
Flower Michelin hanya memandangi segelas susu yang sudah dingin itu dengan tatapan kosong. Wajahnya yang pucat dan kurus itu tak lagi berselera untuk melakukan apapun. Berita tentang kematian suaminya beberapa hari yang lalu membuatnya terpukul sampai ke dasar.
Yang ia lakukan hanya menangis dan menangis. Dendamnya sudah terbalas tetapi hatinya masih tidak bahagia. Ada rasa rindu yang harus ia tahan dan sangat menyakitkan menyerang hatinya. Dan itu lebih membuatnya menderita daripada semua rasa yang pernah ia rasakan selama ini.
"Aku lebih baik mati saja, hiks," gumamnya pelan dengan lelehan cairan bening yang kembali menyeruak dari kelopak matanya.
"Kamu pria yang paling jahat Fred. Aku membencimu, hiks," ucapnya lagi seraya menghapus lelehan cairan bening itu di pipinya.
"Kamu tega membiarkan Aku merawat anak-anakmu sendiri. Kamu benar-benar jahat. Aku benci padamu!" Sekali lagi terdengar keluhannya diiringi Isakan tangis yang memilukan.
Perempuan itu pun mengelus lembut perutnya yang terasa bergerak-gerak. Bayi-bayi kembar itu seolah mengiyakan perkataannya. Ia yakin hanya kedua anaknya yang tahu bagaimana penderitaannya saat ini.
Rasa benci dan rindu seakan-akan mencabik-cabik hatinya hingga tak berbentuk. Ingin ia melenyapkan hidupnya saja saat ini juga, akan tetapi rasa sayang dan cinta akan penerus keluarga Patria dan Micheline membuatnya terpaksa bertahan.
"Flo, apakah kamu ingin mengganti susumu sayang? ini sudah dingin," ucap Brenda Hudson seraya menyentuh bahunya. Flower Michelin tersentak dari lamunannya. Ia pun menyusut airmatanya cepat.
"Tidak masalah Nyonya. Aku akan meminumnya," balas perempuan hamil itu kemudian segera meraih susu untuk ibu hamil yang masih penuh di dalam gelas tinggi itu. Ia pun meminumnya sampai habis tak tersisa.
"Nah, bagus sayang. Bayi-bayimu perlu nutrisi yang baik agar bisa tumbuh sehat dan kuat," ucap Brenda Hudson lagi dengan senyum diwajahnya.
"Apa ada lagi yang ingin kamu makan sayang?" tanya nya lagi dengan penuh perhatian. Sungguh ia sangat kasihan pada perempuan cantik yang sedang duduk dihadapannya itu. Perempuan yang sudah mengalami penderitaan karena dendam dan cinta yang datang secara bersamaan di dalam hatinya.
"Aku tidak kuat Nyonya. Aku takut tidak akan sanggup menghadapi ini semua sendiri, huaaaa." Flower Michelin akhirnya menumpahkan lagi rasa sesak di dadanya dengan menangis sejadi-jadinya. Perempuan itu memeluk Brenda Hudson dengan tubuh bergetar hebat.
"Sabar sayang, semua pasti akan baik-baik saja. Saya yakin kamu pasti kuat. Bayi-bayimu akan memberimu kekuatan." Perempuan tua itu mengelus lembut punggung Flower Michelin dengan penuh kasih sayang. Ia ingin agar istri dari Frederico Patria itu tidak merasa sendiri di dunia yang keras ini.
__ADS_1
"Fred jahat Nyonya. Aku sekarang sangat merindukannya meskipun Aku sangat membencinya huaaaa." Kembali perempuan itu menangis sesenggukan sampai akhirnya ia jatuh tak sadarkan diri.
"Flo bangun sayang!" Brenda Hudson berteriak memanggil perempuan hamil itu karena takut dan khawatir. Ia pun meminta tolong pada semua pelayan untuk membantunya mengangkat tubuh yang sedang berisi 3 nyawa itu.
George yang baru tiba di tempat itu langsung ikut mengangkat tubuh Flower Michelin ke dalam kamar pribadi perempuan itu. Setelah itu ia pun menghubungi dokter Maggie Smith untuk segera datang memberikan pertolongan.
"Apa ini sudah sering terjadi Nyonya?" tanya George dengan pandangan khawatir pada perempuan yang sedang terbaring lemah di atas ranjang itu.
"Iya Tuan. Ini sudah sering terjadi sejak kejadian itu," jawab Brenda Hudson seraya menundukkan kepalanya. Ia tahu kalau ia salah karena tidak melaporkan perkembangan kesehatan Nyonya rumah itu pada orang kepercayaan Frederico Patria.
"Kenapa tidak memberitahu saya Nyonya?! Flower sedang mengandung dua bayi kembar dan lihat tubuhnya sangat kurus dan tidak sehat." George menatap kepala pelayan itu dengan wajah mengeras. Ia benar-benar sudah tidak bisa menyembunyikan perasaan marahnya saat ini.
"Maafkan Saya Tuan. Ini tidak akan terjadi lagi," ujar Brenda Hudson dengan kepala semakin menunduk.
George tidak menjawab. Pria itu langsung meninggalkan kamar itu dengan emosi didadanya. Sekali lagi ia merasa bersalah karena telah mengabaikan kesehatan perempuan kesayangan tuan mudanya.
"Apa yang terjadi George?" tanya Maggie Smith dengan wajah khawatir. Dokter perempuan itu datang dengan cepat karena kebetulan sedang berada di jalan yang tak jauh dari alamat rumah itu.
"Masuklah. Nyonya Patria sedang tidak sehat dokter," jawab Goerge seraya mempersilahkan perempuan itu memasuki kamar Nyonya rumah itu. Maggie Smith menurut. Ia tidak lagi ingin bertanya pada pria yang nampak sedang tidak baik-baik saja itu.
"Apa yang kamu rasakan Nyonya?" tanya dokter cantik itu pada Flower Michelin yang sudah siuman.
"Aku benci diriku dokter," jawab Flower Michelin dengan air mata kembali meleleh di pipinya.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Aku seharusnya mati saja waktu itu dokter. Ia seharusnya membunuhku juga agar penderitaanku selesai, hiks," Isak Flower dengan nada pilu.
"Anda tidak boleh berkata seperti itu Nyonya. Ada bayi-bayi yang sangat lucu yang ingin hidup di dunia ini bersama dengan anda." Maggie Smith tersenyum seraya menyuapi perempuan itu dengan bubur yang sudah dicampur dengan daging dan juga sayuran.
"Tapi Aku ingin bertemu dengannya dokter. Aku ingin meminta pertanggung jawabannya padaku," jawab Flower Michelin seraya mengunyah suapan demi suapan yang diberikan oleh dokter cantik itu.
Perempuan hamil itu tampak merajuk tetapi terus mengunyah dan hampir menghabiskan makanan itu. Brenda Hudson tanpa sadar tersenyum lebar melihat perkembangan dari Flower Michelin yang baru mau makan setelah beberapa hari.
"Apakah ini baru terjadi Nyonya?" tanya George yang ternyata memperhatikan interaksi Maggie Smith dan juga Flower Michelin yang sangat baik. Belum lagi senyum lebar yang baru ia lihat di wajah kepala pelayan itu.
"Iya Tuan. Nyonya muda baru kali ini makan seperti itu. Selama ini ia hanya minum susu saja," jawab Brenda Hudson dengan kepala kembali menunduk.
George tersenyum samar dengan pandangan ia alihkan kepada Maggie Smith yang masih bercakap-cakap dengan Flower Michelin. Satu mangkuk besar ternyata bisa dihabiskan oleh perempuan hamil itu hanya dengan bujukan yang sangat lembut dari sang dokter.
"Nah, sekarang waktunya untuk minum vitamin," ujar Maggie Smith seraya memperlihatkan beberapa butir pil vitamin untuk perempuan hamil.
Flower Michelin tersenyum kemudian meraih pil-pil itu. Ia meminumnya demi bayi-bayi kembar yang sangat disayangi oleh Frederico Patria sang suami.
Mulai saat ini, ia akan bangkit bersama dengan kenangan indah yang pernah diberikan pria itu padanya. Bayi-bayi ini akan menggantikan keberadaan pria itu yang sudah ia lenyapkan dengan tangannya sendiri.
πΊπΊπΊ
*Tobe Continued.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading π