerimaku yang bajingan ini?!"
"Kenapa kakak bicara seperti itu?!"
"Kau sendiri tahu kan masa lalu kakakmu ini seperti apa?!"
"Tapi kakak memiliki wajah yang sangat tampan sejak lahir. Dan sekarang kakak sudah berubah, tentu saja akan ada banyak wanita yang mengantri kepadamu."
__ADS_1
"Hahaha! Hanya mengantri saja. Bukan untuk menetap selamanya. Sudahlah, cukup membahas hal itu. Lagipula aku tidak peduli jika nanti tidak ada wanita yang mau menikah denganku. Setidaknya, aku masih memiliki adik sebaik dirimu, yang akan menemaniku nanti."
"Kenapa kakak seyakin itu padaku? Bagaimana jika aku meninggalkanmu?!"
"Paling kau meninggalkanku karena ada pria lain yang ingin melamarmu dan menikahimu. Tentu saja aku tidak akan menghalanginya. Selagi kau bahagia dengan pilihanmu sendiri."
"Memangnya ada pria yang mau denganku yang sudah tidak suci?!"
"Jika di dunia ini tidak ada seorang pria yang mau menikah denganmu, aku sebagai kakakmu... akan selalu menemanimu dan menjagamu. Sampai kau bisa menemukan seorang pria yang mau menerimamu seutuhnya, apa adanya. Mencintaimu tulus seperti kakak yang menyayangimu setulus hatiku."
"Jika kau menikah nanti, dan aku belum menikah, apa kau akan terus menemaniku? Tidak akan meninggalkan aku?!"
"Ya. Karena kau satu-satunya keluargaku, adikku. Aku tidak akan meninggalkanmu?!"
"Kak, aku ingin kau menjawab pertanyaanku dengan jujur. Jika kau mempunyai seorang kekasih dan kekasihmu tidak lagi suci, apa kau masih mau menjadikannya sebagai kekasihmu?!"
Mendengar pertanyaan adiknya, Feng Yu mulai curiga. Tapi ia berusaha untuk tidak ketahuan adiknya, jika ia sedang mencurigainya. Ia tetap bersikap tenang menghadapi pertanyaannya yang sangat memusingkan kepala.
"Apa kau punya seorang kekasih?!'
Melihat adiknya marah, Feng Yu semakin yakin, bahwa ada sesuatu yang coba disembunyikan oleh Feng Yue dari dirinya.
"Huff, tentu saja aku mencintainya. Karena yang aku cintai adalah orangnya, bukan selaput darahnya."
Mendengar jawaban kakaknya, kedua mata Feng Yue berbinar. Jika yang duduk dihadapannya adalah kekasihnya bukan kakaknya, ia akan sangat bahagia mendengarnya. Namun, sekarang yang sedang duduk di hadapannya adalah kakak kandungnya sendiri. Tidak mungkin bagi Feng Yue untuk jatuh cinta kepada kakaknya sendiri. Itu sangat dilarang. Feng Yue menundukkan sedikit wajahnya ke bawah. Seandainya, Feng Yu bukanlah kakak kandungnya, betapa bahagianya Feng Yue bisa memilikinya sebagai seorang kekasih. Namun, dia adalah kakak kandungnya sendiri.
"Yue, aku sudah menjawab pertanyaanmu. Sekarang giliranmu untuk menjawab pertanyaanku dengan jujur."
"Tentang apa kak?!"
"Tentang apakah kau memiliki seorang kekasih?!"
Jantungnya berdegup kencang ketika mendengar pertanyaan yang menusuk hatinya. Feng Yue takut jika seandainya ia berkata jujur kepada kakaknya, itu sama saja dengan mengadu domba kakaknya dengan mantan kekasihnya, Zhao Shin.
__ADS_1
"Belum. Aku belum memiliki seorang kekasih kak."
"Benarkah?!"
"Iya. Kakak tidak percaya kepadaku?!"
"Bukan tidak percaya. Hanya saja, kenapa kau bertanya hal yang memusingkan kepalaku?!"
"Kakak, aku ingin melanjutkan makanku dan segera beristirahat."
"Baiklah kalau begitu. Setelah makan, kau harus minum obat. Lalu beristirahatlah ya, agar kau cepat pulih."
"Iya kak."
Dengan cepat Feng Yue memakan lahap makanannya. Tak lama kemudian, Feng Yue selesai makan. Feng Yu segera mengambil piring yang ada di tangan Feng Yue dan meletakkannya di atas nampan. Ia mengambil buah apel yang ada didalam keranjang di atas meja dan mengupasnya. Lalu meletakkannya di atas piring kecil yang berada di sebelah keranjang buah dan memberikannya kepada Feng Yue. Feng Yue sangat takjub melihat kakaknya pandai mengupas apel dan membentuknya seperti bentuk kelinci.
"Kakak, darimana kau belajar ini?! Ini sangat indah."
"Rahasia. Makanlah."
Feng Yue pun mengambil satu dan memakannya. Buah apelnya terasa manis dan segar saat dimakan. Melihat adiknya makan dengan lahap, Feng Yu pun beranjak dari tempat duduknya. Ia pun berjalan menuju meja sambil membawa nampan yang berisi piring kotor. Feng Yue segera menghentikan makannya begitu melihat kakaknya pergi menuju pintu.
"Kakak, kau mau kemana?!"
"Aku pergi ke dapur untuk merebus obat. Kau tunggu disini dulu ya. Ingat jangan pergi kemana-mana. Tunggu aku kembali."
"Iya kak."
Feng Yu pun berjalan keluar dan menutup pintu kamarnya. Ia segera berjalan menuju ke dapur untuk merebus obat. Feng Yue yang melihat kakaknya pergi, ia berbalik menatap ke arah buah apel yang telah dikupas kakaknya. Lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah pisau yang berada di atas meja. Pisau itu yang digunakan oleh kakaknya untuk mengupas buah untuknya. Ia pun beranjak dari kasurnya dan berjalan menuju ke meja sambil membawa piring yang berisi buah apel di tangannya. Feng Yue meletakkan piring itu di atas meja dan mengambil pisau di tangan kanannya. Ia menatap mata pisau itu, yang terdapat bayangan wajahnya. Ia mengingat kembali tentang percakapannya dengan sang kakak, barusan.
"Kakak, maafkan aku. Aku tidak bisa menemanimu. Aku... tidak bisa menjadi adik yang baik untukmu." ucap Feng Yue sambil meneteskan air mata di kedua pipinya.
Ia menyayat tangan kirinya sendiri dengan menggunakan pisau buah di tangan kanannya. Darah mengalir keluar dari mata pisau dan mulai melumuri tangan kirinya. Pisau yang dipegangnya jatuh ke atas lantai diikuti oleh Feng Yue yang jatuh pingsan akibat luka sayatan di tangan kirinya. Ia pun menutup kedua matanya sambil bergumam.
__ADS_1
"Kakak, aku menyayangimu. Maafkan aku." ucap Feng Yue sambil memejamkan kedua matanya.