Love Villain System

Love Villain System
Aku Jatuh Cinta


__ADS_3

Di Istana


Di dalam istana hanya ada putri, putra mahkota Li Haoxi, permaisuri dan raja yang sedang duduk di atas kursi singgasananya.


"Kenapa kau menyelinap keluar istana, putriku?!" tanya raja kepada anak perempuan satu-satunya yang sedang berlutut di hadapannya.


"Aku bosan ayahhanda. Aku hanya ingin keluar jalan-jalan mencari angin."


"Tapi untuk apa kau harus pergi menyelinap keluar dari istana? Kau bisa mengatakan kepadaku jika kau ingin pergi keluar istana. Aku akan meminta para pengawal untuk menjagamu selama kau keluar dari istana."


"Tapi ayahhanda, itu sangat tidak nyaman untukku. Semua rakyat pasti akan merasa tidak nyaman juga."


"Aku melakukan ini demi keselamatanmu. Jika kau merasa itu tidak nyaman, aku akan meminta bantuan putra mahkota Li Haoxi untuk menemani sekaligus menjaga keselamatanmu."


"Aku tidak mau ayahanda."


"Putriku, biar bagaimanapun putra mahkota Li Haoxi adalah calon suamimu. Kau seharusnya menghabiskan waktu yang lebih banyak bersama dengannya."


"Putriku, apa yang dikatakan oleh ayahandamu itu ada benarnya juga."


"Tapi..."


"Cukup! Aku tidak mau mendengar perkataanmu. Putra mahkota Li Haoxi, mohon bantuannya. Maaf jika aku merepotkanmu."


"Dengan senang hati Yang Mulia. Aku akan melakukan perintah Yang Mulia dan tidak akan mengecewakanmu."


"Benar-benar calon suami idaman. Kau lihat itu putriku, calon suamimu sangat perhatian denganmu."


Mendengar ayahnya terus memuji putra mahkota Li Haoxi didepannya, putri Ying Xie hanya diam tanpa kata. Ia tidak mau membalas perkataan ayahandanya.


"Baiklah, kalian berdua boleh pergi. Beristirahatlah, kalian pasti lelah hari ini. Ying Xie, tolong antarkan Yang Mulia putra mahkota untuk beristirahat. Sekalian tunjukkan kamar tamunya."


"Iya ayahanda."


"Terima kasih Yang Mulia."


"Kalian berdua boleh pergi."


"Terima kasih Yang Mulia."


"Terima kasih ayahhanda."


Keduanya langsung pergi meninggalkan istana. Di sepanjang perjalanan menuju kamar tamu, keduanya saling diam tak berbicara.


"Ehem. Xie er, apa kau masih marah?"


"Tidak."


"Humph. Kau memang tidak pandai berbohong. Katakan padaku sejujurnya jika kau memang marah padaku. Aku akan memperbaiki kesalahanku padamu."


Mendengar perkataan putra mahkota Li Haoxi, putri Ying Xie menghentikan langkahnya. Ia berbalik menatap Li Haoxi.

__ADS_1


"Kau ingin memperbaiki kesalahanmu padaku?"


"Iya."


"Mulai sekarang jangan ganggu urusanku. Jangan dekati aku. Sampai disini aku mengantarmu. Kau bisa jalan sendiri tanpa aku. Kamarmu sudah dekat, hanya tinggal lurus kedepan lalu belok kanan. Ada papan nama diatasnya yang bertuliskan "ruang anggrek", itulah kamarmu." terang Putri Ying Xie sambil meninggalkan putra mahkota Li Haoxi yang sedang berdiri di sana.


Melihat putri Ying Xie pergi meninggalkannya, putra mahkota Li Haoxi meninju tembok yang ada di sisi kanannya. Seketika tembok itu menjadi retak meninggalkan bekas tinjunya.


"Sialan! Jika bukan karena pria kampungan itu, hubunganku dengan Ying Xie tidak akan menjadi seperti ini! Tunggu saja pembalasanku!" umpat Li Haoxi.


Beberapa menit kemudian ia berjalan menuju kamarnya sesuai arahan dari putri Ying Xie.


Di Kediaman Xie


Di dalam kamar Feng Yu dan Feng Yue terdapat ada banyak barang kiriman dari istana. Ada sekotak emas, pakaian, uang dll. Ketiganya terkejut bukan main melihat tumpukan barang-barang yang dikirim dari istana.


"Wahhh... aku tidak sedang bermimpi bukan?!" teriak Xie Lang sambil mencubit pipinya.


"Kakak, coba tampar aku. Apa ini sungguhan apa halusinasiku?!" pinta Feng Yue.


"Kalian berdua tidak sedang bermimpi maupun berhalusinasi. Ini semua nyata." terang Feng Yu kepada kedua gadis yang berdiri di sebelah kanan dan kirinya.


Kedua gadis itu langsung berlari dan membuka beberapa kotak dan barang-barang yang ada. Dan benar, itu semua adalah barang sungguhan. Feng Yue berjalan mendekati kakaknya.


"Kakak, untuk apa putri mengirimkan barang sebanyak ini kepada kita?"


"Untuk apa? Bukankah sudah jelas untuk membayar ganti rugi barang dagangan kita dan stand kita yang telah dirusak oleh tunangannya?!"


"Tapi aku dengar, barang ini kiriman dari putra mahkota Li Haoxi dari negara tetangga. Bukan dari putri Ying Xie." tambah Xie Lang.


"Benar apa yang dikatakan oleh Feng Yue. Feng, tidakkah kau merasa curiga tentang semua ini?!"


"Sudahlah. Kalian berdua terlalu paranoid. Lagipula kita tidak merampok barang-barang istana. Putri yang memberikan kita semua sebanyak ini. Untuk apa terlalu dipikirkan. Hidup ini sudah rumit seperti benang kusut. Jadi nikmatilah hidup ini, bukan malah menjadikannya semakin rumit."


Feng Yue dan Xie Lang saling bertukar pandang satu sama lain. Lalu keduanya mengalihkan pandangannya ke arah Feng Yu yang dengan santainya menikmati semangkuk bubur sumsum yang masih hangat. Merasa dirinya ditatap tajam oleh kedua gadis, Feng Yu melirik dan meletakkan sendok yang ada di dalam mangkuk yang sudah kosong.


"Ayolah, jangan menatapku dengan tatapan seperti itu. Kalian boleh mengambil barang-barang apa saja yang kalian suka. Jarang-jarang kita mendapatkan keberuntungan seperti ini."


"Benarkah?!" teriak keduanya secara bersamaan.


"Tentu saja. Ini semua adalah milik kita bertiga. Jadi sudah sewajarnya kita membaginya. Tapi, aku malas untuk membaginya. Kalian berdua atur saja sendiri, aku ingin pergi beristirahat. Besok pagi, aku akan mengajak kalian bagaimana caranya menikmati hidup."


"Hahhh???!!" ucap Feng Yue dan Xie Lang secara bersamaan.


"Kalian bagi dulu ya, aku mau istirahat dulu." ucap Feng Yu sambil beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kasurnya.


Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil terlentang melihat langit-langit kamarnya. Ia mulai merindukan adiknya, Yue. Bagaimana kabarnya sekarang? Apakah dia bahagia dengan kehidupannya sekarang? Apa dia melupakan diriku? Pertanyaan-pertanyaan itu mulai menghantui pikirannya.


[Ting!]


[Tingkat rayuan anda bertambah menjadi 50%. Host berusahalah lagi.]

__ADS_1


"50%. Huff... naik sedikit. Memangnya aku habis merayu siapa sampai naik bertambah menjadi 25%. Sistem, bolehkah aku melihat keadaan adikku?"


[Sistem sedang melakukan pencarian, harap bersabar untuk menunggu.]


Feng Yu mulai bangun dan duduk bersila di atas kasur. Sistem mulai memperlihatkan kondisi Feng Yu yang sedang berbaring di atas ranjang rumah sakit dengan infus yang terpasang pada tangannya pada layar miliknya. Sedangkan adiknya, Yue sedang tertidur pulas di sampingnya.


"Yue." gumam Feng Yu sambil menyentuh layar sistem.


"Feng Yu."


Tiba-tiba sistem mematikan layarnya dan menghilang. Feng Yu kaget mendengar Xie Lang memangil namanya.


"Kau."


"Ada apa? Apa kau baik-baik saja?"


"Ya. Aku hanya sedikit kaget."


"Apa kau sedang melamun? tanya Xie Lang yang duduk bersebelahan dengannya diatas kasur.


"Tidak. Ada apa kau memanggilku?"


"Feng ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu."


"Tentang apa?"


"Putri Ying Xie."


"Kenapa?"


"Feng Yu, menurutku... dia mencintaimu."


Mendengar Xie Lang mengatakan hal itu, Feng Yu tertawa terbahak-bahak. Xie Lang yang melihat dirinya tertawa hanya bisa terdiam.


"Xie Lang, kau tahu darimana kalau dia mencintaiku? Apa bagusnya diriku ini jika dibandingkan dengan tunangannya."


"Karena aku seorang wanita dan aku tahu itu. Karena aku mencintaimu." batin Xie Lang.


"Kenapa kau diam saja?"


"Aku hanya menebaknya."


"Jangan suka main tebak-tebakan. Apa hanya karena dia mengirimkan aku banyak hadiah kau berpikir, dia mencintaiku? Xie Lang, dia melakukan itu karena dia ingin membayar ganti rugi. Itu saja."


"Tapi..."


"Sudahlah. Malam ini aku mau jalan-jalan, kau mau temani aku tidak?" tanya Feng Yu sambil beranjak berdiri dari kasurnya.


"Kemana?"


"Nanti kau akan tahu. Bersiap-siaplah, aku akan menunggumu di luar." ucap Feng Yu sambil menatap wajahnya.

__ADS_1


Keduanya saling bertukar pandang dalam waktu yang cukup lama. Akhirnya Feng Yu pergi meninggalkan Xie Lang yang masih duduk di atas kasurnya. Xie Lang yang melihatnya pergi meninggalkannya, hanya bisa melihatnya dari kejauhan.


"Feng Yu, apa aku salah jika memiliki perasaan ini kepadamu." gumam Xie Lang sambil memegang dadanya.


__ADS_2