
Linda Brown menarik tangan Joshua Hudson ke arah meja-meja panjang yang menyediakan berbagai macam menu makanan yang disiapkan untuk semua tamu yang hadir.
Perempuan itu ingin mengalihkan perhatian Joshua Hudson agar tidak memikirkan apa yang Frederico Patria lakukan di hadapan mereka berdua. Ia pun mengajak pria muda itu untuk membicarakan banyak hal.
"Kamu bisa menyicipi semua makanan enak ini Josh. Aku yakin di Panti Asuhan kita jarang menikmati yang seperti ini, iyya kan?" ujar Linda Brown seraya mengisi piringnya dengan bermacam-macam kue yang tampak sangat menggoda selera makannya.
"Ah iya. Anda benar sekali Miss. Brown. Ini adalah pesta orang kaya di kota ini. Dan sekarang Aku bahagia karena Flower Michelin pasti akan sangat bahagia bersama dengan pria kaya itu," jawab Joshua Hudson seraya memilih makanan yang tertata rapih di atas meja panjang itu.
Linda Brown tersenyum senang karena sepertinya Joshua Hudson tidak ambil pikir atas ancaman yang diucapkan oleh Frederico Patria beberapa saat yang lalu.
Mereka berdua pun menikmati pesta pernikahan itu dengan ikut berdansa dan menari bersama dengan para tamu lainnya.
πΊ
Pesta pernikahan mewah dan tertutup itu masih berlangsung. Akan tetapi sang pengantin sudah meninggalkan tempat itu karena berbagai alasan. Frederico Patria membujuk sang istri untuk beristirahat di dalam kamar karena merasa kasihan.
Dalam keadaan hamil dan harus menyapa para tamu yang hadir merupakan hal yang sangat melelahkan. Pria itu tahu hal itu. Untuk itu ia segera membawa istrinya ke kamar pengantin mereka berdua dan akan menemani Flower Michelin untuk beristirahat.
"Ganti pakaianmu sayang, agar kamu merasa nyaman," ujar pria itu saat mereka sudah sampai di dalam kamar sang istri.
"Ah tidak Tuan. Pakaian ini sangat indah dan Rasanya Aku tidak ingin menggantinya hehehe," kekeh Flower Michelin seraya mematut dan memutar tubuhnya yang sudah berisi itu di depan kaca besar di dalam kamar itu.
Ia seperti gadis kecil yang begitu sangat senang dengan pakaian baru yang sangat cantik dan cocok untuknya.
Frederico Patria tersenyum dengan hati berbunga-bunga. Ia menatap istrinya yang masih sangat muda itu memutar-mutar tubuhnya di depan kaca. Ia pun mendekat dan meraih pinggang Flower Michelin dan merengkuhnya.
"Apa kamu sangat suka dengan pakaian pengantinmu Flo?" bisik pria itu di kuping Flower Michelin dengan suara rendah dan bergetar.
Gadis cantik yang sedang hamil itu tersenyum malu-malu kemudian mengangguk. Ia benar-benar suka akan rancangan pakaian pengantin ini. Indah, sederhana, dan sangat elegan.
__ADS_1
"Tapi Aku ingin kamu melepasnya sayang, Aku ingin kamu nyaman untuk beristirahat," ujar Frederico Patria dengan tatapan lurus ke mata Flower Michelin. Gadis cantik itu tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku sangat suka pakaian ini dan Aku ingin memakainya sepanjang waktu Tuan. Ini terlalu indah karena Aku seperti seorang putri di sebuah kerajaan," jawab Flower Michelin dengan senyum diwajahnya.
"Aku akan memberikanmu banyak pakaian seperti ini Flo, tetapi bagaimana dengan perutmu sayang apa tidak butuh ruangan yang lebih bebas?" Frederico Patria menatap perut istrinya yang sudah nampak membesar di balik pakaian yang sangat indah itu.
Ia terus berusaha membujuk agar istrinya itu mau membuka pakaiannya agar ia bisa merasakan kepuasan tersendiri dengan melihat tubuh indah Flower Michelin yang sudah lama ia rindukan.
"Nanti saja, Aku masih ingin menikmati pakaian ini. Terimakasih banyak ya Tuan," balas Flower Michelin kemudian mencium pipi suaminya dengan sangat singkat.
Frederico Patria yang sudah lama menantikan hal ini langsung mengganti ciuman di pipi itu dengan menyatukan bibir mereka berdua. Sungguh Ia sudah sangat tidak sabar melakukan hal lebih daripada ini dengan perempuan yang sedang mengandung anak-anaknya itu.
"Flo, Aku mencintaimu sayangku," bisik Frederico Patria di depan wajah istrinya. Deru nafasnya yang memburu dan berkabut hasrat membuat sekujur tubuh Flower Michelin membeku dengan getaran aneh yang saling berkejaran di dalam urat syarafnya.
Sekali lagi gadis cantik itu terbuai dengan kata-kata manis dan juga sentuhan-sentuhan yang diberikan oleh suaminya yang belum ia cintai. Flower Michelin merasakan gairahnya ikut terbakar.
"Aku menginginkanmu Flo," bisik Frederico Patria dengan hasrat yang sudah tidak terbendung. Ia mulai mengangkat tubuh istrinya yang masih dalam balutan pakaian pengantin itu ke atas ranjang.
Flower Michelin tidak menolak. Gadis itu benar-benar telah terbuai oleh perlakuan manis pria yang mempunyai tatapan berbahaya itu.
Tangan Frederico Patria mulai ingin membuka pakaian yang sedang dipakai istrinya itu tetapi Flower Michelin menolak. Ia menahan tangan pria itu dan menyimpannya di atas dadanya.
"Aku tidak mau melepaskannya Tuan. Aku sangat suka pakaian ini. Dan kamu pun tak perlu melepaskan pakaianmu," ujar Flower Michelin dengan tatapan sayu.
"Kenapa Flo? Aku ingin sekali melihatmu tanpa pakaian sayang. Kamu pasti akan sangat cantik lebih dari ini."
"Dan Aku yakin Kamu juga pasti akan sangat suka melihatku dalam keadaan yang sama sayang," bisik Frederico Patria dengan perasaan tak sabar. Ia pun mulai meraih bibir tebal Istrinya dan mengulumnya sangat lembut.
"Karena Aku masih ingin menemui Bibi Matilda Tuan. Ia pasti menungguku di luar sana. Kamu membuatku lupa untuk berpamitan padanya," jawab Flower Michelin setelah bibirnya dilepaskan oleh suaminya.
__ADS_1
"Perempuan tua itu akan menunggu Flo, tapi tolong izinkan Aku untuk mengunjungimu sayang," bisik Frederico Patria lagi berusaha untuk membujuk sang istri yang sudah hampir membuatnya meledak.
"Tapi kamu akan mengotori pakaianku Tuan. Aku tidak mau," jawab Flower Michelin dengan wajah merajuk manja. Ia menggelengkan kepalanya pelan dan semakin membuat Frederico Patria terbakar hasrat.
"Untuk itulah kamu harus membukanya Flo," ujar pria itu tidak sabar.
"Tidak. Akan sulit untuk memakainya kembali tanpa bantuan pelayan."
Federico Patria menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya pelan. Celananya sendiri sudah ia rasakan sangat sesak. Inti dirinya benar-benar tidak bisa lagi bertahan. Patria junior sudah memberontak dibawah sana dan membuatnya sangat tersiksa.
"Tolong Aku Flo, Aku bisa gila kalau kamu menolak Aku terus sayang," bisik pria itu dengan suaranya yang bergetar hebat. Ia pun membuka celananya dan berniat melepaskan Patria junior yang sudah sangat siap menyerang.
Pria itu tidak peduli lagi kalau istrinya masih berpakaian sangat lengkap saat ini seperti dirinya.
"Aaaaaw," Flower Michelin berteriak tertahan saat menyadari sebuah benda tumpul menyerang pertahanan dirinya dibawa sana. Ia tidak menyangka kalau dirinya sudah dibombardir seperti itu oleh pria yang baru saja menikahinya.
Kedua tangannya ia gunakan untuk mencengkram dua ujung bantal yang sedang ia tempati. Rasa sesak ia rasakan saat Patria junior melakukan tugasnya dengan sangat baik dibawah sana.
Ia sungguh ingin menolak tetapi tubuhnya yang sedang hamil itu sepertinya sangat menikmati apa yang diberikan suaminya.
Flower Michelin mulai memberontak saat kelebatan bayangan Hitam malam itu terbayang dalam benaknya bagaikan sebuah video yang sangat menyeramkan. Ia seperti dejavu.
πΊπΊπΊ
*Tobe Continued.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading π
__ADS_1