Mafia And His Maid

Mafia And His Maid
# Part 10 Mafia AHM


__ADS_3

Sebuah gaun yang sangat indah sudah tersedia di atas ranjangnya saat Flower Michelin keluar dari kamar mandi.


Gadis itu menghampiri ranjang dan mengangkat ke udara gaun yang berwarna merah dan lumayan terbuka dibagian atasnya itu.


"Gaun? untuk apa? Apakah ada sebuah pesta yang akan terjadi malam ini?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Ia pun meninggalkan ranjang itu dan mencari pakaiannya sendiri di dalam tas ransel yang ia bawa dari Panti Asuhan.


Ia mengambil sebuah dress sederhana tanpa lengan dengan panjang di atas lututnya.


Pakaian semacam itu sering ia gunakan di dalam Rumahnya karena lebih santai dan juga nyaman. Setelah itu ia menyisir rambutnya yang panjang sebahu kemudian mengikatnya tinggi-tinggi.


Tok


Tok


Tok


Suara ketukan dari arah pintu kamarnya membuatnya meninggalkan meja rias yang terdapat di dalam kamarnya itu.


Ia segera membuka pintunya dan menemukan Nyonya Brenda Hudson berdiri di sana dengan dahi mengernyit.


"Apakah gaun yang sudah saya siapkan tidak cocok untuk anda Nona?" tanya perempuan paruh baya itu dengan ekspresi tak nyaman.


"Maafkan Aku Nyonya. Aku tidak terbiasa memakai gaun yang terbuka seperti itu. Jujur saja, Aku lebih nyaman dengan pakaian yang Aku pakai saat ini."


"Oh, maafkan saya kalau begitu. Lain kali saya akan menanyakan terlebih dahulu apa yang biasa anda gunakan Nona," Brenda Hudson membungkukkan badannya hormat kemudian berucap, " Anda sudah ditunggu di ruang makan oleh Tuan Patria. Mari Nona silahkan."


"Ah ya, baiklah Nyonya Hudson. Aku akan menyusul anda beberapa saat lagi."


"Tidak Nona, saya akan menunggu Anda. Tuan Patria ingin kita datang bersama."


"Ah iya, Maafkan Aku nyonya Hudson. Aku pasti sudah sangat merepotkan anda," ujar Flower tersenyum. Ia pun mengikuti langkah kepala pelayan itu menuju ruang makan.


Frederico Patria memandang tidak berkedip gadis cantik yang baru tiba itu. Tadinya ia sudah membayangkan gadis itu datang dengan menggunakan gaun yang sudah ia pilihkan itu tetapi sepertinya Flower Michelin tidak menyukai gaun pilihannya.


Berpakaian apa saja Flower Michelin selalu bikin Aku sesak nafas.

__ADS_1


Apalagi jika ia tidak memakai pakaian sehelai pun. Mungkin saat itu Aku akan gila dibuatnya. Frederico Patria bergumam di dalam hatinya dengan senyum samar dibibirnya.


"Silahkan duduk Nona Micheline," titah pria itu dengan tatapan tak lepas dari wajah gadis berusia 17 tahun itu.


"Ah iya terma kasih banyak Tuan." Flower Michelin pun duduk setelah kepala pelayan itu menarik sebuah kursi untuknya.


"Acara makan malam ini khusus untuk menyambut kedatanganmu di Rumah ini," ujarnya saat sebuah musik lembut mengiringi acara makan malam itu.


Sebuah suasana romantis sengaja diciptakan oleh sang Mafia untuk mendapatkan hati dan tubuh dari gadis cantik di hadapannya.


Flower Michelin merasakan dadanya berdebar. Untuk pertama kalinya di usianya yang sudah 17 tahun ini ada seorang lawan jenis yang memberinya perhatian yang sangat besar padanya.


Frederico Patria mengangkat gelas anggurnya ke depan wajahnya sebagai tanda bersulang untuk gadis muda itu. Sedangkan Flower Michelin hanya mengangguk seraya tersenyum.


Ia tidak pernah minum anggur ataupun alkohol karena usianya yang memang masih sangat muda. Untuk itu ia hanya mengangkat gelasnya yang hanya berisi jus jeruk.


Dalam hati ia benar-benar merasa sangat diperlakukan istimewa oleh pria asing yang berada di hadapannya ini.


Tak hentinya ia berpikir tentang niat terselubung dari pria itu. Pria yang pertamakali nya ia temui dalam hidupnya.


"Apakah kamu ingin berdansa denganku, Nona Micheline?" Frederico Patria mengarahkan tangannya pada gadis itu dan langsung membuatnya tersentak kaget. Ia masih sangat bingung dengan permintaan pria itu padanya.


"Aku minta maaf Tuan. Aku tidak bisa berdansa," ujarnya meminta maaf. Frederico Patria mencoba tersenyum meskipun ia sangat kecewa. Ia tahu kalau ia sebenarnya ditolak dengan sangat halus oleh putri di brengsek Yousef Michelin itu.


"Ah iya. Aku yang harus meminta maaf padamu Nona. Aku terlalu bersemangat hahahaha." Pria itu tertawa sumbang untuk menutupi rasa kecewanya.


"George akan memberitahu apa yang akan kamu kerjakan sebagai asisten pribadiku," ujarnya dengan suara menahan sesuatu yang rasanya ingin meledak dari dalam dirinya. Ia pun pergi dari sana dengan langkah cepat.


Flower Michelin menghela nafasnya lega. Ia tahu kalau pria itu pasti sangat kecewa tetapi ia juga tidak ingin berada pada jarak yang sangat dekat dengan seorang pria.


Ditambah lagi, ada trauma tersendiri atas apa yang pernah menimpanya beberapa bulan yang lalu. Ia sungguh tidak ingin memberi harapan pada seorang laki-laki.


Lamunannya tiba-tiba terjeda dengan sebuah suara dari arah depannya. "Nona Micheline, saya akan memberitahu tugas apa saja yang harus anda kerjakan di Rumah ini mulai besok pagi."


"Ah iya. Silahkan Tuan."


"Setiap pagi anda harus sudah harus berada di dalam kamar Tuan Patria. Memilihkan dan menyiapkan pakaian yang akan dipakainya hari itu." Flower Michelin tampak menyimak dengan baik semua tugas yang diberikan oleh pria itu.

__ADS_1


"Dan pastikan untuk selalu berada bersamanya apa pun yang dilakukannya di rumah ini."


"Semuanya?" tanya gadis itu dengan wajah bingung. Ia tidak mungkin menemani pria itu sepanjang hari.


"Iya Nona."


"Aku tidak mau. Aku mau pulang saja ke Panti Asuhan!," tolak gadis itu dengan suara tegasnya. George terlongo tak percaya mendengar dan melihat sendiri gadis itu menolak apa yang dikatakannya.


"Memangnya kamu pikir Aku apa?"


"Aku samasekali tidak ada hutang pada kalian yang harus Aku bayar. Jadi biarkan Aku pergi dari sini!" ujar gadis itu seraya berdiri dari duduknya.


"Aku lebih menyukai menjadi seorang pembantu di Dapur. Karena apa kamu tahu Tuan George? Aku lebih suka memasak dan menyiapkan keperluan di Rumah ini daripada harus bersama dengan Tuanmu sepanjang waktu." Gadis itu memandang tajam wajah orang kepercayaan Frederico Patria itu.


George hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Andaikan gadis ini bukan perempuan yang sangat diinginkan oleh pimpinannya, mungkin ia sudah membawanya ke peternakan harimau yang dimiliki oleh keluarga Patria.


"Kalau begitu istirahatlah Nona. Saya akan memberi tahukan pada Tuan muda Patria apa keinginan Anda." Flower Michelin tersenyum mendengar kata-kata pria itu padanya. Ia pun kembali ke kamarnya sedangkan Pria itu pun meninggalkan tempat itu dan segera kembali ke ruang kerja pimpinannya.


"Maafkan saya Tuan," ujar pria itu meminta maaf saat ia tiba di ruangan kerja Frederico Patria.


"Ada apa? Apa gadis itu menerima apa saja yang aku inginkan?"


"Maafkan saya Tuan. Akan tetapi Nona Micheline meminta dikembalikan ke Panti Asuhan jika anda memaksakan keinginan anda padanya."


"Benar-benar keras kepala seperti Ayahnya!" geram Frederico Patria seraya memukul meja di hadapannya.


"Aku tidak kuat George. Aku akan menderita kalau tidak menyentuhnya. Aku akan mati aaaargh!" kembali pria itu meremas rambutnya karena hasrat yang bergolak semakin menyiksanya.


"Aku harus mendapatkannya malam ini George!"


🌺🌺🌺


Eng ing eng...


Akankah niat buruk pria jahat itu akan terlaksana?


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2