Mafia And His Maid

Mafia And His Maid
# Part 13 Mafia AHM


__ADS_3

Flower Michelin bangun dari tidurnya pagi itu dengan tubuh yang terasa sangat segar dan bugar. Ada rasa bahagia yang ia rasakan saat ia menyadari kalau hari ini ia akan melakukan sesuatu yang sangat menyenangkan.


Gadis cantik itu langsung melompat ke arah kamar mandi dan membersihkan dirinya. Mandi di dalam bathtub yang dipenuhi oleh busa sabun membuat dirinya begitu sangat santai dan bahagia.


Seketika ia melupakan mimpi buruknya semalam. Perlakuan yang sangat manis dari seorang Frederico Patria pada saat mereka bertemu di depan pintu kamarnya semalam membuat hatinya merasakan getaran aneh.


Sebuah rasa asing yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya selama hidupnya di dunia ini. Tatapan tajam pria itu yang begitu berbahaya juga sekaligus membuat dirinya berada dalam dimensi lain.


"Aaaaaakh," Flower Michelin menutup matanya dan menenggelamkan dirinya ke dalam bathtub semakin dalam.


Entah kenapa hatinya berdebar sangat kencang saat mata tajam dan berbahaya itu mengantarkan sebuah pesan aneh dan meresahkan. Jantungnya terasa dihujam oleh belati tajam dengan sangat kejam dan menyesakkan.


"Flo, sayangku..." Seketika gadis itu tersentak kaget dan membuka matanya. Ia seperti mendengar suara ibunya memanggil namanya.


"Ah Ibu," jawabnya pelan dengan hati menghangat. Sosok perempuan yang sangat menyayanginya seolah-olah sedang berada sangat dekat dengannya.


"Ibu, Aku merindukanmu," ujarnya dengan suara lirih. Air mata pun kembali tumpah dari pelupuk matanya. Rasa sedih bagaikan sayatan sembilu dihatinya kini menyiksanya kembali. Akhirnya ia keluar dari Bathtub itu kemudian membilas dirinya dibawah shower.


Kamu harus semangat Flo, tunjukkan pada dunia kalau kamu bisa!


Kamu harus kuat!


Ayah dan ibumu ingin kamu bahagia!


Gadis itu terus menstimulasi otaknya untuk bangkit dan tidak boleh lemah. Dibawah guyuran shower itu ia menggosok tubuhnya yang ia rasakan sangat kotor karena sentuhan pria bajingan itu.


Deg


Tangannya bergerak ke arah bagian bawah perutnya yang ia rasakan membuncit tidak seperti beberapa bulan yang lalu. Tiba-tiba saja rasa takut kembali muncul dari dalam hatinya.


Dua bulan ini Aku tidak mengalami periode. Apa mungkin Aku hamil?


Ah tidak. Itu tidak mungkin terjadi. Aku pernah mempelajari di sekolah kalau kehamilan terjadi pada perempuan itu tidak semudah itu terjadi.


Aku pun tidak mengalami hal-hal yang aneh seperti perempuan hamil pada umumnya.

__ADS_1


Semoga saja tidak.


Flower Michelin terus menerus membujuk hatinya untuk tidak memikirkan hal yang tidak-tidak. Ia harus kuat dan bahagia. Dan ia sangat berharap tidak ada sedikitpun benih dari pria bajingan itu yang tertinggal di dalam dirinya.


Setelah merasakan permukaan kulitnya sudah mengalami kerutan karena terlalu lama bermain air ia pun segera menyudahi mandinya. Ia keluar dari sana dengan perasaan kembali tenang dan ceria.


Dengan menggunakan seragam pelayan ia pun tampak sebagai seorang pembantu yang sangat cantik. Rambutnya ia ikat tinggi-tinggi dan menampilkan lehernya yang jenjang. Sapuan bedak tipis ia tambahkan pada pipinya yang putih kemerahan.


Hari ini adalah hari pertamanya bekerja sebagai pembantu di Rumah itu. Ia ingin membantu para Asisten Rumah Tangga memasak dan membersihkan Rumah. Dan juga ia ingin memberikan kesan ceria pada rumah yang begitu terasa kaku dan dingin.


"Selamat pagi Nona Micheline, anda sangat cantik," sapa Brenda Hudson tersenyum memandang wajah gadis yang sedang memakai seragam pembantu atau pelayan di Rumah itu.


"Terimakasih banyak Nyonya, Anda juga cantik," balas Flower Michelin dengan senyum cerah diwajahnya. Ia pun mendekati Brenda Hudson kemudian berbisik pelan.


"Jangan memanggilku Nona, panggil saja Aku Flo, setuju?" Perempuan tua itu langsung tertawa dibuatnya. Gadis ini begitu sangat ceria dan cukup bisa menghiburnya.


"Saya takut Tuan Muda marah Nona."


"Hey, Aku ini pembantu di rumah ini. Dan kurasa Aku tidak pantas diperlakukan sangat sopan seperti ini," ujar Flower dengan tatapan mata serius.


Brenda Hudson tersenyum kemudian mempersilahkan gadis itu melakukan apa saja keinginannya.


"Silahkan Nona. Lakukan apa yang anda mau. Anggap ini adalah rumah anda sendiri."


Semua pekerja di Rumah itu sudah mendapatkan ultimatum dari George, sang asisten kepercayaan bahwa Apapun yang ingin flower Michelin lakukan semua orang harus patuh dan jangan ada yang membantahnya.


"Baiklah, Nyonya Hudson. Aku akan menemui Tuan mu sekarang juga," ujar gadis itu kemudian membungkukkan badannya di depan kepala pelayan di rumah itu. Gadis itu pun melangkahkan kakinya dengan ringan ke arah kamar pribadi Frederico Patria.


Tok


Tok


Tok


Setelah mengetuk pintu berkali-kali ia pun masuk ke kamar itu atas perintah George yang sedang melewati kamar kamar itu.

__ADS_1


"Terima Tuan," ujar Flower kemudian memasuki kamar tidur pemilik rumah itu. Sebuah kamar yang luasnya sama dengan luas kamar miliknya. Kemewahan yang dimiliki kamar itu pun sama dengan yang ia miliki. Bedanya adalah ada nuansa maskulin yang sangat jelas pada ruangan yang sedang ia kunjungi saat ini.


"Selamat pagi Tuan," sapanya pada seorang pria yang nampak sangat tampan pagi itu. Frederico Patria sedang mengenakan kaos santai dengan celana jeans berwarna biru.


"Ah hai Flo. Selamat pagi. Sungguh kebetulan yang sangat menyenangkan. Aku sudah lama ingin meminta pertolonganmu," balas pria itu dengan senyum diwajahnya. Matanya berbinar-binar memandang wajah cantik gadis itu yang sedang tampil dengan seragam pakaian pembantu di Rumahnya.


Flower Michelin tersenyum. Entah kenapa, ia begitu senang saat ada orang yang meminta pertolongannya. Ia merasa jadi orang yang berguna di dunia ini.


"Apa yang bisa saya lakukan Tuan?" tanyanya seraya melangkahkan kakinya mendekat.


"Kamu lihat Aku sekarang, Aku akan menghadiri meeting besar di sebuah acara di pusat kota hari ini, tetapi aku bingung harus menggunakan pakaian yang cocok," ujar pria itu dengan wajah dibuat seperti seorang yang nampak sangat bingung dan frustasi.


Sebuah hal yang sebenarnya sangat tidak masuk akal terjadi pada seorang pengusaha sukses seperti dirinya. Akan tetapi inilah yang ia lakukan. Ia ingin tampak sangat membutuhkan perhatian dan pertolongan seorang gadis berusia 17 tahun itu.


Flower Michelin menatap pria tampan dan berbahaya itu dengan tatapan kasihan. Ekspresi yang ditunjukkan oleh Frederico Patria benar-benar bagaikan seekor serigala berbulu domba yang nampak sangat lemah dan tak berdaya.


"Hum baiklah. Aku akan membantu anda Tuan, meskipun usaha anda ini sangat mencurigakan menurutku," ujar Flower tersenyum seraya mengangkat jari telunjuknya dan menggoyang-goyangkannya di depan wajahnya.


"Terserah apa katamu Flo, yang penting kita bisa menghabiskan waktu berdua di dalam kamar ini sayang," gumam pria itu dengan suara yang sangat pelan. Ia pun mempersilahkan gadis itu untuk memasuki sebuah ruangan yang berisi semua perlengkapan pribadinya.


Ia pun duduk di sebuah kursi single dan memperhatikan gadis muda itu membuka lemari pakaiannya. Tampak sekali kalau Flower sangat sibuk memilihkannya perlengkapan yang akan dipakainya nanti.


Hatinya sangat bahagia karena gadis itu benar-benar sangat perhatian padanya.


"Ini sepertinya sangat cocok Tuan," ujar Flower seraya mengangkat selembar kemeja dihadapan pria itu. Frederico Patria dengan cepat menggelengkan kepalanya. Ia bukannya tidak suka dengan pakaian itu tetapi ia masih ingin berlama-lama dengan gadis itu berdua saja.


Sampai Flower Michelin merasa kelelahan karena semua yang ia pilih ditolak oleh pria itu. Gadis itu pun mengacak-acak isi lemari itu dengan emosi diwajahnya.


"Kalau tidak ada pakaian yang Ingin anda pakai, tidak usah mengunakan pakaian sekalian!"


🌺🌺🌺


*Tobe Continued.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2