Mafia And His Maid

Mafia And His Maid
# Part 54 Mafia AHM


__ADS_3

"Siapa yang mengundang perempuan itu George?!" tanya Ferguson Patria dengan tatapan tak lepas dari pergerakan Rose Byrne dari jauh. Saat ini para undangan sedang dijamu khusus di sebuah ruangan dengan pesta dansa.


"Maafkan saya Tuan. Saya sudah memeriksa semua data para undangan tetapi saya sepertinya sedang tidak fokus hingga perempuan itu bisa lolos masuk," jawab George dengan wajah menunduk. Sungguh ia merasa sangat bersalah saat ini karena tidak waspada pada perempuan itu. Padahal mereka sudah pernah bertemu sebelumnya.


"Tak apa George. Lain kali periksa dengan benar biodata setiap orang atau organisasi yang akan kamu undang untuk acara seperti ini!"


"Baik Tuan."


"Kalau begitu awasi terus Rose Byrne. Saya yakin ia mempunyai niat yang buruk sehingga ia muncul lagi di tengah-tengah kita setelah sekian lama menghilang."


"Baik Tuan."


"Lanjutkan pekerjaanmu karena saya ingin menyapa seorang kolega di sebelah sana."


"Bak Tuan."


Ferguson Patria pun segera pergi dari hadapan George Herbert sang asisten. Ia berjalan ke arah seorang teman bisnisnya yang sedang menikmati minumannya dengan seorang gadis muda. Mereka pun saling menyapa dan juga mengobrol.


"Kenalkan, ini adalah Vivian White teman kencan baruku Tuan Patria," ujar Dickinson seraya merengkuh pinggang langsing gadis bergaun merah terang itu.


"Oh hai Nona White. Senang berjumpa denganmu. Kamu sangat cantik," puji Ferguson Patria dengan tatapan lurus ke mata coklat gadis itu. Vivian White tersenyum. Dadanya berdebar cukup kencang dengan tatapan tajam pria berusia lebih dari setengah abad itu.


Keluarga Patria ini memang berbahaya bagi semua jantung perempuan di kota ini. Yang tua saja sudah membuat Aku susah bernafas seperti ini apalagi putra-putranya.


Tak heran jika Nona Rose Byrne benar-benar tak ingin lepas dari keluarga berbahaya ini.


"Hati-hati dengan tatapan mu Tuan Patria. Vivian White yang akan menemaniku sepanjang waktu di sini," tegur Dickinson dengan wajah tidak suka.


"Tidak masalah. Silahkan nikmati pestanya Tuan dan Nona White. Tapi kalau anda tidak keberatan saya ingin mengajak pasanganmu untuk berdansa. Bolehkan?" Vivian White tersenyum dalam hati.


Ia sangat suka dengan pria tua ini. Tetapi demi menghormati Tuan Dickinson yang sudah terlebih dahulu menyapa dan mengajaknya berkencan, ia akan diam saja.


"Baiklah. Karena ini pestamu, jadi saya akan mengizinkanmu berdansa dengannya. Tetapi ingat hanya satu lagu saja, Okey?"


"Suatu kehormatan untukku Nona White. Mari silahkan," ujar Ferguson Patria seraya meraih tangan gadis cantik itu dan membawanya ke lantai dansa. Sudah banyak pasangan yang berdansa di sana dengan sangat mesra. Apalagi lagu yang sedang mengalun lembut itu begitu sangat romantis.


L Is for the way you look at me

__ADS_1


O is for the only one I see


V is very, very extraordinary


E is even more than anyone that you adore can


Ferguson Patria meraih pinggang ramping Vivian White dan mencengkeramnya erat. Sampai gadis cantik itu merasakan gelenyar aneh merambat disekujur tubuhnya.


Ia pun mengalungkan tangannya ke leher pria tua yang masih sangat tampan diusianya yang sangat matang itu. Sungguh Vivian merasa sangat tertarik dengan pria yang sedang menyentuhnya saat ini.


"Tuan Patria, Anda sungguh hebat," ujarnya pelan seraya melangkahkan kakinya mengiringi alunan lagu yang seolah menggambarkan perasaannya saat ini.


Love is all that I can give to you


Love is more than just a game for two


Two in love can make it, take my heart and please don’t break it


Love was made for me and you


"Hebat? dalam hal apa Nona White?" tanya Ferguson dengan senyum samar diwajahnya. Pria itu menatap bibir seksih Vivian yang bergerak gelisah di hadapannya. Langkah mereka tidak berhenti mengikuti alunan musik dan lagu yang terdengar sangat romantis itu.


O is for the only one I see


V is very, very extraordinary


E is even more than anyone that you adore can


"Maafkan Aku Tuan. Tapi anda sudah membuatku gelisah, Aku .." Vivian tidak melanjutkan ucapannya. Dadanya sungguh sangat sesak sekarang. Dan ya, ia yakin ia akan menghiba perasaan pada pria tua yang mempunyai sejuta pesona ini.


"Nona White. Saya juga merasakan hal yang sama. Tapi bagaimana pun juga Tuan Dickinson sudah membooking mu lebih dulu 'kan? Sungguh saya akan menunggu dengan sabar. Tapi kamu tahu kan menunggu adalah hal yang sangat tidak saya suka."


Ferguson Patria memindahkan tangannya dari pinggang ramping Vivian White ke bagian belakang gadis itu. Ia mengelus dan meremasnya lembut hingga membuat Vivian White tercekat.


Love is all that I can give to you


Love is more than just a game for two

__ADS_1


Two in love can make it, take my heart and please don’t break it


Love was made for me and you


"Tuan, ini tempat umum," bisik Vivian dengan nada rendah dan sangat pelan. Ia benar-benar sangat menikmati apa yang pria tua itu lakukan padanya. Ia terus berusaha menjaga kewarasannya agar tidak meleleh di tempat itu.


"Tidak masalah Nona White. Sungguh saya sudah tidak sabar menyentuhmu sayangku," Ferguson semakin bersemangat merayu dan menggoda gadis bertato mawar hitam itu agar segera jatuh dalam perangkap hasratnya.


Love was made for me and you


Love was made for me and you


"Tempat ini adalah milikku, dan saya mempunyai kuasa disini. Jadi kalau kamu mau kita bersenang-senang dimana pun kamu inginkan." bisik Ferguson dengan suara bergetar penuh hasrat.


Wajah Vivian semakin ia rasakan menghangat. Tubuhnya benar-benar merespon sangat baik. Ia sudah membayangkan akan memiliki Ferguson Patria seutuhnya sedangkan Nona Rose Byrne pimpinannya akan membuat Frederico Patria bertekuk lutut dibawah kuasa perempuan itu.


"Saya menunggumu di kamar 123 Nona White. Dan kamu akan rasakan sesuatu yang sangat luar biasa disana," bisik Ferguson Patria kemudian mengecup punggung tangan gadis cantik itu.


Mereka berdua pun berpisah setelah satu lagu romantis itu selesai. Debaran jantung gadis itu semakin menggila membayangkan seorang ketua klan Patria menginginkan dirinya.


Oh My


Apa yang harus Aku lakukan Nantinya. Pria tua itu benar-benar membuatku gila.


Gadis itu segera berjalan ke Toilet untuk mendinginkan wajahnya yang terasa sangat panas dan ingin meledak.


"Awwwww!"


"Apa yang kamu lakukan Vivian!" tangan gadis itu dicengkeram kuat oleh Rose Byrne dengan emosi diwajahnya.


"Ah Nona." Vivian menundukkan wajahnya takut.


"Berani kamu mendekati keluarga Patria tanpa seizin ku hah?!"


🌺🌺🌺


*Tobe Continued.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2