
"Siapa perempuan itu George?" tanya Maggie saat mereka sudah berada di dalam sebuah kamar di dalam hotel itu.
"Bukankah kamu sudah berkenalan dengannya Mag? Saya juga baru berkenalan dengan perempuan itu dan kamu datang."
"Benarkah? padahal Aku lihat ia sangat akrab denganmu."
"Maggie, apakah kita hanya akan membahas perempuan yang saya juga tidak tahu siapa dan darimana asalnya itu di sini?" George mulai kesal. Sejak dalam perjalanan ke kamar mereka, istrinya itu selalu menanyakan tentang perempuan itu.
Saat ini Ia sedang tidak ingin membahas tentang masalah lain ketika sudah berdua dengan Maggie sang istri. Sepekan setelah menikah, mereka bahkan belum merasakan waktu berkualitas karena begitu padatnya pekerjaan istrinya itu di Rumah Sakit.
Dan saat ini ketika keduanya ingin menghabiskan waktu bersama, mereka justru diganggu oleh hal sepele yang tidak perlu dipikirkannya.
Maggie Smith terdiam. Ia tahu kalau ia seharusnya tidak membahas apa pun saat ini. Akan tetapi ia merasa bahwa perempuan itu berniat tidak baik. Tatapannya pada suaminya begitu berbeda dan ia merasa sangat cemburu.
George pun membuka jasnya dan menyimpannya di dalam sebuah gantungan yang tersedia di dalam kamar itu. Pria itu lantas melipat lengan kemejanya dan melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi.
Ia ingin menyegarkan tubuhnya dengan mencuci wajahnya yang cukup panas di musim panas ini. Selain itu ia juga ingin meredakan kekesalannya pada istrinya.
Pria itu juga tidak ingin berkata apapun lagi. Ia hanya ingin beristirahat sejenak sebelum Flower Michelin menghubunginya untuk kembali menjemputnya di Cafetaria tadi.
"George, maafkan Aku sayang. Itu karena Aku tidak suka kalau ada perempuan lain yang menginginkanmu," ucap Maggie Smith seraya memeluk suaminya dari belakang saat pria itu keluar dari kamar mandi.
George tidak menjawab. Ia hanya menyentuh tangan istrinya yang sedang memeluknya itu dan membawanya ke bibirnya. Ia mengecup tangan istrinya itu dengan lembut.
"Saya mencintaimu Mag. Jadi jangan berpikir saya akan memberikan kesempatan perempuan lain untuk memasuki hatiku hem," jawab pria itu kemudian menarik tubuh istrinya agar bisa menghadap ke arahnya.
"Terimakasih George. Aku juga sangat mencintaimu sayangku," balas Maggie Smith kemudian menyentuh bibir suaminya dengan bibirnya. Ia ingin pria itu tahu kalau perasaaan cintanya sebanding dengan apa yang dirasakan oleh suaminya itu padanya.
__ADS_1
Mereka berdua akhirnya larut dalam sentuhan dan belaian yang sangat memabukkan. Sampai mereka tidak menyadari kalau sudah melepaskan seluruh kain yang sedang mereka pakai saat ini. Sungguh tak ada yang tersisa dari tubuh mereka.
George memandang istrinya dengan tatapan takjub dan juga penuh hasrat. Satu pekan menikahi dokter perempuan itu ia hanya mendapatkan bibir dari begitu banyaknya keindahan yang dimiliki sang istri.
Bukan hanya urusan pekerjaan yang membuatnya gagal mendapatkan hal lebih dari seorang Maggie Smith melainkan adalah masa period yang dialami oleh perempuan cantik yang sangat diinginkannya itu.
"Mag, kamu sangat cantik sayangku," bisik George dikuping istrinya dengan sangat lembut. Maggie Smith tersenyum. Ia merasa sangat geli karena suaminya itu tidak hanya berbisik tetapi juga mengeksplore kupingnya itu menggunakan lidahnya.
"George..." Maggie Smith merasakan suaranya bergetar hebat. Ia sampai tidak bisa lagi mengenali dirinya yang sangat terbuai dengan apa yang dilakukan oleh sang dominan.
Ia adalah seorang dokter, dan ia tahu betul fungsi-fungsi anggota tubuh dari dirinya dan juga suaminya.
Rasanya seluruh tubuhnya dan suaminya benar-benar berfungsi sangat baik disini. Mereka mengantarkan gelombang yang sangat dahsyat dalam pembuluh darah keduanya melebihi kecepatan cahaya
"George, aaaah uuuuuuh," desisnya dengan sangat indah di telinga pria dominan yang sedang menguasai tubuhnya itu.
Siang itu mereka merayakan datangnya musim panas dengan ikut memanaskan suasana ruangan di dalam kamar hotel yang cukup dingin itu. George tersenyum bahagia. Ia tidak menyangka kalau Maggie Smith diusia yang sudah dewasa itu ternyata masih virgin.
"Terimakasih Mag, Aku sangat mencintaimu sayangku," bisik pria itu dengan wajah yang sangat puas. Perempuan cantik yang sedang kelelahan itu hanya bisa mengulas senyum. Ia pun jatuh tertidur di dalam pelukan suaminya.
George mengecup lembut kening Maggie dengan perasaan yang sangat bahagia. Ia juga sangat kelelahan setelah menempuh perjalanan yang sangat menyenangkan sampai berjam-jam lamanya tetapi ia jadi teringat pada perempuan cantik tadi yang sedang berusaha untuk menggodanya.
"Tatto mawar hitam," gumamnya pelan seraya berusaha mengingat klan mana di negara ini yang mempunyai tatto seperti yang dimiliki perempuan itu di lengan kanannya.
"Apa mungkin itu hanya tatto biasa saja atau ada hubungannya dengan klan tertentu?" Pria itu mengerutkan dahinya untuk berpikir keras.
"George, kamu tidak lelah sayang?" Maggie menggeliat pelan di dalam pelukannya kemudian membuka matanya. Perempuan itu menatap wajah suaminya yang nampak sedang memikirkan sesuatu yang sangat rumit.
__ADS_1
"Iya sayang. Apa kamu terganggu dan tidak nyaman dengan posisi kita sekarang?" tanya pria itu balas menatap mata abu-abu istrinya.
"Tidak George. Aku cuma merasa sangat perih dan ternyata tidak bisa tidur dengan nyenyak. Aku ingin berendam dengan air hangat saja."
"Maafkan Aku Mag, kamu jadi kesakitan seperti ini. Tunggu sebentar ya, Aku akan siapkan air hangatnya terlebih dahulu, dan kita akan berendam bersama," ujar pria itu dan langsung bangun dari tempat tidur itu. Ia melangkah ke arah kamar mandi dengan tubuh polosnya.
Maggie Smith tersenyum dengan debaran di dadanya yang kembali menggila. Tubuh atletis suaminya yang sudah ia rasakan seutuhnya kini nampak kembali di depan matanya.
Perasaan posesifnya langsung meronta-ronta. Ia tidak akan membiarkan satu orang perempuan lain pun yang boleh memiliki suaminya.
"Mag, airnya sudah siap sayang," ujar pria itu kemudian membuka selimut yang sedang menutupi tubuh istrinya.
George tersenyum dengan mata berbinar bahagia. Pria itu kemudian mengecup lembut lagi bibir Istrinya seraya mengangkatnya ke dalam kamar mandi. Ia meletakkan tubuh Maggie ke dalam bathtub berisi air hangat itu kemudian ia pun ikut masuk.
Mereka berdua menikmati sensasi air hangat yang terasa seperti sebuah pijatan lembut disekujur tubuh mereka yang benar-benar kelelahan.
Hasrat Goerge kembali terbangun karena sentuhan kulit dan gesekan-gesekan yang terjadi di dalam bathtub itu. Pria itu berbisik kepada istrinya untuk meminta lagi dan lagi.
Meskipun lelah dan merasa masih sangat perih. Maggie Smith meloloskan permintaan suaminya itu. Akhirnya mereka pun melakukannya lagi dan lagi sampai mereka tumbang dan tak sanggup lagi melanjutkan sampai ronde berikutnya.
Sementara itu di Cafetaria hotel itu. Rose Byrne bersama dengan seorang perempuan yang baru datang di tempat itu sedang mendiskusikan sesuatu yang sangat penting. Mereka berdua menyebut nama George Herbert dan juga Frederico Patria dalam pembicaraan mereka.
πΊπΊπΊ
*Tobe Continued.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading ya gaess π€ππ