Mafia And His Maid

Mafia And His Maid
# Part 14 Mafia AHM


__ADS_3

Flower Michelin menghentakkan kakinya kesal dengan tatapan tajam pada pria tampan yang sedang duduk santai di dalam ruangan itu. Sedangkan Frederico Patria berusaha mati-matian menahan dirinya untuk tidak tertawa. Ia sangat gemas dengan apa yang dilakukan oleh gadis itu.


"Anda sepertinya sedang tidak serius ingin berpakaian Tuan," ujar gadis itu seraya melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Ekspresinya jelas sekali menunjukkan kalau ia sangat kesal pada pria pemilik rumah itu.


"Hey, kamu mau kemana? Aku belum selesai!" teriak frederico pada Flower yang sudah hampir berada di ambang pintu.


"Who cares? (emangnya gue pikirin 🀭?" balas gadis itu tanpa menghentikan langkahnya. Ia tetap keluar dan tidak peduli kalau ia sudah meninggalkan kekacauan di dalam kamar itu.


"Flo berhenti kamu!" titah Frederico dengan suara beratnya. Ia sangat tidak ingin kalau gadis itu meninggalkannya sendiri di sana.


Flower pun menghentikan langkahnya. Ternyata nyalinya menciut juga saat mendengar suara pria itu yang sepertinya sedang marah.


"Aku pilih kemeja hitam itu Flo, kumohon bantu Aku berpakaian."


"Apa?" Flower Michelin membalik tubuhnya dan menatap wajah pria itu dengan tatapan tajam.


"Kamu tidak salah dengar Flo. Aku sedang tidak bersemangat untuk mengikuti meeting itu. Tolong bantu Aku berpakaian agar semangatku kembali hadir."


"What?" sekali lagi Flower Michelin menatap tajam pria yang tampak memohon itu.


Frederico Patria menunjukkan wajahnya yang tidak berdaya. Tatapan matanya yang tajam dan sangat berbahaya seakan menghipnotisnya. Hati Flower Michelin meleleh dan merasa kasihan. Ia pun melangkahkan kakinya kembali ke arah pria itu.


Sebuah kemeja berwarna hitam gadis itu serahkan ke tangan pria yang sedang menatapnya dalam. Tangan Frederico Patria bukannya meraih kain yang diserahkan oleh gadis itu tetapi pinggang ramping Flower lah yang diraihnya ke dalam pelukannya.


"Aaaaaw!" Flower Michelin tersentak kaget karena tak menyangka kalau pria itu mengintimidasinya seperti itu. Ia berusaha memberontak tetapi tangan kuat pria itu tidak melepaskannya.


"Kamu sangat cantik Flo, Aku tidak tahan jika tidak menyentuhmu," bisik Frederico Patria seraya menyentuhkan keningnya ke kening gadis itu. Bibirnya yang tebal dan sangat menggoda ia raih dan ***** dengan sangat lembut.

__ADS_1


Plakkk


Flower Michelin berhasil mendaratkan tangannya pada pipi Frederico Patria dengan sangat keras. Gadis itu sempat terbuai dengan ciuman tiba-tiba itu tetapi ia tersadar saat tangan pria itu mulai meremas bagian belakangnya yang sangat montok dan kencang.


"Kamu sangat kurang ajar Tuan!" teriak gadis itu keras. Frederico Patria merasakan pipinya memanas akan tetap gairahnya sedang berada di atas puncak. Ia tersenyum kemudian merapatkan kembali tubuh mereka berdua dengan tatapan penuh hasrat.


"Aku sangat menyukaimu Flo, izinkan Aku menjadikanmu istriku, kumohon?" bisik pria itu dengan suara bergetar menahan rasa yang tak terbendung itu.


Ia pun menenggelamkan bibirnya kembali ke dalam bibir manis gadis itu sampai Flower Michelin tak berdaya. Hati gadis itu ingin memberontak tetapi tubuhnya menginginkan hal yang berlawanan. Sekali lagi ia terbuai.


"Flo..." Sebuah suara kembali terdengar memanggil namanya. Gadis itu tersentak kaget dan dengan reflek mendorong tubuh pria itu yang sepertinya sedang tidak dalam pertahanan yang baik.


"Tidak! lepaskan Aku!" Flower Michelin berteriak lagi dan berusaha melepaskan dirinya. Frederico Patria menatap wajah gadis itu dengan tatapan memohon. Ia sedang berada pada puncak hasrat sekarang.


"Aku tidak mau Tuan. Aku akan kembali ke Panti Asuhan saja, hiks," mohon gadis itu dengan airmata yang sudah meleleh dipipinya. Gadis itu merasakan ada sesuatu yang menggangu hatinya. Sungguh ia sudah mulai terbuai dan terbakar juga tetapi ada sesuatu dari dalam dirinya yang menolak dengan keras.


Frederico Patria tersadar, ia pun menyentuh bibir gadis itu dengan ibu jarinya. Bibir yang sangat manis dan ingin ia rasakan kembali. Akan tetapi sepertinya ia harus bersabar dan merubah taktiknya.


"Kamu tahu, Sejak pertama bertemu denganmu Aku sudah sangat ingin memilikimu Flo. Jadi kumohon mengertilah diriku." lanjut pria itu dengan rasa yang bergejolak.


"Biarkan Aku pergi Tuan. Aku belum bisa menerimamu, Maafkan aku," balas Flower Michelin seraya melepaskan dirinya. Ia pun pergi dari sana dengan dada berdebar sangat kencang.


Gadis itu berlari keluar dari kamar itu dengan maksud untuk mencari udara segar. Dadanya ia rasakan sangat sesak. Berbagai macam rasa bergolak dalam hatinya.


Frederico Patria meremas rambutnya dengan kasar. Ia bisa mati kalau ia harus menahan keinginannya ini lagi dan lagi.


"Flower Michelin, Kenapa kamu menyiksaku seperti ini, aaaargh!" teriaknya dengan sangat keras. Ia pun jatuh tersungkur ke lantai dengan perasaan tak terbendung. Ia mengisi dirinya yang sudah menjadi budak dari gadis cantik itu.

__ADS_1


Sementara itu di luar sana, Flower Michelin menyadarkan punggungnya di dinding kamar pemilik rumah besar itu. Ia menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya pelan.


"Apa yang terjadi Nona? Apa anda baik-baik saja?" tanya Brenda Hudson seraya menatap gadis cantik itu dengan tatapan penasaran.


"Tidak Nyonya. Aku tidak baik-baik saja. Dadaku sangat sesak," jawab gadis itu dengan pipi memerah.


"Anda bisa kembali ke kamar untuk beristirahat. Saya akan memanggil dokter keluarga untuk memeriksa Anda," ujar Brenda Hudson dengan wajah khawatir. Flower Michelin pun menurut. Ia sepertinya butuh waktu untuk menenangkan debaran di dadanya.


Gadis itu pun segera diantar ke kamarnya yang tidak jauh dari kamar Frederico Patria. Kamar tidur yang berhadapan langsung dengan sebuah taman yang sangat indah di luar sana adalah tempat yang sepertinya cocok untuk keluhan gadis itu saat ini.


Mata tua Brenda Hudson bisa menebak apa yang terjadi pada gadis itu saat ini. Gadis itu keluar dari kamar Tuan Patria dalam keadaan yang sedikit kacau. Tatanan rambut gadis itu yang ia lihat tadi pagi kini sudah tidak rapih lagi.


"Apa ada sesuatu yang terjadi Nyonya Hudson?" tanya George yang melihat kepala pelayan itu baru saja keluar dari kamar Flower Michelin. Perempuan tua itu tersenyum.


"Tidak ada Tuan, Nona Micheline sepertinya baru saja mendapatkan sesuatu yang sangat spesial dari Tuan muda Patria," jawab perempuan tua itu kemudian meninggalkan kamar itu. Rencananya untuk memanggil dokter sepertinya akan ia batalkan saja.


George mengangkat alisnya kemudian tersenyum samar. Ia segera melangkahkan kakinya ke arah kamar Frederico Patria untuk melihat apa yang sudah dilakukan pria itu pada gadis yang masih sangat muda itu.


"George, lakukan sesuatu. Aku bisa gila kalau tidak mendapatkannya," ujar Frederico Patria dengan wajah memohon pada asistennya itu.


George tersenyum dan menarik nafasnya dalam-dalam. Ternyata pria itu tidak berhasil memiliki Flower Michelin seperti yang ia duga.


"Bersabarlah lagi Tuan."


🌺🌺🌺


*Tobe Continued.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2