
"Flower Michelin, sepertinya Aku pernah mendengar nama belakang perempuan ini, tapi dimana ya?" Rose Byrne tampak mengerutkan keningnya berusaha untuk berpikir dengan sangat keras.
"Aku sangat penasaran dengan perempuan yang sudah meraih hati pewaris klan Patria itu!" gumam perempuan cantik itu dengan tatapan lurus ke arah jendela yang terbuka di hadapannya.
"Sehebat apa dia sampai bisa mendapatkan semua harta Frederico, hemm."' Perempuan itu pun kembali menghisap rokoknya kemudian menghembuskan asapnya ke udara.
"Dan dimana Frederico sekarang ini? Perusahaannya sudah ku buat bermasalah tetapi ia belum juga menampakkan batang hidungnya," lanjutnya dengan wajah yang tampak sangat berpikir keras.
"Brengsek!" umpatnya sangat kesal. Ia paling tidak suka jika apa yang ia inginkan belum ia dapatkan. Karena itu pasti akan sangat menggangunya.
Wajah cantiknya berubah menghitam dan berbahaya. Layak setangkai mawar hitam yang menjanjikan duri yang penuh racun dan mematikan.
Drrrt
Drrrt
Drrrt
Perempuan itu menatap benda pipih elektronik yang sedang memanggilnya itu dengan wajah yang tiba-tiba berubah cerah. Seorang mata-mata yang ia perintahkan untuk mencari tahu perempuan yang bernama Flower Michelin itu sedang menghubunginya.
Ia yakin sekali pasti pria itu sudah berhasil mendapatkan informasi tentang apa ia butuhkan saat ini.
"Katakan apa yang kamu dapatkan!" titahnya saat panggilan telepon itu sudah ia terima.
"Flower Michelin sudah berada dalam genggamanku."
"Bagus!"
"Tapi ada masalah Nona."
"Jangan katakan kalau kamu kehilangan jejaknya bodoh!" teriak Rose Byrne dengan wajah yang kembali menghitam.
__ADS_1
"Maafkan saya Nona. Tapi ada seorang pria yang menghalangiku mendapatkan perempuan itu. Dan sekarang mobilku sedang rusak parah."
"Oh Sial! Saya tidak peduli dengan mobilmu yang rusak. Itu bukan itu urusan ku!" Tandas Rose Byrne dan langsung memutus panggilan itu.
Wajahnya semakin menghitam karena emosi. Ia pikir pria itu akan membawakannya berita yang sangat bagus. Tetapi ternyata hanya informasi yang tidak penting yang ia dapatkan.
"Dasar tidak berguna!" umpatnya dengan tangan meremas handphonenya itu dengan sangat keras. Setelah itu ia melempar benda elektronik itu ke atas meja yang ada di hadapannya.
Lama ia duduk di sana dengan tatapan kosong ke arah depannya. Perempuan itu masih tampak kusut setelah diam berpuluh-puluh menit.
Kembali ia meraih korek apinya kemudian memantiknya. Ia mengambil sebatang rokok baru kemudian menghisapnya dalam-dalam hingga menimbulkan bunyi khas yang cukup menarik.
Perempuan itu kemudian menghembuskan asap rokoknya ke udara dengan wajah yang nampak sangat kusut. Ia sudah mengeluarkan semua emosinya dengan melempar semua barang-barang yang ada di dalam ruangan itu.
Sisa puntung rokoknya ia tekan ke lantai dengan menggunakan ujung sepatunya kemudian menyeringai senang. Sebuah ide yang cukup menarik akan ia gunakan untuk bisa masuk ke klan Patria. Ia pun segera keluar dari ruangan itu dengan langkah ringan. Perasaannya sudah kembali baik.
πΊπΊπΊ
"Kamu ingin pulang kemana Mag?" tanya George saat mereka sudah berada di depan hotel setelah melakukan waktu berkualitas berdua di tempat itu. Perasaan mereka kembali membaik dan ingin membaginya pada orang lain.
"Hum, baiklah sayang. Kita akan mengunjungi mereka. Dan kuharap kamu juga akan memberikan Aku bayi-bayi yang lucu Mag," ujar George seraya menggandeng tangan istrinya ke tempat mobil mereka diparkir.
"Aku harap begitu George. Ayahku juga sudah sangat ingin bermain dengan bayi kecil hihihihi." Maggie Smith merasa lucu sendiri dengan keinginan sang Ayah.
"Hah? ayahmu yang suka membawa senjata kemanapun ingin mempunyai bayi lucu?" tanya George dengan wajah dibuat horor. Sebenarnya ia ingin tertawa membayangkan wajah mertuanya yang cukup menyeramkan itu sangat ingin bermain dengan anak kecil.
"Bukan bayinya sayang. Ayahku ingin bayi dari kita berdua. Katanya ia ingin mengajarinya menembak hewan liar di hutan," jelas Maggie Smith dengan senyum diwajahnya. Ia sangat menyayangi Ayahnya itu dan ia ingin memenuhi permintaannya.
"Aku kan bisa mengajari anakku menembak juga Mag. Tidak perlu kamu berikan pada Ayahmu."
"Hey, menyenangkan hati orang tua tidak akan jadi masalah bagimu kan sayang," tegur perempuan itu pada suaminya yang tiba-tiba tidak ingin berbagi bayi padahal juga belum lahir.
__ADS_1
"Hum, baiklah Mag. Sepertinya kita memang harus memiliki bayi kembar juga supaya bisa berbagi dengan Ayahmu," ujar George karena melihat wajah istrinya tampak tidak senang dengan ucapannya tadi.
"Hum, tapi Aku tidak punya genetik kembar dan kamu juga 'kan?"
"Hahaha, baiklah. Kamu lahirkan anak yang banyak saja kalau begitu. Supaya kita bisa berbagi untuk Ayahmu." Maggie hanya tersenyum kemudian mengangguk.
Dalam hati ia berharap apa yang mereka lakukan beberapa saat yang lalu akan menjadi bibit unggul untuk keturunan mereka kelak. Saat ini ia sedang berada pada masa subur. Dan ia bisa lihat kalau suaminya itu sangatlah sehat.
Mereka pun tidak berbicara lagi. George begitu berkonsentrasi dengan jalanan di hadapannya. Mereka berdua ternyata sibuk memikirkan bayi-bayi lucu yang mungkin sedang tercetak di dalam sel kandungan Maggie.
"Ada apa Maggie sayang? Kenapa kamu tersenyum-senyum seperti itu?" tanya George setelah lama terdiam. Sejak tadi ia melihat istrinya tersenyum seraya mengelus perutnya.
"Apakah kamu sudah membayangkan sedang mempunyai bayi sayangku?" tanya George lagi karena istrinya hanya diam.
"Ia George. Aku sudah membayangkan ada janin di sini dari bibitmu sayang. Akan tetapi ini belum 24 jam. Perlu waktu sepanjang itu hinggap sel sp*ermamu berenang ke O*vumku."
"Bersabar saja sayang. Aku yakin ia akan kuat berenang kesana dan akan kamu tangkap Mag." George meraih tangan istrinya kemudian mengelusnya lembut. Sedangkan tangan yang satunya memegang setir dihadapannya.
Maggie Smith tersenyum. Ia juga yakin hal itu. Ia sangat bisa merasakan kekuatan dan juga kesehatan suaminya untuk hal itu.
"Dan kita akan mengulanginya lagi dan lagi Mag," lanjut George dengan tatapan penuh cinta pada perempuan yang sangat cantik itu. Mereka pun saling menatap satu sama lainnya sampai sebuah bunyi klakson yang sangat ribut mengagetkan mereka berdua.
"Sial!" George segera menyeimbangkan setirnya karena hampir saja membuat celaka orang lain dan dirinya sendiri.
"Lihat ke depan George!" tegur Maggie dengan tawa tertahan. Ia jadi merasa sangat lucu sendiri karena aksi tatap-tatapan mereka berdua hampir saja membuat mereka menabrak orang lain.
"Hemm, kamu bisa membuatku gila Mag!" ujar pria itu dengan wajah berpura-pura sangat menderita. Maggie Smith hanya bisa tersenyum dengan dada berdebar. Ia sangat bahagia dan merasa sangat dicintai.
πΊπΊπΊ
*Tobe Continued.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading π